BAB
IV
PENDIRIAN
NEGARA ISLAM
Khulafaur
Rasyidin berakhir setelah wafatnya Ali di tangan Khawarij dan naiknya Mu’awiyah
menjadi khalifah. Sejak 661 sampai 680 M, pada pemerintahan Mu’awiyah, bentuk pemerintahan
dan masyarakat Islam berubah secara mendasar. Tidak pernah ada solusi
perselisihan yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah. Setelah wafatnya Ali,
Mu’awiyah bebas memperlus kekuasaan dan menyatukan dunia Islam. Ia sangat
terkenal di Suriah, tetapi ia juga memiliki musuh di Irak. Mereka memilih
kekhalifahan diwariskan kepada Hasan, anak Ali. Mu’awiyah tidak ingin dunia Muslim
terlibat lagi dalam peperangan untuk memperebutkan kepemimpinan. Ia
menegosiasikan perjanjian dengan anak Ali untuk untuk menghancurkan oposisi.
Tetapi, Hasan menyerahkan kepemimpinan dan lebih memilih untuk menghabiskan
hidup dengan ibadah dan ilmu.
Mu’awiyah
memerintah seperti yang dilakukan oleh pemimpin suku Arab pra-Islam, yaitu
menggunakan hubungan keluarga, kode kehormatan tak tertulis, dan hadiah untuk
melancarkan politik. Hal ini dikarenakan ia tinggal di Mekah dan menyaksikan
ayahnya memimpin Quraisy. Tetapi, Mu’awiyah mengubah kekhalifahan menjadi
monarki. Ia tidak lagi mengikuti jejak empat khalifah pertama.Budaya raja dan
istana kini menjadi bagian dari kekhalifahan. Mu’awiyah memilih fokus dalam
memperluas batas-batas kekhalifahanuntuk mengurangi tekanan perpecahan.
Mu’awiyah mengirimkan pasukan untuk meneruskan peperangan melawan Kekaisaran
Byzantium. Akhirnya, pasukam Muslim bisa mengepung Konstantinopel, ibu kota
Byzantium. Dalam perang tersebut menyebabkan Abu Ayyub al-Anshari, sahabat
Nabi, gugur. Dia adalah orang yang memberikan tempat menginap pada saat Nabi
memasuki Madinah.
Ekspansi
masih berlanjut sampai Afrika Utara. Uqba bin Nafi mengendalikan daerah barat
Mesir. Ia adalah sahabat Nabi yang berasal dari Mekah. Pada 670 M, ia
diperintahkan ke Byzantium Afrika dengan 10 ribu tentara berkuda dan didukung
oleh suku lokal Berber yang baru masuk Islam. Byzantium lengah dengan medan
pertempuran lain, sehingga Uqba bisa masuk ke Tunisia modern tanpa ada perlawanan.
Pada 675 sampai 680 M, Uqba melanjutkan serangan ke barat. Menjelang 680 M,
pasukan Ummayah siap untuk melakukan penaklukan melintasi daerah Tunisia,
Algeria, dan Maroko modern menuju Samudra Atlantik, yang disebut Maghribi. Pada
680 M, setelah meninggalkan Qayrawan, Uqba maju dari pos Byzantium yang
terdepan sampai pos berikutnya tanpa adanya perlawanan. Orang Byzantium berbeda
jauh dengan Berber. Berber lebih dekat dengan orang Arab daripada orang Latin
dan Yunani. Seluruh suku Arab masuk Islam setelah Muslim Arab datang. Orang
Afrika Utara dengan Byzantium memiliki perbedaan yaitu ketuhanan dan
kemanusiaan.
Mu’awiyah
menunjuk Yazid, anaknya, sebagai penerus dan menuntut sumpah setia dari
orang-orang terkemuka di Damaskus, tepat sebelum ia wafat. Yazid belum pernah
mengenal Nabi dan para sahabat, tidak seperti ayahnya. Bahkan banyak rumor yang
beredar di Mekah dan Madinah tentang kehidupan Yazid. Karena rumor tersebut,
Abdullah bin Al-Zubair, anak Zubair memberontak. Permasalahan bertambah rumit
karena orang Irak ingin keturunan Ali menjadi khalifah di dunia Islam. Dukungan
diberikan kepada Husein, adik dari Hasan. Pada 890 M, Husein siap mendirikan
basis di Irak untuk menentang Umayyah di Suriah. Yazid mengirimkan guberbur ke
kota tersebut untuk memastikan penduduk tidak memberontak dia. Hal tersebut
mendesak penduduk agar tidak mendukung Husein. Padahal, Husein sangat mengandalkan
dukungan tersebut. Akhirnya ia pergi ke Kufa dengan sekitar tujuh puluh anggota
keluarga dan sahabatnya saja. Di padang Karbala, Husein dikepung dan dibunuh
bersama dengan pengikutnya oleh Yazid.
Pada
680 M, di Mekah, Abdullah mnggunakan oposisi terhadap Yazid saat melawan Bani
Umayyah. Pada 683 M, Yazid meninggal karena tidak bisa memadamkan pemberontakan
di Hijaz. Penerus Yazid adalah seorang anak muda yang hanya berkuasa selama
beberapa bulan saja hingga kematiannya. Abdullah menyatakan diri sebagai
khalifah. Dia mendapatkan sumpah setia dari penduduk Irak, Mesir dan Suriah.
Tetapi, Bani Umayyah mampu mengambil alih kekhalifahan di bawah Marwan, salah
satu keponakan Mu’awiyah. Di bawah Marwan dan Abdul Malik, anaknya, Bani
Umayyah mengambil alih kendali dan memadamkan pemberontakan Abdullah bin Al-Zubair
di Mekah pada 692 M.
Pada
akhir 600-an dan awal 700-an, Bani Umayyah melanjutkan perluasan wilayah
militer dan pertumuhan ekonomi. Pada 698, Khalifah Abdul Malik mengirimkan
pasukan untuk menaklukan Kartogo di Afrika Utara. Musa bin Nusayr, Gubernur
Umayyah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Tariq bin Ziyad, seorang Berber
yang masuk Islam. Pada awal 711 M, Tariq memimpin pasukan untuk menyerbu dari Jabal
Tariq menuju sepanjang selatan Spanyol. Penyerangan berhasil ketika Roderic dan
pasukan besar Visigothik sedang menghadapi pemberontakan Basque. Pasukan Tariq
berhasil mengalahkan Roderic dalam perang Guadalete. Roderic terbunuh dalam
pertempuran. Tariq melanjutkan pertempuran untuk menguasai ibu kota tua Toledo
dan kota-kota pun jatuh ke tangan Muslim. Selain Tariq, Musa, atasan Tariq,
juga menyebrang ke Spanyol untuk membantu panaklukan. Tariq adalah penakluk dan
Musa adalah konsolidator (orang yang memberikan kekuatan).
Tariq
dan Musa mampu menjadikan wilayah semenanjung di bawah kendali Umayyah, sejak
711 sampai 715 M. Perluasan wilayah tersebut melibatkan tidak lebih dari 10-20
ribu tentara. Pada 720 M, penyerbuan berlanjut dari Galia sampai bagian selatan
Prancis modern untuk menerapkan aturan Islam di Aquitaine dan Septimania.
Penyerbuan ke Galia pada 732 merupakan puncak penyerangan Islam yang pada waktu
itu Islam dipimpin oleh Abdul Rahman al-Ghafiqi, Gubernur Muslim Andalusia, dan
berhasil dikalahkan oleh pasukan Franks yang dipimpin oleh Charles Martel pada
perang Tours, di utara Prancis. Ibnu Qasim menjadi pemimpin di bawah pengawasan
Hajjaj bin Yusuf, Gubernur Irak. Pada 711 M, ia dikirim melintasi Persia dan
masuk benua India bersama dengan 6 ribu tentara Suriah. Pasukan Muslim mampu menguasai
setiap kota dengan perlawanan kecil yang dibantu oleh pejabat-pejabat kuil
Buddha.
