Selasa, 13 Februari 2018

SEJARAH ISLAM YANG HILANG



RESUME BUKU
SEJARAH ISLAM YANG HILANG
Dosen Pengampu : M. Endy Saputro, M.A.

Disusun oleh :
Nama : Musta’nifatul Fauziyah
NIM : 175221077
Kelas : AKS 2 B



JURUSAN AKUNTANSI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA
AJARAN 2017/2018




BAB I

ARAB PRA-ISLAM
            Apabila kita mendengar kata Arab, pasti yang ada di pikiran kita adalah padang pasir yang kering dan panas. Di mana tidak ada tetumbuhan maupun pemukiman yang menetap di lingkungan tersebut. Salah satunya adalah Hijaz. Hijaz merupakan wilayah yang bergunung dan berbukit pasir yang kering dan terletak di bagian barat semenanjung Arab. Terlebih lagi pada saat musim panas, suhunya bisa mencapai lebih dari 37 derajat Celcius. Meskipun dalam keadaan seperti itu, pada awal 600-an M, dibentuk sebuah gerakan baru yang mampu mengubah sejarah Semenanjung Arab dan dunia.
            Arab berhubungan dengan tiga benua Dunia Lama di antaranya Asia, Afrika, dan Eropa. Banyak orang luar yang mengabaikan Arab meskipun berada pada lokasi yang strategis. Orang Mesir Kuno tidak meluasakan wilayah mereka ke padang pasir Arab, tetapi memilih meluaskan wilayah mereka ke Bulan Sabit Subur dan Nubia. Kekaisaran Roma menyerang semenanjung melalui Yaman pada 20-an M, tetapi mereka tidak dapat beradaptasi dengan wilayah semenanjung yang penuh dengan dataran pasir yang kering dan panas sehingga mereka gagal untuk menguasai semenanjung.
Keadaan iklim di Arab sangatlah panas, sehingga banyak orang luar yang mengabaikan Arab. Bahkan bagi para suku nomaden yang tinggal di sana, mereka mengatakan hal yang sama. Meskipun ada hujan musiman pada musin gugur, tetapi gurun tetap kering dan panas sepanjang tahun dikarenakan hujan tidak bisa sampai ke gurun Arab karena terhalang oleh dataran tinggi. Wadis berfungsi sebagai jalur air hujan yang mengalir dan bermanfaat sebagai sumber air bagi pertumbuhan tanaman musiman yang ada di Arab. Tetapi setelah musim hujan berakhir, wadis kembali kering seperti biasanya dan tidak lagi menjadi sumber air.
Selain wadis, ada juga tempat yang bisa menjadi sumber air yaitu oasis. Oasis adalah tempat subur kecil yang ada di gurun. Oasis bisa digunakan untuk tempat tinggal komunitas kecil dan juga digunakan untuk singgah bagi orang yang bepergian. Kebudayaan Arab sama halnya dengan kebudayaan lainnya. Di mana kebudayaan terbentuk atas kebiasaan yang dilakukan orang Arab atau dibentuk oleh lingkungan tempatnya berkembangan. Orang Arab selalu berpindah-pindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lain hanya untuk mencari daerah yang subur yang bisa dijadikan tempat tinggal bagi kelompoknya. Mereka menghabiskan musim panas di sekitar oasis ataupun sumur dengan menerapkan hidup hemat, yaitu menjaga bahan makanan dan persediaan air. Mereka akan bermigrasi ke selatan, dekat Yaman, tempat di mana turunnya hujan pada musim semi dan tanah subur untuk ternak mereka. Mereka juga membangun tenda sebagai pemukiman sementara selama musim dingin.
Setelah musim dingin berakhir dan kembali musim kering, maka orang Arab kembali ke oasis dan sumur untuk  melanjutkan kehidupan mereka. Hal tersebut menjadi kebiasaan yang dijalani orang Arab Badui yang masih hidup di padang pasir Arab. Orang Arab pergi bersama-sama dengan sekelompok keluarga yang dipimpin oleh kepala suku atau shaikh. Pada masa Arab pra-Islam, identitas dan asal suku sangat penting sehingga anggota suku akan mendapatkan kenyamanan dengan adanya perlindungan, dukungan, dan kesempatan ekonomi. Terjadi peperangan antar suku yang sangat mengerikan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Perang terjadi untuk mempertahankan salah satu anggotanya dan memperebutkan tanah berumput dan binatang ternak. Bagi mereka perjuangan tersebut harus terus dilakukan untuk bertahan hidup.
Orang Arab sulit sekali mendapatkan sumber daya dan waktu untuk membuat patung dan lukisan kebudayaan Mesir kuno dan Yunani. Tetapi niat mereka membuahkan hasil, mereka menemukan bentuk baru yaitu bahasa. Di Arab puisi menjadi seni de facto (sesuai dengan fakta) di mana syair panjang yang menceritakan riwayat perjuangan adalah karya seni terbesar mereka. Orang Arab menghormati syair yang digantung di dinding Kakbah Mekah. Syair tersebut adalah tujuh syair terbaik pra-Islam yang biasa disebut mu’allaqat.