Pasukan
Ibnu Qasim bertemu dengan Raja Dahir dalam peperangan di sepanjang Sungai Indus
dan akhirnya pasukan Muslim menghancurkan pasukan Sindhi. Dahir pun terbunuh
dalam peperangan. Pada pertengahan 700-an, kekhalifahan Umayyah menjadi
kerajaan terbesar di dunia. Ibnu Qasim memberikan kebebasan beragama bagi umat
Buddha dan Hindu, seperti kebebasan yang diberikan kepada umat Kristen dan
Yahudi. Kuil dan patung yang telah dihancurkan boleh dibangun kembali. Kelompok-kelompok
tersebut dibebaskan dari kewajiban militer tetapi harus membayar pajak
perseorangan atau Jizyah. Dan umat Muslim hanya membayar pajak tanah dan zakat.
Karena
jumlah non-Arab yang terus bertambah, maka ketidakpuasan dengan kebijakan pajak
akan berkembang. Karena hal tersebut, keluarga tua lain dari Mekah mengambil
alih kekhalifahan, yaitu Bani Abbasiyah. Nama Bani Abbasiyah berasal dari nama
Paman Nabi yaitu Abbas, yang merupakan kepala keluarga dari klan tersebut.
Mereka tinggal di sebelah timur Sungai Yordan. Pada awal 700-an, mereka menyebar
rumor bahwa salah satu keturunan Ali memindahkan hak kekuasaan kepada Bani
Abbasiyah. Rumor tersebut masih menjadi misteri. Pada 730-an dan 740-an,
diucapkanlah sumpah setia sekutu, di Damaskus. Bani Abbasiyah menjanjikan
masayarakat yang lebih setara di bawah kekhalifahannya dan menjamin peranan
yang lebih besar kepada keturunan Ali.
Pada
747 M, Bani Abbasiyah menyatakan pemberontakan terbuka, mengibarkan bendera
hitam di Kota Merv, Turkimenistan yang dipimpin Abu Muslim. Abu Muslim mengirim
pasukan ke Persia. Penduduk lokal Muslim di sana, bangkit untuk melawan Bani
Umayyah. Kufa yang menjadi pusat bagi para anti-Umayyah, mulai melawan Gubernur
Umayyah dan mengusirnya. Setelah kufa dibebaskan, calon khalifah Abbasiyah
yaitu Abu al-‘Abbas, dapat menyampaikan sumpah setia formal. Pada awal 750 M,
Abbasiyah berhasil mengalahkan Umayyah pada Perang Zab di Mesopotamia tengah.
Seluruh anggota keluarga Umayyah diburu dan dihukum mati, begitu pula dengan
Marwan, ia tertangkap di Mesir.
Hanya
ada satu anggota keluarga Umayyah yang berhasil lolos, yaitu Abdul Rahman. Dia
lolos dengan cara menyamar dan pergi ke Afrika Utara. Ia mendirikan negara
Umayyah di Andalusia yang jauh dari jangkauan Abbasiyah. Dan akan bertahan
selama 300 tahun. Ketika Abbasiyah berkuasa, kekhalifahan mereka tidak seperti
yang diharapkan. Bani Abbasiyah mengikuti tradisi kekuasaan yang dilakukan Bani
Umayyah, salah satunya adalah mereka mendukung keluarga Ali sebagai khalifah.
Pada 765, Al-Mansur, kalifah kedua, membangun ibu kota baru di antara Sungai
Tigris dan Eufrat, dekat Ctesiphon.
BAB
V
MASA
KEEMASAN INTELEKTUAL
Abad
kesembilan sampai ketiga belas, dunia Islam ditandai dengan adanya era
perkembangan ilmiah, religius, filsafat, dan kebudayaan. Kebudayaan Islam
terdiri atas banyak budaya, agama, dan tradisi intelektual yang beragam, mulai
dari Spanyol sampai India. Awal 800-an, Abbasiyah terbentang luas dari Atlantik
sampai Indus. Mereka mempunyai ibu kota yang jumlah penduduknya lebih dari satu
juta penduduk di Bagdad. Yang terdiri dari banyak budaya, mulai dari Yunani,
Koptik, Persia, dan India. Menurut pemikiran al-Ma’mun (813-833), khalifah
Abbasiyah ketujuh, bahwa masyarakat ideal dapat diwujudkan dengan ilmu
pengetahuan dan rasonalisme. Maka ia mendirikan sebuah institut pendidikan di
Bagdad yaitu Rumah Hikmah (Bayt al-Hikmah). Dalam institut ini, semuanya ada dalam
satu kampus, seperti universitas, perpustakaan, badan penerjemah, dan lab
penelitian. Ada beberapa hal yang membuat Rumah Hikmah unik : Pertama, ekspansi
kerajaan Muslim mampu menyatukan kelompok-kelompok yang berbeda. Kedua, bahasa
Arab menjadi bahasa perantara untuk menyatukan orang-orang dari latar belakang
yang berbeda. Ketiga, Islam memerintahkan untuk mencari ilmu.
Bagi
para ilmuwan Muslim, matematika merupakan ilmu suci. Tidak hanya itu,
pembelajaran matematika juga merupakan perjalanan religius. Muhammad bin Musa
al-Khawarizmi merupakan salah satu ilmuwan matematika Muslim terbesar. Ia
adalah orang Persia yang hidup dari 780 sampai 850 M. Penggunaan sistem angka
India merupakan salah satu kontribusi terbesarnya. Bukan hanya angka India (1,
2, 3, 4, 5, ...), Al-Khawarizmi juga menambahkan angka nol (0). Ia memiliki
karya monumental yaitu Buku Ringkasan Kalkulasi dengan Melengkapi dan
Menyeimbangkan, yang menjelaskan bahwa aljabar dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah sehari-hari. Aljabar berasal dari kata al-jabr, yang
artinya ‘melengkapi’. Selain al-Khawarizmi, ada matematikawan hebat lainnya. Ia
adalah Umar Khayyam, yang berasal dari Persia, hidup dari 1048 sampai 1131 M.
Umar Khayyam menemukan metode untuk memecahkan masalah persaman aljabar yang
variabelnya kelipatan tiga. Melalui aljabar, pelajaran trigonometri dan
kalkulus dapat dikembangkan.
Rumus
dan metode yang dikembangkan matematikawan Muslim menjadi dasar untuk
penelitian dalam hal perbintangan. Para astronom dikumpulkan untuk mempelajari
teori kuno Ptolomeus (orang yang menyusun peta dunia yang meliputi benua Asia,
Eropa, dan Afrika). Aspek kunci gagasan Ptolomeus adalah geosentrisme (sebagai
pusat) alam semesta, bumi diam dan yang bergerak mengelilingi bumi adalah semua
benda langit. Teori tentang bumi diam ini mulai dipertanyakan ketika astronom
Muslim menyadari bahwa perhitungan Ptolomeus dari gerakan planet dan bintang
itu cacat sehingga perlu adanya koreksi. Menurut al-Biruni, hal tersebut
terjadi karena tidak memperhitungkan gerakan bumi. Perdebatan ini menjalar ke
Eropa melalui terjemahan Latin dari karya al-Majriti. Setelah gagasan astronomi
menyebar ke seluruh benua, Kopernikus dan Galileo mengembangkan teori sebagai
fakta. Seperti aljabar, astronomi juga mempunyai penerapan yang praktis. Astrolobe
adalah alat yang digunakan astronomi untuk menentukan garis lintang dengan
menggunakan bintang, ditemukan oleh orang Yunani kuno. Astrolobe digunakan
sampai 1700-an sebagai standar navigasi.
Seperti
halnya astronomi yang tumbuh dari matematika, begitu pula geografi yang
berkembang dari astronomi. Ahli geografi dari kekhalifahan Abbasiyah
menghasilkan kesimpulan yang akurat dengan memanfaatkan trigonometri dan geometri
bola. Mereka menghitung diameter bumi sebesar 12.728 kilometer. Peta Yunani
Kuno dikembangkan dan diperbaiki. Peta terbaik adalah buatan Muhammad
al-Idrisi, ia tinggal di Sisilia pada abad kedua belas. Al-Idrisi berhasil
menghasilkan peta dunia dengan akurasi dan detail, bukan hanya berupa gambar
geografi fisik, tepai juga berisi deskripsi budaya, politik, dan masyarakat
yang pernah didatangi penjajah. Pertengahan abad kesepuluh, al-Mas’udi, ahli
geografi dan sejarah, menuliskan pelayaran Muslim Iberia dari pelabuhan Delba
sampai wilayah yang belum dikenal, pada 889. Di sana, mereka melakukan
perdagangan dengan penduduk lokal dan kemudian kembali pulang. Al-Idrisi juga
menuliskan laporan tetntang pelayaran Muslim selama tiga puluh satu hari
melintasi Samudra Atlantik dan mendarat pada suatu pulau yang tidak dikenal. Satu
laporan terakhir tentang pelayaran melintasi Atlantik berasal dari Mali.