            Orang Arab pra-Islam hampir semuanya mempercayai politeis (adanya lebih dari satu Tuhan). Tradisi Islam meyakini bahwa Nabi Ibrahim dan Ismail anaknya, membangun Kakbah di Mekah sebagai tempat untuk menyembah satu Tuhan, tetapi sebenarnya Kakbah dibangun oleh Adam. Dari Kakbah, Ismail bisa menyampaikan ajaran monoteisme (percaya kepada satu Tuhan) kepada bangsa Arab. Tetapi anak-cucu Ismail menyimpang ajaran monoteisme tersebut. Mereka membuat patung untuk menampilkan sifat-sifat Tuhan. Orang Arab masih menganggap bahwa Ibrahim dan Ismail adalah Tuhan (Allah). Tetapi mereka mempercayai bahwa Tuhan (Allah) itu satu. Sistem kepercayaan tersebut melenceng dari ajaran yang telah diajarkan oleh Ibrahim dan Ismail dan mencerminkan pengaruh terhadap agama Sumeria ke bagian utara. Masyarakat Kristen dan Yahudi yang terpencil masih berada di semenanjung Arab dan mereka masih menghormati Ibrahim dan Ismail.
            Bangsa Romawi menjadi penguasa di sepanjang perbatasan utara semenanjung pada dekade awal Masehi. Romawi menumpas pemberontakan Yahudi di Provinsi Suriah Palestina dan menahan mereka di wilayah tersebut. Hal ini memberikan dampak positif bagi bangsa Arab Badui, mereka menganggap telah hadir mitra dagang kaya dan kuat di sebelah utara. Para pedagang memperdagangkan barang-barang dari Yaman ke Suriah. Berdirinya Dinasti Sassanid di Persia pada 200-an M menimbulkan persaingan panjang antara bangsa Romawi dan Persia dan berdampak pada bangsa Arab. Batas antara dua kekaisaran  besar ini biasanya di Gurun Suriah, semenanjung Arab sebelah utara. Mereka saling berusaha untuk lebih unggul dengan memanfaatkan suku-suku yang beragama Kristen di Arab.
Akhirnya persekutuan ini berkembang menjadi negara sekutu. Penguasa Sassanid mendirikan kerajan yang terdiri dari Yordania, Suriah, dan Palestina. Begitu pula dengan Lakhmids yang mengontrol Mesopotamia selatan dan melayani Persia. Peperangan terjadi terus menerus sehingga melemahkan Romawi dan Persia pada awal 600-an. Mereka bersembunyi di balik kekuatan militernya. Terdapat kerajaan Aksum yang kuat di Abbysinia, Ethiopia. Aksum adalah negara perdagangan yang menghubungkan kerajaan-kerajaan di pedalaman Afrika, rute laut Samudra Hindia, dan bagian selatan Semenanjung Arab.
Aksum adalah kekaisaran Kristen yang pernah bersaing dengan Persia. Salah satu konflik yang terjadi adalah pengendalian perdagangan melalui Yaman. Pada awal 600-an muncul sebuah gerakan yang akan mengubah nasib bangsa Arab selamanya, dengan membangun dan memanfaatkan kemampuan mereka serta membuang perilaku budaya negatif. Faktor geografi, iklim, dan politik memberikan dampak positif bagi bangsa Arab. pada awal 600-an, pertumbuhan kekuasaan dan kebudayaan dicapai dari seseorang yang mengirim pesan revolusioner dan berjanji bagi nasib bangsa Arab, beliau adalah Muhammad.


BAB II

KEHIDUPAN SANG NABI
Nabi Muhammad lahir sekitar 570 M di Mekah. Ia berasal dari klan Bani Hashim, bagian suku Quraisy yang mengendalikan Mekah yang merupakan pusat perdagangan dan agama di Semenanjung Arab. Mekah berkembang bebas tanpa ada pengaruh dari asing. Mekah menjadi lokasi Kakbah dan menjadi tempat beribadah haji bagi bangsa Arab dari seluruh penjuru Semenanjung Arab. Muhammad adalah anak yatim piatu. Ayahnya yang bernama Abdullah, wafat sebelum ia lahir. Saat itu ayahnya sedang melakukan perjalanan ke Kota Yasrib untuk berdagang. Ibunya yang bernama Aminah, wafat pada saat Muhammad berumur enam tahun. Kemudian Muhammad dirawat oleh Abdul Muttalib kakeknya. Dua tahun kemudian kakeknya wafat dan Muhammad dirawat oleh pamannya yaitu Abu Thalib.