Telah
ada tradisi kedokteran di dunia Islam yang menekankan studi empiris (berdasarkan
dengan pengalaman) dan profesi klinis (berdasarkan pengamatan klinik). Kemajuan
Islam di bidang kedokteran dicapai dengan mempelajari semua yang telah
diwariskan dokter Yunani kuno, Galen. Menurut Galen, penyakit disebabkan karena
tidak seimbangnya cairan yang ada di dalam tubuh, seperti darah, empedu hitam,
empedu kuning, dan lendir. Muhammad bin Zakariya al-Razi memiliki pendapat
lain. Ia menyimpulkan bahwa penyakit fisik bukan hanya akibat dari keseimbangan
cairan, tetapi juga disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan
eksternal. Ia membuat obat khusus untuk penyakit umum seperti batuk, sakit
kepala, dan sembelit. Ia meyakini bahwa mengobati dan merawat orang sakit,
sebagai usaha yang mulia untuk membantu orang yang membutuhkan.
Ada
dokter besar lainya yaitu Ibnu Sina. Ia merumuskan teori melalui rangkaian
peristiwa sebab dan akibat, maka semua hal yang ada dalam tubuh bisa diketahui
dan dipahami. Ia menyimpulkan bahwa penyakit bisa menyebar luas melalui udara,
air, atau tanah dan penyakit itu berbeda-beda sehingga harus ada penanganan
khusus. Dalam karyanya, Aturan Pengobatan, ia menekankan bahwa obat harus diuji
dengan kondisi terkontrol. Karya ini mendapatkan popularitas dan kehormatan
yang luas. Di dalamnya terdapat deskripsi tentang bius anastesi, kanker payudara,
rabies, toksin, borok, penyakit ginjal, dan tuberkulosis. Rumah sakit yang
pertama kali muncul adalah di Bagdad, pada awal abad kesembilan belas. Terdapat
puluhan dokter dan perawat, serta dokter spesialis dan ahli bedah. Rumah sakit
tersebut membantu orang-oarang yang membutuhkan, gratis bagi yang tidak mampu.
Ibnu
al-Haytaham (965-1040 M) adalah salah satu ilmuwan yang berasal dari Irak. Awalnya,
ia bekerja di pemerintahan Abbasiyah sebagai pegawai negeri, tetapi di
meninggalkan pekerjaan tersebut dan bergabung dengan pusat intelektual di
Kairo, ibu kota Kerajaan Fatimiyyah. Ia menjadi tahanan setelah berselisih
dengan penguasa Fatimiyyah. Tetapi hal itu menghadirkan berkah baginya dan bagi
bidang fisika. Ibnu al-Haytham mempelajari cahaya. Salah satu gagasannya
tetntang cahaya bersumber dari Ptolomeus. Ia memiliki pendapat bahwa cahaya
adalah sinar yang dipancarkan dari mata, kemudian membentur objek, dan kembali
ke mata sehinnga orang bisa melihat. Ibnu Sina membedah mata di Persia untuk
memahami bagaimana cahaya melintasinya, begitu juga dengan Ibnu al-Haytham, dia
juga melakukan penelitian yang sama di Mesir. Setelah melakukan penelitian dan
eksperimen, Ibnu al-Haytham menulis buku ‘Buku tentang Optik’, di mana dala
buku tersebut Ibnu al-Haytham berpendapat bahwa cahaya terdiri dari sinar-sinar
yang bergerak lurus. Ia merancang sebuah Kamera Obskura yang terdiri dari kotak
kedap cahaya dengan satu lubang kecil yang tembus ke belakang. Ia juga berhasil
memadukan bidang optik dan astronomi dalam perhitungan kedalaman atmosfer bumi.
Setelah ia meninggal, para ilmuwan melanjutkan penemuannya.
Tumbuhlah
ilmu pengetahuan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan empiris. Fikih
berlaku dalam segala hal seperti hukum kriminal, cara shalat, makanan / minuman
halal, dsb. Abu Hanifah (699-767), salah satu ulama pertama yang mengenalkan
gagasan bahwa logika rasional harus berperan dalam ilmu fikih. Ahli hukum kedua
adalah Malik (711-795) yang berasal dari Mekah. Ia percaya bahwa perilaku
orang-orang yang tinggal di Madinah bisa
dipertimbangkan sebagai sumber hukum. Ahli hukum ketiga adalah Muhammad
al-Syafi’i Maliki (767-820). Ia mempelajari tradisi Hanafi di Irak dan tradisi
Maliki di Madinah. Ahli fikih yang terakhir adalah Ahmad bin Hanbal (780-855).
Ia cenderung lebih fokus pada hadis untuk membantu mengembangkan ilmu fikih.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, berkembanglah empat mahzab fikih, yaitu
Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Keempat mahzab tersebut merupakan
penafsiran yang berbeda tentang Islam yang semuanya mengarah pada tujuan untuk
menjalankan semurni mungkin. Studi hadis menjadi lebih menonjol pada era
Abbasiyah. Hadirlah seseorang yang menyadari ancaman akibat keraguan tentang
hadis, ia adalah Muhammad al-Bukhari (810-870). Al-Bukhari dengan cermat
meneliti kehidupan orang-orang yang meriwayatkan hadis. Setelah melakukan
penelitian, ia menetapkan ada lebih dari 7000 hadis yang dianggap asli.
Teologi
Islam didasarkan pada keyakinan akan keesaan Tuhan dan ketegasan pesan Nabi
Muhammad, di mana Qur’an sebagai firman Allah dan hadis sebagai petunjuk yang
bersifat ketuhanan. Pendekatan keagamaan baru timbul pada pertengahan abad
kedelapan. Dalam pandangan umat Muslim, penggunaan logika dan filsafat sama
derajatnya dengan Qur’an. Sebagian menyatakan bahwa logika dapat
mengesampingkan wahyu. Kelompok tersebut disebut “Mu’tazilah”, yang artinya
‘yang memisahkan diri’. Ahmad bin Hanbal adalah pemimpin kaum tradisionalis
pada 800-an, yang mendirikan mahzab Hanbali. Ia dianiaya khalifah al-Ma’mun,
pelindung utama ideologi Mu’tazilah, tetapi tetap tegas memilih penafsiran
literal (harfiah). Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111) adalah pemikir tradisional
terbesar. Ia menguasai banyak argumen teologis setelah mempelajari Mu’tazilah
dan Ash’ari. Karyanya membantu mengembalikan arus aliran Mu’tazilah yang mundur
dan juga dilupakan.
Syi’ah
adalah kelompok yang meyakini Ali dan keturunannya paling berhak menjadi
khalifah. Kaum Syi’ah menganut paham imamah, yaitu pemahaman bahwa keturunan
Ali-lah yang paling berhak menjadi khalifah. Di mana Ali sebagai imam pertama
kemudian Hasan dan Husein yang kedua dan ketiga. Mereka menyebut bahwa Abu
Bakar dan pendukungnya adalah perampas kekuasaan, sehingga hadis yang mereka
sampaikan tidak dapat dipercaya. Aisyah, istri Nabi, dan Abu Hurairah,
tetangganya memberitahukan ratusan hadis yang terdaftar di Shahih al-Bukhari
kepada kaum Syi’ah. Tetapi, bagi kaum Syi’ah, hadis tersebut tidak dapat
dipercaya karena adanya dukungan politisnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Cabang
utama Syi’ah dikenal sebagai Ithna’ashariyyah, yang artinya Imam Dua Belas,
karena mereka meyakini bahwa setelah Nabi Muhammad, ada dua belas iman. Menurut
mereka, imam terakhir adalah Muhammad al-Mahdi , yang bersembunyi saat ia
berusia lima tahun pada 941 M.
Dimulailah
periode yang dikenal sebagai “Gaib Kecil”. Tetapi, pada 941 M, al-Mahdi pergi
ke “Gaib Besar” sehingga komunikasi dengan imam tidak dimungkinkan. Kelompok
lainnya mempercayai bahwa hanya Tujuh Imam, yang disebut “Sab’iyyah”. Kelompok
tersebut sukses dalam bidang politik dibanding kelompok Dua Belas Imam. Kebangkitan
negara-negara Syi’ah Tujuh Imam di Arab Timur dan Mesir, terjadi pada abad
kesepuluh. Kelompok Syi’ah yang mempercayai tujuh imam dikenal sebagai
Zaidiyyah. Pada awal 1500-an, Syi’ah kembali menjadi kekuatan utama di dunia
Islam saat kebangkitan Kerajaan Safavid.
BAB
VI
PERGOLAKAN
Setelah
300 tahun, Islam menyebar dengan cepat di seluruh Timur Tengah, Afrika Utara,
dan Persia. Dari abad kesepuluh sampai abad ketiga belas, Islam selalu mendapat
serangan. Yang melakukan teror di tanah Islam adalah Syi’ah, Pasukan Salib
Eropa, dan gerombolan Mongol, hal ini menyebabkan sebagian orang percaya bahwa
akhir zaman sudah dekat. Kaum Syi’ah berpendapat bahwa kepemimpinan dunia Islam
adalah milik para imam yang berhubungan khusus dengan Tuhan. Menurut kelompok
Dua Belas Imam, saat di mana imam kedua belas menghilang, maka saat itulah
mereka menunggu dengan sabar sampai dia kembali. Berbeda dengan kelompok Dua
Belas Imam, kelompok Tujuh Imam yakin bahwa Ismail, Imam Ketujuh, pergi
bersembunyi untuk menghindari penangkapan dari kekuasaan Abbasiyah pada
pertengahan 700-an. Mereka meyakini bahwa Ismail terus hidup bersembunyi, yang
biasa disebut “Ismailiyah”.
Bani
Abbasiyah melakukan segala hal untuk membasmi ancaman dari dari kaum Ismaili.
Hal tersebut membuat kaum Ismaili menjadi jauh dari jangkauan Abbasiyah. Sekitar
900 M, kaum Ismaili siap untuk menyerang kekuatan Suni. Pada 903 M, kelompok
Ismaili menyerang Suriah, yang biasa disebut ‘Qaramita’. Mereka merebut
Damaskus dan mengalahkan pasukan Abbasiyah. Pada 906, kaum Qaramita membantai
20 ribu jamaah haji yang sedang menuju ke Mekah. Kaum Qaramita menyerbu Mekah
kemudian membantai penduduknnya, dan mencuri Hajar Aswad dari Kakbah yang
kemudian dipindahkan ke Bahrain sampai 952 M. Kaum Qaramita menolak Mekah
sebagai tempat untuk beribadah haji sehingga mereka menyerang jamaah haji dan
Kota Mekah.
Pada
909 M, kelompok Islamiyyah menyatakan kemunculan kembali seorang imam yang
berasal dari keturunan Ismail, yang bernama Ubaidillah atau “al-Mahdi”, yang
berarti ‘yang mendapat petunjuk atau penyelamat’. Ia mendirikan dinasti yang
bernama : Fatimiyyah. Pada 909, ia mendeklarasikan diri sebagai khalifah dan
menentang otoritas Abbasiyah. Sekitar 920-an, pengaruh Fatimiyyah meluas dengan
cepat, misalkan menaklukkan Sisilia, bergerak ke timur menuju Mesir, dan
menjadikan Afrika Utara di bawah kendali mereka. Pertengahan abad kesepuluh,
kekhalifahan Abbasiyah menjadi tidak berdaya. Hal tersebut dikarenakan
desentralisasi politik yang menyebabkan turunnya kekuatan khalifah. Pada 945,
Dinasti Persia berhasil menguasai Irak dan memerintah atas nama kekhalifahan.
Sedangkan Mesir dikuasai oleh dinasti independen dari Turki yang bernama
Ikhshidiyyah. Fatimiyyah mengirimkan sekitar 100 ribu tentara untuk melawan
Ikhshidiyyah di Mesir. Mereka mengalahkannya dengan sangat mudah. Kemudian
Fatimiyyah mendirikan kota baru yaitu al-Qahira (Kairo) sebagai ibu kota di
sepanjang tepi Sungai Nil. Pada 970 M, didirikanlah sebuah Universitas Al-Azhar
untuk menyebarkan keyakinan Ismailiyyah di Kalangan mayoritas Suni di Mesir.
Universitas tersebut didirikan di Kairo.
pada
996-1021, khalifah al-Hakim atau “Khalifah Gila” melakukan usaha untuk
menyebarkan Ismailiyyah kepada masyarakat. Ia dibenci oleh hampir semua
golongan karena memerintah atas kehendak sendiri. Ia memerintahkan untuk
menghancurkan gereja dan sinagoge yang ada di wilayah kekuasaannnya, termasuk
Gereja Holy Sepulchre, tempat Nabi Isa dikuburkan. Jaminan keselamatan gereja
yang telah dibuat oleh Umar pada 637 M diabaikan dan tetap menghancurkan gereja
tersebut. Kaum Muslim juga dilarang untuk shalat berjamaah. Kaum Suni dilarang
memasuki kota Jerussalem, begitu pula dengan Kristen dan Yahudi. Pada 1021 M,
kekuasaan Khalifah Gila ini berakhie saat ia pergi ke gurun dan menghilang.
Pada 1095 M, terjadi
konflik selama 200 tahun yang akan mengubah Eropa Kristen dan dunia. Muslim
secara mendasar. Perang Salib dimulai dari Jerussalem di Asia Tengah. Orang
Turki melakukan migrasi setelah suku-suku nomaden keluar dari Asia Tenggara
kemudian masuk ke dunia Islam. Pada 1037 M, didirikan sebuah kerajaan terbesar
yaitu Kerajaan Seljuk.Seljuk berperan sebagai pelindung kekhalifahan yang bertahan
pada kubu di Bagdad. Seljuk mampu menyeimbangkan Fatimiyyah dan mencegah perluasan
daerah pada abad kesebelas. Pada 1071, Seljuk menang dalam pertempuran melawan Byzantium
di Anatolia timur. Hal ini membuat Byzantium tidak dapat mempertahankan Anatolia
secara utuh. Alexios, kaisar Byzantium, menyadari bahwa pihaknya tidak mampu untuk
memerangi Turki sendiri. Ia meminta bantuan kepada Paus Urban II. Tetapi Paus Urban
tidak mau membantu Alexios dan melawan Turki.
Pada 1096 dan 1097, pasukan
Urban bergerak menuju Eropa Timur dari Perancis, Jerman, dan Italia. Kaisar Alexios
tidak mengizinkan pasukan Perang Salib masuk ke Konstantinopel, karena ia takut
mereka akan merampas seperti yang dilakukan di kota-kota sepanjang perjalanan. Pada
akhir 1907M, pasukan tiba di Antioch. Kerajaan Seljuk Raya mengalami perpecahan
sebelum Perang Salib. Tidak hanya Seljuk Raya, kota-kota di Suriah seperti Damaskus,
Aleppo, Antioch, dan Mosul, juga mengalami perpecahan dan kepala pemerintahannya
terlibat dalam perang sepanjang 1090M. Setelah pasukan Salib berhasil merebut kota,
seluruh penduduknya dibunuh. Para emir Muslim, berusaha agar tidak terlibat konflik
dengan pasukan Perang Salib. Pada 1099, Pasukan Perang Salib mencapai benteng luar
Jerussalem.