Muhammad berasal dari suku Quraisy yang kaya. Tetapi ia hidup dalam kesederhanaan. Saat kecil, ia menemani pamannya berdagang ke Suriah. Ia mendapatkan dua julukan yaitu as-Sidiq dan al-Amin, yang artinya “yang benar” dan “dapat dipercaya”. Ia mendapatkan julukan tersebut karena ia pedagang yang jujur. Ia pun dihormati orang-orang Quraisy. Pada usia dua puluh tahun, Muhammad menjadi pedagang yang suskses dan bekerja sama dengan janda kaya yaitu Khadijah. Pada usia dua puluh lima tahun, Khadijah melamar Muhammad dan lamarannya itu diterima oleh Muhammad meskipun usia mereka terpaut jauh. Muhammad hidup bersama orang-orang Quraisy yang menyembah patung (politeistis), tetapi Muhammad tidak mengikuti ajaran agama tersebut. Ajaran Ibrahim dan Ismail tidak sepenuhnya hilang, masih ada yang mempertahankan ajaran tersebut yang dikenal sebagai hunafa yang berarti “penganut monoteis”. Hunafa tidak menerima ratusan tuhan-tuhan kayu dan  batu, begitu pula dengan Muhammad. Muhammad lebih memilih menyepi di sebuah gua di atas gunung yang berjarak lima kilometer dari pusat Kota Mekah, dari pada terlibat dalam penyembahan patung. Di sana, ia merenungkan masyarakat dan agama di Mekah.
Pada 610 M, saat Muhammad di dalam gua, ia didatangi seorang malaikat yang memerintahkan, “Bacalah!” Kemudian ia menjawab bahwa ia buta huruf (tidak bisa membaca). Kemudian malaikat memerintahkannya lagi untuk membaca. Muhammad kembali menjawab tidak bisa. Sampai tiga kali malaikat memerintahkannya untuk membaca, dan ia tetap menjawab bahwa ia tidak bisa. Akhirnya malaikat membacakan ayat-ayat Qur’an yang pertama diturunkan : Q.S. Al-‘Alaq [96] : 1-5. Muhammad mengulangi kata-kata tersebut, kemudian malaikat mengatakan bahwa dirinya adalah Jibril, malaikat yang diperintahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa  untuk menyampaikan wahyu kepada Muhammad dan Muhammad adalah utusan Allah. Muhammad kaget dan takut mendengar kata-kata tersebut, akhirnya ia bergegas pulang ke rumah karena tidak mengetahui apa maksud dari perjumpaannya dengan malaikat Jibril tersebut.
Khadijah mempercayai cerita Muhammad. Begitu pula dengan sepupunya, ia langsung menerima Muhammad sebagai rasul, seperti halnya dengan Musa dan Isa sebelumnya. Akhirnya Muhammad hidup sebagai seorang Nabi pembawa pesan Tuhan. Khadijah langsung memeluk Islam pada saat itu juga. Nabi langsung mengajak kawan terdekat untuk beragama Islam. Abu Bakar (teman dekatnya), Ali (sepupu), dan Zaid (pembantunya), menghormati dan mempercayai Muhammad sebagai nabi. Mereka memberitahukan kepada kalangan terdekat mereka untuk memeluk agama Islam dan perlahan pemeluk agama Islam mulai bertambah. Dakwah pertama Nabi Muhammad dilakukan secata sembunyi-sembunyi. Kemudian turun ayat-ayat yang disampaikan kepada masyarakat, yaitu Q.S. Al-Humazah [104] : 1-4. Muhammad mempercayai bahwa hanya ada satu Tuhan.
Mekah menjadi pusat kehidupan religius bagi bangsa Arab. Orang-orang Arab pergi ke Mekah untuk ziarah dan menghormati ratusan patung yang ada di sekitar Kakbah. Orang Quraisy memanfaatkan kesempatan ini untuk berdagang. Mereka mengambil keuntungan dengan berdagang. Ajaran Nabi Muhammad untuk menolak berhala dan lebih meningkatkan keimanan kepada Tuhan. Tetapi ini bukan berita yang bagus bagi kaum Quraisy. Apabila tidak ada berhala maka tidak ada ziarah, dan apabila tidak ada ziarah maka kaum Quraisy tidak bisa melakukan perdagangan lagi di Mekah. Karena hal tersebut, mereka tidak bisa mengungkapkan agama Islam kepada para pemimpin suku. Komunitas muslim sangatlah kecil dan lemah, mengingat bahwa sebagian besar penganut awal berasal dari orang-orang kalangan bawah.
Komunitas Muslim menjadi lebih besar karena bertambahnya penganut agama Islam, sehingga peluang ketahuan akan semakin tinggi. Ketika sekelompok penyembah berhala melihat sekelompok Muslim sedang shalat, mereka langsung mencela kaum Muslim. Monoteisme, keadilan sosial, kesetaraan, dan ketundukan kepada perintah Tuhan, semuanya mengancam kaum Quraisy. Para pemimpin Quraisy ingin menghindari gerakan religius dan sosial dengan cara menyingkirkan Muhammad. Budaya Arab tua menyatakan apabila Nabi Muhammad terbunuh, maka angotanya diizinkan untuk balas dendam dan akan menjadi perang saudara. Suku Quraisy mengancam dan menganiaya  para pengikut Nabi Muhammad agar mereka patah semangat dan tidak bergabung dengan agama Islam. Bahkan kaum Quraisy juga mencegah penyebaran agama Islam di luar Kota Mekah.
Raja Kristen, Negus menjanjikan perlindungan kepada para pengungsi Muslim yang melarikan diri ke Abyssinia. Mengetahui hal tersebut, Quraisy mengirim utusan untuk mengejar para pengungsi dan meyakinkan sang raja untuk mencabut perlindungan yang diberikan untuk kaum Muslim. Tetapi pada saat raja mendengar  Ja’far, sepupu Nabi, membaca ayat-ayat Qur’an, ia menolak untuk mencabut perlindungan kepada kaum Muslim. Akhirnya utusan Quraisy kembali ke Mekah tanpa membawa umat Muslim. Pada 617 M, Quraisy menerapkan boikot terhadap Bani Hashim. Mereka dipaksa untuk menjauh ke tempat di luar Mekah. Hal ini berakibat buruk bagi komunitas Muslim. Mereka kelaparan, isolasi sosial (dikucilkan), dan kesulitan ekonomi. Beberapa Muslim yang bukan berasal dari Bani Hashim, membantu dengan mengirimkan bahan makanan kepada Bani Hashim.
Akhirnya boikot tersebut sudah mulai tidak efektif lagi untuk menghentikan Nabi Muhammad dalam berdakwah. Setiap kali Quraisy melakukan pencegahan, semakin banyak orang yang masuk Islam. Tetapi boikot tersebut tetap menimbulkan dampak buruk. Quraisy melakukan penganiayaan terhadap umat Muslim, salah satunya Khadijah, istri dari Nabi Muhammad yang wafat pada 619 M. Tak lama setelah itu, Abu Thalib, paman dari Nabi Muhammad sakit dan kemudian wafat. Nabi Muhammad memutuskan untuk mencari kota lain yang masyarakatnya mau menerima dan menganut agama Islam. Akhirnya Nabi Muhammad memilih Ta’if sebagai tempat untuk menyampaikan dakwahnya. Ta’if dipimpin oleh suku Taqhif dan berjarak enam pulih lima kilometer ke arah tenggara Kota Mekah.
Pada saat Nabi berada di Ta’if, ia bertemu dengan tiga bersaudara yang memimpin suku tersebut. Tetapi mereka menolak permintaan Nabi agar mereka masuk Islam. Bahkan mereka juga menolak memberikan perlindungan kepada Nabi. Saat Nabi akan kembali ke Mekah, sekelompok orang Ta’if menghina dan melempari Nabi dengan batu hingga berdarah. Dan kemudian Nabi kembali ke Mekah. Nabi menyadari perlu adanya perubahan yang mendalam agar Islam bisa bertahan. Peluang perubahan tersebut datang dari kota Oasis yaitu Yasrib. Pada tahun 610-an M, dua suku utama Yasrib yaitu Aws dan Khazraj terlibat dalam perebutan kekuasaan. Nabi Muhammad telah dikenal di Yasrib sebagai orang yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan. Sehingga pada tahun 620, Yasrib menawarkan emigrasi kepada Nabi Muhammad untuk menjadi pemimpin dan penengah dalam perselisihan mereka.
Nabi Muhammad setuju dengan tawaran tersebut. Ia memerintahkan pengikutnya untuk melakukan perjalanan ke Yasrib, tempat di mana tidak ada penindasan dari Quraisy. Pada 622, Quraisy berencana akan membunuh Nabi Muhammad sebelum ia keluar dari Mekah, karena pada saat itu ia bersama Abu Bakar adalah orang terakhir yang meninggalkan Mekah. Tetapi Nabi Muhammad dan Abu Bakar bisa menghindari rencana Quraisy, sehingga mereka berhasil melakukan perjalanan ke Yasrib. Di Yasrib atau biasa disebut Madinah, Nabi bisa menyebarkan Islam tanpa harus khawatir dengan penindasan dari Quraisy. Kaum Muhajirin terdiri dari kelompok yang beragam dan tidak ada perlindungan dari klan atau suku. Sedangkan kaum Ansar dari suku Aws atau Khazraj, terlibat peperangan di oasis tersebut. Dalam pandangan Nabi Muhammad, tidak peduli dari mana mereka berasal, setelah mereka memeluk Islam maka mereka telah menjadi bagian komunitas baru berdasarkan keyakinan bersama bukan keturunan.