Sejak bertahun-tahun, kota
Jerussalem dikuasai Fatimiyyah dan Seljuk. Pada 15 Juli 1099, pasukan Perang
Salib berhasil memasuki kota dan merebutnya dari pasukan Islam. Dan akhirnya
Jerussalem berada di bawah kendali Kristen. Seluruh penduduknya dibantai. Mereka
juga menghancurkan masjid dan sinagoge. Kekhalifahan Abbasiyah tidak berdaya sedangkan
emir Turki, Irak, dan Persia terlibat dalam perang saudara. Awal 1100-an, Timur
dan Barat bergabung di Tanah Suci. Pada 1090-an, pasukan Perang Salib pergi ke pantai
Suriah menuju Jerussalem, kapal-kapal pedagang Italia melindungi mereka di Maditerania.
Pada pertengahan 1100-an,
gejolak datang dari Bagdad, Damaskus, atau Kairo. Perlawanan tersebut datang dari
seorang emir Turki, 'Imad ad-Din Zengi, penguasa Kota Mosul di Irak. Zengi berharap
dapat membangun persatuan Suriah. Imad ad-Din Zengi meninggal pada 1146 sehingga
yang mengambil alih perjuangan untuk menyatukan Timur Tengah adalah Nur ad-Din Zengi,
anaknya. Pada 1149, ia berhasil menaklukkan wilayah di sekitar Antioch. Pada 1154,
ia berhasil menjatuhkan emir Damaskus dengan bantuan penduduk setempat. Kemudian
pada 1164, ia mengirimkan pasukan ke Mesir demi persatuan Islam dalam melawan pasukan
Perang Salib.
Masyarakat Mesir, menyambut
reformasi Saladdin dan menjalin hubungan yang baik dengan Suriah. Orang Mesir dan
Suriah meyakini perang antara Zengi dan Saladdin tidak bisa dihindari. Pada 1174
M, Zengi meninggal dikarenakan sakit, sehingga Saladdin bisa datang ke Suriah tanpa
ada perlawanan. Dalam Perang Hattin yang terjadi pada 1187, pasukan Saladdin
berhasil mengalahkan pasukan Jerusalem. Sikap Saladdin yang mulia selalau
diingat oleh pasukan Kristen. Ia melindungi Kristen dan juga memperbolehkan
untuk ziarah. Setelah Saladdin meninggal, daerah kekuasaannya berkembang
menjadi Dinasti Ayubiyyah. Setelah pembebasan Jerusalem oleh Saladin, Genghis,
seorang panglima militer, ia mampu menyatukan berbagai suku Mongol di utara
Tiongkok.
Genghis
Khan dan bangsa Mongol telah berubah menjadi kerajaan dunia. Setelah sekitar
sepuluh tahun, akhirnya Bangsa Mongol nomaden mampu menaklukkan dan menguasai
beberapa wilayah di Tiongkok Utara. Denghis Khan, menguasai daratan dari Korea
sampai perbatasan dunia Islam di Persia. Bangsa Mongol adalah orang nomaden
penunggang kuda yang tidak berkuasa pada pertanian, tetapi mampu membangun
kerajaan dunia, yaitu kerajaan yang membentang dari Eropa Tengah ke Korea dan
perbatasan India. Kerajaan Khwarezmian adalah salah satu negara Islam yang
berbatasan dengan Kekaisaran Mongol. Kedatangna bangsa Mongol di negara Islam,
merupakan awal dari kehancuran kebudayaan Islam di Persia, Irak, dan Suriah. Mereka
telah menghancurkan Bhukhara. Mereka juga menghancurkan kota tua Balkh dengan
membuang naskah le sungai Oxus. Bukan hanya itu, mereka juga menghancurkan Iran
dan Afganistan. Pada 1222 M, kerajaan Khwarezmian hancur total karena konflik
yang terjadi. Genghis Khan memilih untuk kembali ke Mongolia dan akhirnya
meninggal pada 1225 M. Setelah Genghis Khan meninggal, ia digantikan oleh Ogedai,
anak Genghis.
Pada 1237 M, pasukan
Mongol melintasi Rusia dan masuk ke Hungaria dan Jerman. Kemudian mereka
meninggalkan Eropa dan kembali ke Mongolia setelah Ogedai meninggal pada 1241
M. Mongol menghabisi Persia dengan menyerang Hashashin. Hulagu telah
menghancurkan Benteng Alamut pada 1256 M. Khalifah al-Musta’sim tidak akan
menyerah dan menerima kekuasaan Mongol. Pada 10 Februari 1258, pasukan Hulagu
berhasil merebut ibu kota kekhalifahan. Mereka menghancurkan Rumah Hikmah yang
didirikan oleh al-Ma’mun. Buku-buku dan tinta, dibuang di Sungai Trigis. Karya
tentang matematika, ilmu pengetahuan, geografi, sejarah, teologi, dan
yurisprudensi telah hilang untuk selamanya. Hanya sebagian karya saja yang
tersisa, yaitu karya ilmuwan besar pada Zaman Keemasan seperti Ibnu al-Haytham,
al-Biruni, dan Ibnu Sina.
Hulagu juga menangkap
khalifah yang kemudian dibungkus dengan karpet dan diinjak-injak oleh
penunggang kuda Mongol sampai meninggal. Mongol tidak akan berhenti sampai di
Bagdad, Hulagu terus maju sampai ke Suriah. Pada 1260 M, Kesultanan Mamluk muda
memberhentikan Mongol di utara Palestina. Akhirnya mereka berhasil mengalahkan
Mongol.
BAB VII
AL-ANDALUSIA
Pada pertengahan abad
ketujuh, penaklukan di Afrika Utara oleh Bani Umayyah, melambat beberapa waktu.
Pada 710-an, pintu penaklukan terbuka kembali ketika pasukan Muslim menuju
Semenanjung Iberia. Bagi umat Kristen, kekalahan murni menunjukkan bahwa Tuhan
kecewa dengan aksi yang dilakukan oleh Visigoth, sehingga Dia mengirim penyerbu
sebagai hukuman. Visigoth terlibat perang dengan pasukan Muslim. Akhirnya,
kota-kota di wilayah Visigoth menyerak kepada pasukan Islam. Suku Arab yang
datang ke Andalusia kebanyakan dari kalangna petani, dari Yaman. Sehingga
mereka banyak bermukim di wilayah yang subur seperti Kordoba, Valencia, dan
Zaragoza.
Pada
750 M, Abdul ar-Rahman melarikan diri dari Damaskus ke Pasukan Abbasiyah. Pada
755 M, ia mendapatkan dukungan dari keluarga Umayyah di Andalusia. Muslim Arab,
Berber, dan Hispanik, bergabung menjadi satu untuk menciptakan budaya yang unuk
bagi Andalusia. Pada 912 sampai 961 merupakan punjak kejayaan bagi negara
Umayyah di Spanyol yang terjadi pada pemerintahan Abdul Rahman III. Sama
seperti al-Ma’mun dari Abbasiyah, Abdul Rahman III juga menyukai seni dan ilmu
pengetahuan. Terdapat lebih dari 600 perpustakaan yang ada di ibu kota Kordoba,
yang berisi lebih dari 400 ribu koleksi buku. Orang Eropa pergi ke Andalusi
karena ingin menjad terpelajar. Tetapi bagi penduduk Andalusia, keindahan dan
penekanan pada ilmu pengetahuan memberikan beberapa konsekuensi negatif.
Sulaiman
II berhasil mengalahkan anggota Bani Umayyah yang pasukannya berasal dari
Kastilian dan Berber. Hal ini menyebabkan terjadinya balas dendam pada tahun
berikutnya. Kata ta’ifa berasal dari Qu’an yang bertujuan untuk memperingatkan
kepada Muslim agar selalu menciptakan perdamaian antara pihak yang berselisih
paham. Ketika para raja Ta’ifa berperang, hasilnya sangat ironis bagi Islam di
Iberia. Satu-satunya yang menjadi pemenang adalah negara bagian Kristen yang
ada di utara. Dalam sejarah hitam Andalusia, orang Islam membayar orang Kristen
untuk melawan orang Islam lainnya. Kekuatan Kristen dapat mengancam negara
Taifa karena berada di tengah-tengah Iberia. Setelah sadar bahwa raja Taifa
tidak bisa melawan dan bertahan lagi, maka ia meminta bantuan dari dunia Islam
lainnya. Pertolongan datang dari Afrika yang dikenal Murabitun.
Gerakan Murabitun, didirikan di gurun Maroko yang
menghubungkan Afrika Utara dengan kerajaan-kerajaan kaya di Afrika Barat. Hampi
seluruh suku Berber bernama Islam menjelang abad kesebelas. Pada abad
kesebelas, gerakan Murabitun berkembang tanpa adanya penaklukkan. Gerakan ini
meluas dari Afrika Utara ke Ghana, di afrika Barat, menjelang 1180-an.
Murabitun mengirim 12 ribu tentara yang dipimpin oleh Yusuf bin Tashfin, pada
1086. Tetapi hal ini bukanlah penaklukkan.
Murabitun
menaklukkan Andalusia pada 1090 M. Penaklukkan tersebut dipimpin oleh Ibnu
Tashfin. Akhirnya negara Taifa menyerah kepada Murabitun dalam waktu sepuluh
tahun. Pada saat pertama kali masuk ke Andalusia, Murabitun mampu mengalahkan
pasukan Kristen. Tetapi setelah itu, Murabitun kalah dan yang menang adalah
Kristen. Jatuhnya Murabitun diawali dari Afrika Utara, tempat asal mereka.
Muncul gerakan baru yaitu Muwahhidun yang berarti monoteis. Sepanjang 1120-1130
suku-suku Berber bergabung dengan gerakan Muwahhidun. Dengan adanya Muwahhidun,
Islam menjadi bangkit. Sebagian besar pola dari Muwahhidun, sama dengan pola
Murabitun. Muwahhidun dan Murabitun sama-sama berasal dari Maroko. Muwahhidun
mengalami kemunduran setelah terjadi konflik antar keluarga yang saling
memperebutkan kekuasaan di Andalusia.
Setelah jatuhnya
Muwahhidun, Andalusia mengalami kekalahan. Umat Islam yang datang ke Granada,
hal itu menandakan bahwa akhir kekuasaan Islam yang terjadi di Semenanjung
Iberia. Saat Granada menempuh masa keemasan Andalusia, lingkungan politik
melemahkannya sehingga mengalami kehancuran. Golongan ulama Granada menyatakan
bahwa Muhammad XII adalah seorang pemberontak Tuhan. Hal tersebut menyebabkan
bertambahnya turun Islam di Semenanjung Iberia.
Pada masa kepemimpinan
Muhammad II, hanya menambah kesengsaraan bagi Granada. Pada 1486, Muhammad
ditangkap oleh Castilia dan ditahan. Pasa saat ia sedang ditahan, ayahnya
mengambil kembali mahkota Muhammad. Muhammad II akhirnya dilepaskan dari
penahanan karena bersumpah setia kepada Kerajaan Kristen. Granada merupakan
satu-satunya kota yang masih dikuasai oleh Muslim di Semenanjung Granada,
menjelang 1490 M. Spanyol mulai mendekati kota Garanda, menjelang keruntuhan
Granada pada 1490 dan 1491. Granada berpindah ke tangan Spanyol secara resmi
pada 1 Januari 1492.
Sejarah politik yang ada
di Andalusia berakhir pada 1492 M. Sekarang ini, umat Muslim kehilangan
beberapa kedudukan sosial karena penguasaan yang berbeda. Orang Kristen mengajak
orang Islam untuk berpindah agama menjadi Kristen. Bagi mereka yang mau
berpindah agama menjadi Kristen, maka mereka akan mendapatkan hadiah, emas,
kuda, dan barang-barang berharga lainnya. Hal ini menyebabkan banyak dari orang
Islam yang berpindah agama menjadi Kristen, pada 1492 M. Francisco Jimenez de
Cisneros melecehkan, menyiksa, dan menangkap bagi mereka yang tidak mau
berpindak agama Kristen. Muslim Granada tidak dapat menahan diri lagi. Mereka
menentang usaha-usaha de Cisneros.
Saat pemberontakan padam,
menjelang 1502, Kristen melarang Islam berada di Spanyol. Mereka diberi tiga
pilihan yaitu memilih untuk pergi dari Spanyol, pindah agama menjadi Kristen,
atau memilih untuk mati. Akhirnya, Muslim seluruh Spanyol memilih untuk pindah
agama menjadi Kristen. Tetapi setelah pindah agama Kristen, mereka tetap saja
hidup di bawah tanah. Mereka tetap hidup seperti Muslim rahasia di rumah mereka
sendiri.
Pada 1511, dekrit
kerajaan menyatakan bahwa menyembelih binatang berdasarkan hukum Isalm itu dilarang.
Pada 1513, bagi perempuan tidak boleh menutup muka. Merisco dilarang pergi ke
pemandian umum, dilarang untuk menutup pintu pada hari minggu untuk memastikan
bahwa tidak ada yang menjalankan ibadah Islam secara sembunyi-sembunyi. Apabila
ada prnikahan, maka pernikahan tersebut harus didatangi oleh orang Kristen lama
agar tidak melakukan pernikahan dengan hukum Islam.
Pada 1526, Merisco
dipaksa untuk berbicara menggunakan bahasa Castilis di manapun berada, karena
apabila berbicara menggunakan bahasa Arab termasuk perbuatan yang melanggar
hukum. Secara keseluruhan, mereka gagal dalam menghilangkan keyakinan tentang
Islam dari kebanyakan orang Merisco. Penduduk Merisco dipaksa untuk pergi ke
pantai karena mereka akan dibawa ke Afrika Utara dan seluruh desa Merisco
dikosongkan. Mereka diizinkan untuk membawa barang-barang mereka sebanyak
mungkin, tetapi Spanyol menyita tanah mereka.
Terjadi pemberontakan di
selatan Spanyol, dan pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan setelah Merisco
pergi. Terdapat laporan bahwa, ada orang Merisco yang berhasil mempertahankan
Islam di Spanyol secara sembunyi-sembunyi.
BAB VIII
TEPI
Setelah wafatnya Nabi,
umat Muslim memilih untuk tinggal di kota-kota sepanjang pantai Mediterania.
Dari kota tersebut, Islam mulai menyebar ke selatan melintasi Gurun Sahara. Mereka
melakukan penyebaran Islam dengan berdagang. Mali adalah kerajaan Islam yang
ada di Afrika Barat, yang didirikan oleh Sundiata Keita atau ‘Sang Raja Singa’,
pada 1200-an.
Kerajaan yang didirikan
oleh Sundiata di Afrika Barat tumbuh menjadi kerajaan yang paling kaya dan
paling kuat pada masa itu. Mali berada dalam keadaan makmur ketika Mansa Musa
berkuasa. Ia memerintah dari 1312 sampai 1337. Pada 1324 M, Mansa Musa
melakukan perjalanan haji ke Mekah. Rombongannya berangkat dari sabana Afrika
Barat yang diiringi oleh 60 ribu pengiring.
Raja ditemani oleh 12
ribu orang yang memakai jubah sutra mahal dan membawa dua kilogram emas yang
berasal dari tambang emas Mali. Unta-unta juga membawa tas yang berisikan pasir
emas yang nantinya dibagikan kepada masyarakat miskin. Saat tiba di Mesir,
gubernur lokal terkesan dengan raja. Mereka melihat bahwa raja sangat saleh,
tidak pernah melupakan shalat, dan menguasai Qur’an.
Pada 1320-an, orang Arab,
Persia, dan Andalusia pergi ke Mali bersama dengan Mansa Musa untuk membentuk
masyarakat Afrika dengan pengaruh nyata dari dunia Islam yang lainnya. Pusat
keilmuan baru bangkit di sabana Afrika Barat, setelah hancurnya Rumah Hikmah
Bagdad. Pusat keilmuan tersebut adalah Timbuktu, yang terletak di perbatasan
Gurun Sahara.
Tidak membutuhkan waktu
lama bagi penduduk yang ada di pantai Afrika Timur untuk mengenal Islam.
Seperti yang terjadi di Afrika Barat, Islam berkembang di sepanjang pantai
Samudra Hindia di Afrika melalui jalur perdagangan. Para pedagang yang berasal
dari Jazirah Arab, terutama wilayah Hadramaut di Yaman, mulai bertempat tinggal
di kota-kota yang berada di sepanjang pantai Afrika Timur setelah Yaman msuk
Islam.