Tata politik dan sosial baru Nabi Muhammad di Madinah disusun dalam naskah yang disebut Piagam Madinah. Piagam Madinah menjelaskan bahwa Madinah akan menjadi negara berdasarkan hukum Islam. Ummat sebagai unit politik dan Nabi Muhammad sebagai penengah utama. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad di Mekah dan di Madinah berbeda. Di mana ayat-ayat dan surat yang diwahyukan di Madinah lebih panjang daripada di Mekah. Qur’an memberikan panduan umum tentang bagaimana umat. Sedangkan hadits adalah segala tindakan dan kata-kata Nabi Muhammad. Banyak ayat Madiniyyah yang menjelaskan tentang kisah nabi terdahulu, seperti Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, dan Isa. Dan juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir.
Meskipun nabi telah hijrah ke Madinah, tetapi konfliknya dengan Quraisy belum selesai juga. Kaum Muhajirin masih merasakan perlakuan Quraisy kepada mereka dan kaum Ansar berani untuk melawan Quraisy. Tetapi, mereka belum mendapatkan izin dari Nabi untuk memerangi Quraisy. Mengingat bahwa peraturan di Semenanjung Arab sangat rumit, sehingga kaum Muslimin tidak berperang dengan Quraisy. Tetapi, keadaan berubah setelah Nabi Muhammad mendapakan wahyu yang didalamnya menegaskan bahwa pengikut telah diizinkan untuk berperang dengan kaum Quraisy (Al-Hajj, [22] : 39-40).
Pada 624 M, kaum Muslim mengerahkan pasukan sekitar 300 orang untuk mencegah kafilah Quraisy yang melintasi Madinah. Tetapi pasukan Muslim tidak bisa mencegah rombongan kafilah yang jauh lebih besar. Di Perang Badar, pasukan Madinah mendapatkan kesempatan untuk pertama kali melawan Quraisy yang selama ini telah menindas mereka. Meskipun dalam jumlah yang sedikit, tetapi kaum Muslim yang dipimpin oleh Hamzah, paman Nabi, bisa mengalahkan pasukan Mekah dan membawa banyak tawanan. Kaum Quraisy tentu tidak akan menerima kekalahan ini. Pada tahun berikutnya, mereka membawa pasukan yang lebih besar menuju Gunung Uhud untuk mengganggu kaum Madinah dengan merusak lahan pertanian mereka. Nabi Muhammad bermaksud akan melawan kaum Mekah, tetapi ada sekelompok orang yang tidak setuju dengan keputusan Nabi. Mereka memilih untuk mennggalkan lahan dan akan mempertahankan kaum yang ada di Madinah. Akhirnya, Nabi membawa pasukan yang lebih kecil.
Pasukan Mekah yang dipimpin oleh Khalid bin Walid merhasil mengalahkan pasukan Muslim. Hamzah, pemimpin pasukan Muslim, gugur dalam perang ini dan tubuhnya dimutilasi oleh orang-orang Quraisy. Bahkan Nabi Muhammad beserta pasukannya sempat dikepung dan mereka terluka. Lima tahun setelah hijrah, pasukan Mekah mengepung kota Madinah dengan bantuan salah satu suku Yahudi Madinah, yaitu Bani Qurayza. Tetapi kali ini Quraisy dan Yahudi tidak berhasil. Atas saran dari Salman, imigran Persia, Nabi Muhammad memerintahkan untuk menyusun parit di sekeliling kota untuk menghalangi kepungan pasukan Mekah. Perang Parit ini akhirnya membuat pasukan Mekah mundur. Karena Bani Qurayza telah melanggar perjanjian Piagam Madinah, maka mereka harus dihukum.
Setelah Madinah aman, Nabi Muhammad membuat perjanjian dengan Quraisy. Pada 628, ia mengirimkan 1500 tentara ke Mekah. Tujuan mereka ke Mekah adalah untuk menjalankan ibadah haji. Quraisy merundingkan perjanjian dengan Nabi Muhammad yang disebut Perjanjian Hudaibiyyah. Mereka setuju untuk meninggalkan Mekah selama tiga hari agar kaum Muslim bisa menjalankan ibadah haji pada tahun depan. Mereka juga berjanji tidak ada peperangan selama sepuluh tahun. Nabi Muhammad memanfaatkan waktu  istirahat dari konflik untuk mengembangkan Islam ke luar Madinah tanpa ancaman. Ia bebas mengirimkan pendakwah ke seluruh Semenanjung Arab dan juga di luar, seperti Byzantium dan kekaisaran Persia di utara. Suku-suku Badui dengan sendirinya masuk Islam. Begitu pula dengan Khalid bin Walid dan Amr bin As, dua pemimpin pasukan Mekah yang juga bergabung dengan Nabi Muhammad setelah adanya Perjanjian Hudaibiyyah.