Saat melakukan
perdagangan, para pedagang menggunakan Swahili, yang merupakan bahasa asli di
Afrika Timur. Menurut Ibnu Battuta, kota di sepanjang pantai bukan hanya
menjadi pusat perdagangan, tetapi juga menjadi pusat keagamaan. Afrika akhirnya menyebarkan Islam di Amerika
Utara dan Selatan. Ketika kolonialisme Eropa datang ke Dunia Baru, pada 1492,
berkembanglah kebutuhan akan tenaga kerja untuk membangun kolonial Eropa di
Amerika.
Mereka memperbudak
penduduknya sendiri tetapi gagal. Banyak sekali penduduk yang terkena penyakit
dari orang Eropa, yang menyebabkan meninggal. Kemudian koloni Eropa menjadikan
penduduk kulit hitam sebagai budak mereka. Penduduk dibawa paksa untuk bekerja
sebagai budak di Dunia Baru. Mereka bekerja di perkebunan di Karibia dan Amerika
Selatan.
Pada abad keenam belas,
sampai kesembilan belas, pemahaman tentang Islam di kalangan budak mulai
menghilang. Perbudakan yang terjadi selama berabad-abad, memberikan dampak bagi
budak Muslim di Amerika. Pada pertengahan 1800-an, di Amerika Serikat, hampir
tidak ada Muslim yang memahami tentang Islam. The Nation of Islam, kelompok
agama, yang bertujuan untuk memajukan masyarakat kulit hitam di Amerika.
Menjelang 1960, Malcolm X dan W.D. Muhammad memimpin ribuan orang Afrika dan
Amerika untuk kembali pada pemahaman Islam yang lebih umum.
Tiongkok tidak sepenuhnya
menerima Islam. Kaum Muslim masih menjadi minoritas di sana. Awal mula Islam di
Tiongkok yaitu pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Tetapi, Islam baru diterima
pada 700-an. Migrasi yang dilakukan umat Muslim ke Tiongkok, membuat jumlah
pemeluk Islam menjadi bertambah. Warga Tiongkok memiliki identitas : Hui. Hui
adalah grup etnis mayoritas Tiongkok, tetapi berbeda dalam identitas keagamaan.
Zheng He – Cheng Ho (1371-1433), Muslim Tiongkok yang terkenal, yang menjadi
penjajah terbesar. Ia berasal dari wilayah Yunan di Selatan.
Cheng Ho adalah simbol
Islam di Tiongkok : Tionghoa asli, Tetapi ia juga Muslim, dan tidak ada
pertentangn antara kedua identitas tersebut. Kehadiran bangsa Turki di dunia
Islam, mendesak kekuatan Islam untuk lebih jauh ke India. Tercatat bahwa yang
pertama kali memimpin ekspedisi militer ke India adalah Mahmud dari Ghazni
(997-1030).
Mahmud telah meletakkan
dasar-dasar Islam di India. Sejak 1206 sampai datangnya Mughal pada 1526,
Kesultanan Delhi memerintah sebagian dari India. Dinasti berikutnya adalah
Ghurid, yang meluaskan wilayah mereka ke India, dengan cara merebut Delhi pada
1192. Kesultanan Delhi menjaga India agar tetap terikat dengan dunia Islam,
meskipun dipisahkan oleh ribuan kilometer pegunungan tinggi di Himalaya dan
Hindu Kush.
Islam sudah ada sejak
awal 600-an, tetapi perlu adanya perlindungan entitas politik Islam untuk
menyebarkan Islam. Golongn Sufi pergi ke seluruh India untuk berdakwah. Ulama yang
berasal dari Arab dan Persia, mereka berkeliling untuk menyebarkan Islam agar
mendapat banyak pengikut. Islam mampu mendapatkan pengikut dari seluruh India,
melalui gabungan dari dakwah para ulama dan perdagangan yang dilakukan di
Gujarat dan Bengali.
Tetapi, jumlah pengikut
Islam, tidak pernah melampaui populasi Hindu. Pengaruh pedagang dan pendakwah,
semakin kuat ke arah timur, di Kepulauan Melayu. Sebelum peralihan masa, Buddha
dan Hindu telah berkuasa di Asia Tenggara. Pengaruh India ke wilayah ini, adalah
pengaruh dari Kerajaan Buddha Sriwijaya di Pulau Sumatra dan Kerajaan Medang di
Jawa.
Setelah Islam berada di
kalangan penduduk India, maka pedagang dan pendakwah menyebarkan Islam ke Asia
Tenggara. Raja-raja tertarik untuk masuk Islam karena faktor ekonomi yang
dihadirkan. Setelah para penguasa masuk Islam sekitar 1100-an, kerajaan Muslim
mulai muncul di kepulauan tersebut. Islam mulai menyebar melalui penguasa
Muslim. Pendakwah menyebarkan Islam kepada penduduk melalui cara yang sama
seperti yang dilakukan oleh Kesultanan Delhi.
Pendakwah di Asia
Tenggara, kebanyakan berasal dari pinggran Samudra Hindia yaitu Yaman. Yaman
merupakan pusat ajaran Syafi’i, sehingga mahzab fikih yang menonjol di Afrika
Timur, pesisir India, dan Asia Tenggara adalah Imam Syafi’i. Sebaliknya, India
utara menganut mahzab Hanafi yang terkenal di Persia dan Asia Tengah. Samudra
Pasai adalah kerajaan Islam pertama yang didirikan pada 1200-an. Waktu itu,
Marco Polo sedang mengunjungi dan melihat ciri-ciri Islam di kota pelabuhannya.
Di sekitar 1400 M, Islam
menyebar ke Timur sampai Kerajaan Malaka. Kerajaan ini, merupakan kerajaan
terpenting di wilayah tersebut karena Malaka berpengaruh pada wilayah
sekitarnya. Bahasa dan adat Melayu diterima seluruh kerajanan yang mengaitkan
seluruh wiyah seperti Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Identitas Melayu
berkaitan dengan identitas Islam, di mana ketika seseorang masuk Islam, maka
orang tersebut sudah ‘masuk Melayu’.
BAB IX
KELAHIRAN KEMBALI
Menurut Ibnu Khaldun,
sejarawan dan filsuf abad keempat belas, setiap dinasti memiliki jangka waktu
hidup yang alami. Tahun-tahun pertama dinasti diwarnai dengan pertumbuhan yang
terbuka atau bebas. Generasi kedua, pertumbuhannya mulai melambat. Kemudian
menjelang generasi ketiga, terjadi kehancuran dinasti.
Akibat dari serangan
Mongol, Turki melarikan diri dan mengungsi di daerah perbatasan dunia Islam.
Mereka dengan cepat bisa beradaptasi di mana saja, termasuk bekas kekuasaan
Byzantium. Seljuk telah mengalahkan Byzantium di Perang Manzikert pada 1071.
Sejak saat itulah, Antonio terbuka bagi penaklukan dan pemukiman bangsa Turki,
dan dia dikuasai oleh beberapa dinasti Turki yang ada di seluruh semenanjung.
Beylik atau negara-negara kecil , biasanya didirikan oleh pemimpin militer yang
disebut bey. Bey yang telah mengatur negara tentara kecil yang ada di pinggiran
Kekaisaran Byzantium bernama Osman. Osman mampu mengambil keuntungan dari
kelemahan Byzantium dan mengincar perluasan daerah ke wilayah Byzantium. Pada
1299, pendirian Ottoman (nama Turki untuk Kerajaan Osman) dilakukan. Kota-kota
Byzantium di Anatolia, merupakan pusat perkotaan yang mapan dengan dibenteni
pertahanan yang kuat.
Pada awal 1300-an,
orang-orng Byzantium disibukkan dengan kekacauan sipil di Balkan, sehingga
tidak mampu menahan Ottoman dalam meluaskan daerah mereka. Ottoman dengan
sangat cepat dan mudah meluaskan daerah kekuasaannya. Ottoman menyeberangi
Selat dardanella dan masuk ke Eropa untuk pertama kali pada 1350-an. Sultan
Orhan dan Murad I, anaknya, mampu menegakkan kekuasaan Ottoman di sebagian
Thrace dengan memanfaatkan perpecahan Byzantium. Periode terbaik dalam
perluasan wilayah Ottoman, terjadi pada zaman Bayezid (1389-1402) sultan
keempat. Ia memiliki nama julukan Yildrim yang berarti ‘halilintar’. Ia
memperluas wilayah di Eropa pada 1800-an dan menaklukkan Serbia, Bulgaria, dan
Yunani. Meskipun Ottoman tidak memiliki teknologi atau jumlah pasukan yang
banyak, tetapi Halilintar berhasil mengepung Konstantinopel. Ottoman merupakan
kerajaan terkuat di Eropa dan dunia Islam. Timur adalah pemimpin Mongol yang
menguasai Asia Tengah dan Persia. Ia ingin mengembalikan kekuasaan Mongol di
Anatolia dengan menghadai Ottoman.
Pada 1402, terjadi Perang
Ankara di mana dua pemimpin militer besar Beyezid dan Timur bertemu. Mongol
berhasil mengalahkan Ottoman pada perang tersebut. Halilintar tertangkap dan
dibawa ke iu kota kekuasaan Timur yaitu Samarkand. Kekaisaran Ottoman mengalami
perang saudara, setelah sebelas tahun. Anak Beyezid yang bernama, Isa, Musa,
Suleiman, dan Mehmet membangun pasukan dan saling berselisih di Eropa dan Asia.
Mereka ingin menjadi pewaris kerajaan ayahnya. Hal tersebut akan menjadi
masalah, sehingga Sultan Ahmad I merumuskan kebijakan resmi pada abad ketujuh
belas. Tetapi pada awal 1400-an, anak-anak sultan bertempur sampai mati. Mehmet
menjadi pemenang dan mampu menyatukan wilayah kerajaan di bawah kendalinya,
pada 1413. Setelah Mehmet menyatukan kekaisaran pada 1410-an, periode
dilanjutkan dengan sedikit rasa sakit akibat masa kosong di mana pemerintahan
tidak berfungsi.
Ottoman, di bawah
pimpinan Sultan Murad II, terus merampas wilayah Byzantium sehingga hanya
tersisa Konstantinopel dan sekitarnya. Murad gagal merebut Konstantinopel
karena benteng kota yang kuat. Akhirnya Mehmet II, anaknya menerima untuk menaklukkan
kota tersebut. Saat berusia sembilan belas tahun, Mehmet II naik tahta pada
1451. Mehmet mampu menguasai 6 bahasa asing yang digunakan di wilayah
kekuasaannya. Mehmet mengingatkan pemimpin Islam sebelumnya seperti, Harun
al-Rasyid, dan Saladdin, yang menguaai pengetahuan, kepemimpinan, serta
kecakapan dalam militer. Ada dua hal yang mengganggu pikiran Mehmet. Pertama,
ia belum berpengalaman, kedua, Konstantinopel.
Konstantinopel masih
menjadi kota yang sulit untuk diterobos. Kota ini dikelilingi oleh air, dan
daratannya dibentengi oleh Dinding Theodosian yang dibangun pada 400-an. Mehmed
perlu adanya tehnik dan pasukan yang baru agar bisa berhasil. Ia membangun
benteng di pinggirang Selat Bosphorus yang dibangun di seberang benteng Bayezid
I, kakek buyutnya. Dalam pertempuran ini, Mehmet mengerahkan semuanya. April
1453, pasukan Mehmet tiba di kota Konstantinopel. Setelah perjuangan yang
begitu luar biasa, akhirnya penaklukkan berhasil dilakukan. Pada 29 Mei 1453,
pasukan Islam akhirnya berhasil menaklukkan kota Konstantinopel tersebut. Mehmet
“Sang Penakluk”, menjadikan kota ini menjadi ibu kota pemerintahan.
Mehmet terus melakukan
perluasan wilayah Ottoman secara militer. Bendera Ottoman berkibar di Serbia,
Bosnia, Moldova, dan Albania. Perluasan wilayah militer dan ekonomi dilanjutkan
oleh penerusnya yaitu Sultan Beyezid II dan Salim I. Ottoman mengalahkan
Dinasti Safavid di Persia dan merampas Kesultanan Mamluk di Mesir dalam
pimpinan Salim I. Masa keemasan Ottoman pada masa Sultan Suleiman dari 1520
sampai 1566, tidak diragukan lagi. Suleiman mampu mengubah sistem hukum Ottoman
tanpa adanya saingan kekuatan politik, militer, dan ekonomi. Kekuasaan beralih
kepada Salim II, saat Suleiman meninggal pada 1566.
Asal mula Safavid sama
dengan Ottoman, hanya saja cara pandang dunia dan struktur keagamaannya yang
berbeda. Konflik antar keduanya membantu menentukan susunan keagamaan Timur
Tengah sampai sekarang. Persia memasuki periode anarkisme politik, setelah
kemunduran dan jatuhnya kerajaan Timur pada 1400-an. Perkembangan kekuatan
Safavid serta pandangan keagamaan pada akhir 1400-an, mendapatkan perlawanan
dari pangeran-pangeran Suni di Persia. Pada 1488, pemimpin Safavid terbunuh dan
digantikan oleh Ismail. Pada 1501, ia merebut kota Tabriz dan akan
menjadikannya sebagai ibu kota pemerintahannya. Pada 1514, Salim menyerbu
wilayah Safavid untuk menghancurkan Ismail dan pasukannya. Mereka bertemu di
Chaldiram, dekat ibu kota Tabriz. Tetapi, Salim tidak dapat merampas wilayah
Safavid. Kerajaan Safavid mencapai puncak kejayaan pada pimpinan Shah Abbas I,
cucunya, yang memerintah sejak 1587 sampai 1629.
Kerajaan Mughal didirikan
oleh Babur (1483-1530), penakluk Turki yang berasal dari Asia Tenggara. Ia
mengaku sebagai keturunan Genghis Khan dan Timur. Ia yakin bahwa ia akan
memimpin kerajaan besar. Tetapi, awal kepemimpinannya di Uzbekistan tidak
terlalu berhasil. Ia kehilangan kontrol atas kota utama Samarkand dan tanah
nenek moyangnya di Lembah Fergana, sehingga ia harus mengucilkan diri bersama
dengan sekelompok kecil pengikut. Ia menyerang kesultanan Delhi yang dipimpin
Dinasti Lodhi, pada 1542. Kerajaan Mughal memperluas wilayahnya ke seluruh anak
benua India, pada akhir abad keenam belas. Kerajaan Mughal menyatukan beragam
manusia dan tradisi, seperti yang dilakukan Kerajaan Ottoman.
Minar Sinan, seorang
murid arsitek dari Ottoman, pergi ke Kerajaan Mughal untuk ikut berpartisipasi
dalam pembangunan Taj Mahal. Pada masa Kaisar Akbar, susana pencampuran budaya
telah mencapai puncaknya. Akbar merumusakan sendiri teori keagamaan yang ia
sebut sebagai Din-e Ilahi atau “Agama Tuhan”. Tetapi, Din-e Ilahi tidak pernah
terkenal. Kemudian Mughal diteruskan oleh Aurangzeb, kaisar Mughal ketujuh yang
berkuasa di puncak Mughal. Ia mendapatkan gelar Alamgir, Penakluk Dunia, karena
kekuasaan militernya di seluruh dunia. Aurangzeb tidak setuju dengan
pembangunan Taj Mahal oleh ayahnya yaitu Shah Janan. Ia menganggap bahwa hal
tersebut pemborosan dan bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad.
Ottoman, Safavid, dan
Mughal dikenal sebagai Kerajaam Mesiu. Kerajaan yang pertama kali memanfaatkan
mesiu dan meriam adalah Kerajaan Ottoman, yang kemudian disusul oleh Safavid
dan Mughal. Kekhalifahan dipegang oleh Ottoman, tetapi para ulama menyetujui bahwa
setiap wilayah memiliki khalifah sendiri-sendiri. Ada beberapa surat yang
dikirimkan kepada Raja Mughal, dengan gelar khalifah, Amir al-Mu’minin yang
artinya ‘Pemimpin Mukminin’, dari sultan-sultan Ottoman. Yang paling terkenal
terjadi pada masa pemerintahan Abdul Hamid II, yang berasal dari Ottonom, pada
akhir abad kesembilan belas.