Ternyata perjanjian tersebut tidak sepenuhnya dipenuhi. Sekutu Quraisy menyerang sekutu Nabi Muhammad di luar Kota Mekah. Karena hal ini adalah pelanggaran atas perjanjian yang telah dibuat, maka Nabi Muhammad memerintahkan sekutu-sekutu barunya untuk bergabung. Pada 630 M, pasukan Muslim yang berjumlah sekitar sepuluh ribu, berbaris menuju kota Mekah. Ratusan berhala dihancurkan dan menjadikan Mekah sebagai tempat untuk menyembah satu Tuhan. Akhirnya mereka menyerah. Saat penaklukan Mekah, Nabi Muhammad berusia sekitar enam puluh tahun. Ia kembali ke Madinah setelah menaklukan Mekah. Ia telah berjanji akan memimpin umat Muslim dari oasis selama delapan tahun. Pada awal 632 M, ia menjalankan ibadah haji untuk yang terakhir kali. Waktu itu Nabi berkhotbah di depan ribuan pengikutnya dan memperingatkan agar menghindari penindasan, memperlakukan perempuan dengan baik, dan meninggalkan persaingan.
Pada 632 M, awal musim panas, Nabi Muhammad jatuh sakit. Ia terbaring lemah karena sakit kepala dan demam sampai tidak mampu berjalan tanpa bantuan sepupunya, Ali, dan pamannya, Abbas. Ia menunjuk sahabatnya, Abu Bakar untuk menjadi imam, karena ia tidak bisa menjadi imam karena sedang sakit. Hari-hari terakhirnya dihabiskan di rumah, dengan kepala berada di pangkuan Aisyah. Anggota keluarga dan sahabat datang menjenguk, berharap bisa melihat tanda-tanda kesembuhan Nabi Muhammad. Pada 8 Juni 632, Nabi Muhammad wafat.


BAB III

KHULAFAUR RASYIDIN
Wafatnya Nabi Muhammad menimbulkan kesedihan yang mendalam di Madinah. Tetapi, wafatnya Nabi Muhammad memunculkan pertanyaan bagaimana kepemimpinan di Madinah. Bahkan, sebelum jenazah Nabi dimakamkan, sekelompok tokoh utama dari kaum Muhajirin dan Ansar berkumpul untuk merundingkan masalah tersebut. Perbedaan pendapat dalam kelompok dapat menyebabkan perpecahan umat. Ada yang memberikan usul adanya dua negara, yang satu dipimpin orang Ansar dan yang satunya dipimpin orang Muhajirin. Akhirnya Umar mencalonkan Abu Bakar menjadi pemimpin politik negara di Madinah. Umar memilih Abu Bakar karena, setelah Khadijah, Abu Bakar-lah yang kemudian menerima Nabi dan menganut agama Islam. Ia juga menemani Nabi Muhammad pada saat hijrah ke Madinah. Bahkan ia ditunjuk oleh Nabi Muhammad untuk menjadi imam shalat di saat hari-hari terakhir hidup Nabi Muhammad.
Pada 632, Abu Bakar mendapat julukan Khalifat-ul-rasul yang artinya “Penerus Utusan Tuhan” atau disingkat khalifah. Khalifah diharapkan bisa melindungi dan mempertahankan agama serta mengajak orang untuk menganut Islam. Khalifah juga diharapkan menjadi pemimpin yang cakap dan mampu mengendalikan masalah yang terjadi. Abu Bakar mengirimkan pasukan ke Suriah selatan untuk bertempur dengan Byzantium sebagai balas dendam, sesuai dengan tujuan politik Nabi Muhammad. Tetapi,  ekspedisi ini mendapat ancaman dari gurun pasir sebelah timur di Madinah. Berbagai suku Badui yang baru masuk Islam mulai melawan. Alasan mereka adalah mereka bersumpah setia pada Islam dalam kekuasaan Nabi Muhammad. Dan setelah Nabi Muhammad wafat, sumpah tersebut telah hilang.
Muncul sejumlah orang yang mengaku sebagai Nabi, salah satunya adalah Musailamah. Akhirnya Abu Bakar mengambil tindakan dengan mengirim pasukan ke timur untuk menumpas pemberontakan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Kekuatan Musailamah tidak sebanding dengan kemampuan militer Khalid. Pemberontak mundur dan Musailamah gugur dalam peperangan. Pada 633, perang melawan kemurtadan telah berakhir dan seluruh Arab bersatu kembali menjadi negara Muslim. Perang ini memberikan teladan yang berkaitan dengan masa depan Islam. Pertama, Nabi Muhammad ditetapkan menjadi Nabi yang terakhir, sehingga tidak ada Nabi setelahnya. Kedua, hanya ada satu negara Muslim, kekhalifahan, dipimpin oleh satu pemimpin. Ketiga, kekuasaan pemerintah telah ditetapkan.
Masa kekhalifahan Abu Bakar melestariakan Qur’an dalam bentuk tulisan sangatlah penting. Pada masa Nabi, banyak yang ditugaskan untuk menulis wahyu Qur’an yang baru diturunkan kepada Nabi Muhammad. Tetapi naskah-naskah tersebut tidak disatukan dalam bentuk buku, melainkan potongan-potongan yang tersebar. Hal ini dikarenakan hanya ada sedikit yang bisa membaca sehingga mereka menyebarkan Islam dengan lisan. Umar menyarankan agar seluruh naskah dikumpulkan, hal ini untuk berjaga-jaga apabila para penghafal Qur’an meninggal. Abu Bakar menjalankan rencana tersebut dan mengumpulkan naskah Qur’an di Madinah.
Abu Bakar wafat pada 634 M. Abu Bakar menjadi khalifah selama dua tahun yaitu dari tahun 632 sampai wafatnya pada 634 M. Kepemimpinan Abu Bakar selama dua tahun tersebut, menumbuhkan teladan tentang peran khalifah dalam umat Islam. Salah satu teladan terakhir Abu Bakar adalah pemilihan penerusnya. Ia menunjuk Umar bin Khatab sebagai penerusnya. Umar termasuk orang yang masuk Islam pertama kali seperti Abu Bakar. Ia juga menemani hijrah Nabi dan ia selalu bersama Nabi dalam peperangan maupun peristiwa besar di Madinah. Maka tidak ada penolakan atas pengangkatan dirinya sebagai khalifah. Kini Jazirah Arab telah bersatu di bawah perintah Usman. Selama berabad-abad, orang Arab mempertahankan hidupnya dengan menyerang suku saingan dan merebut harta rampasan perang. Tetapi sekarang sudah berbeda. Mayoritas orang Arab beragama Islam dan Islam telah menegaskan bahwa menyerang suku tetangga bertentangan dengan hukum Islam. Pada tahun terakhir kehidupan Abu Bakar, serangan ke Mesopotamia yang dikuasai oleh Sassanid telah dimulai. Abu Bakar mengirimkan pasukan pertama, untuk memastikan keselamatan perempuan, anak-anak, orang tua dan melarang untuk menghancurkan tanaman.
Pada 633, pasukan dikirim ke Suriah dan Mesopotamia. Khalid bin Walid memimpin pasukan yang dikirim ke Persia, sedangkan Yazid, anak Abu Sufyan memimpin pasukan yang dikirim ke Suriah. Dengan cepat, ia mampu mengalahkan Byzantium di dekat Gaza. Peperangan antara pasukan Byzantium dengan pasukan Muslim dalam perang Ajnadayn, berlangsung sekitar tiga puluh kilometer di bagian barat Jerussalem. Pasukan Muslim mampu mengalahkan pasukan Byzantium. Pasukan Byzantium yang tersisa, menyerang Jerussalem, Caesarea, dan Gaza yang sudah dibentengi dengan baik. Pada September 635, pasukan Muslim yang dipimpin oleh Khalid mengepung kota tua Damaskus, yang akhirnya kalah. Setelah berperang, mereka membuat perjanjian bahwa hidup, harta, dan agama mereka akan dilindungi apabila mereka membayar upeti mereka kepada pemerintah Islam. Setelah kehiangan Damaskus, Kaisar Byzantium mengumpulkan kekuatan yang lebih besar, dengan maksud ingin mengalahkan pasukan Arab agar mereka kembali ke gurun.
Pada musim panas 636 M, pasukan Heraclius menyusul pasukan Muslim ke Yarmuk. Akhirnya pasukan Muslim mengalahkan pasukan Byzantium dengan cara membawa mereka keluar dari medan peperangan. Kaisar Heraclius dipaksa untuk mengakui kekalahan di Suriah saat tidak memiliki pasukan atau uang. Akhirnya kota-kota di Suriah satu per satu beralih tangan. Dan pada 638 M, penaklukan Suriah berakhir. Pertempuran melawan Byzantium berlanjut di Mesir, yang relatif lebih cepat, ditaklukkan pada 642 M. Dua wilayah Byzantium yang paling berharga dan makmur, telah berhasil direbut. Dalam beberapa tahun, Suriah berubah menjadi provinsi Kekaisaran Muslim yang baru.
Pasukan kekaisaran tidak bisa lagi masuk ke Tanah Suci Kristen, dan juga tidak memperoleh keuntungan dari wilayah tersebut. Bagi penduduk lokal Suriah, kekalahan Byzantium tidak berpengaruh pada kehidupan sehari-hari. Gereja tetap buka, petani tetap mengelola tanahnya, dan kafilah pedagang tetap melintas seperti biasanya. Umar melakukan perjalanan secara pribadi dari Madinah ke Suriah, untuk membantu administrasi di wilayah tersebut. Salah satu tindakannya adalah memberhentikan Khalid bin Walid dari posisinya. Sejarawan Muslim menyebutkan alasan atas pencopotan Khalid, yaitu Umar ingin membuktikan bahwa yang menjadi penyebab kemenangan mereka bukan Khalid, tetapi Allah.
Umar menunjuk Mu’awiyah, putra bangsawan Mekah Abu Sufyan, untuk menduduki jabatan gubernur di provinsi baru ini. Mu’awiyah berasal dari keluarga Umayyah yang kaya dan kuat. Garis keturunan ini, akan membuat Mu’awiyah mengubah Suriah menjadi pusat ekonomi dan politik Islam selama dua puluh tahun kedepan. Pada 637 M, Umar menghadiri penyerahan Jerussalem. Ia pergi bersama Uskup Agung Sophronius, seorang Arab Kristen yang menjadi salah satu tokoh terkemuka Gereja Yunani di Jerussalem.
Gubernur baru Suriah, mengizinkan orang Yahudi datang ke kota untuk beribadah setelah lebih dari 500 tahun. Kebebasan agama ini, didasarkan pada Piagam Madinah yang tentu saja Umar memahaminya. Tetapi, kota ini juga milik Islam. Mengingat bahwa kota ini tujuan Nabi dalam perjalanan Isra’ Mi’raj dari Mekah. Dengan dasar pemikiran bahwa peran Jerussalem dalam Islam tidak bisa dianggap kecil, sehingga Umar mengatur pembersiham Kuil Sulaiman dan kemudian mendirikan Masjidil Aqsa, tempat suci ketiga dalam Islam. Perhatian khalifah beralih kembali ke Kaisaran Sassanid setelah jatuhnya Suriah. Umar menunjuk Sa’ad bin Abi Waqqas untuk memimpin pasukan Muslim ke Mesopotamia.
Pada akhir 636 M, bala tentara Sa’id mampu mengalahkan pasukan Persia di Perang Qadisiyya, yang awalnya sempat mengalami kekalahan karena tidak mampu menghadapi pasukan gajah. Perang ini, menghasilkan pampasan yang sebagian besar pampasan dikirim ke Madinah untuk dibagikan sesuai dengan hukum Islam yang berlaku. Jika benar-benar ingin menguasai Irak, pihak Muslim harus mengambil alih Ctesiphon, ibukota Sassanid, yang terletak di dataran antara Sungai Tigris dan Sungai Euftar, yang berjarak sekitar enam puluh kilometer di selatan kota kuno Babylon. Pada 637 M, kota ini dapat dikuasai oleh pasukan Muslim. Sementara itu, Kaisar Sassanid dan pemerintahannya melarikan diri ke dataran tinggi Persia. Pasukan dan bangsawan Byzantium dan Sassanid pergi, tetapi penduduk lokal tetap di sana.
Hanya ada dua perubahan dalam kehidupan penduduk taklukan. Pertama, mereka harus membayar upeti sesuai dengan hukum Islam. Kedua, toleransi beragama terhadap kelompok tertentu. Kristen Monofisit diperbolehkan menjalankan agamanya di Suriah. Begitu juga dengan Yahudi, yang bebas dari penindasan resmi dan diizinkan untuk kembali ke Jerussalem untuk beribadah. Dalam bidang ekonomi, penaklukan telah membawa kemakmuran bagi orang Arab. Ribuan koin perak dan emas, serta batu mulia berharga didapatkan dari tanah taklukan, Irak. Berdasarkan hukum Islam, harta rampasan tersebut dianggap milik seluruh umat Islam dan dibagikan kepada anggota Ummat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, kekayaan yang sangat besar berada di tangan pemerintahan.
Umar telah mengubah negara Islam selama sepuluh tahun menjabat khalifah. Tetapi, pada 644, dia dibunuh oleh seorang budak Persia di Madinah. Dan pada hari itu juga kekuasaannya berakhir. Sebelum wafat, Umar menunjuk majelis yang berisi enam pemimpin yang nantinya akan meneruskan kekhalifahan Umar. Akhirnya mereka memilih Utsman bin Affan. Utsman berasal dari klan Umayyah di Mekah. Ia sangat berkuasa dan kaya, sebelum masuk Islam. Ia pun diangkat menjadi khalifah pada 644 M. Latar belakang Utsman dan keluarganya berperan besar sebagai khalifah. Mu’awiyah, sepupunya, menjadi gubernur Suriah. Kemudian ia menunjuk Abdullah bin Sa’ad sebagai gubernur Mesir. Dan ia menunjuk sepupunya yang lain sebagai gubernur di Irak.
Utsman memerintahkan pembangunan armada angkatan laut untuk menggagalkan setiap serangan balik Byzantium. Dalam membuat kapal laut, Gubernur Suriah dan Mesir sangat bergantung pada orang Kristen lokal. Orang Kristen sangat bersemangat dalam pekerjaannya  bagi pemerintahan Arab. Hal ini dikarenakan banyak dari  penganut Kristen Koptik dan sekte Kristen lain tidak diakui oleh Byzantium. Berbeda dari Byzantium, Muslim memperlakukan mereka dengan sangat baik. Islam mampu memperluas pengaruhnya ke Laut Tengah, dengan cara merebut Siprus dan Kreta, dan menyerang sampai ke Sisilia. Keberhasilan militer terus berlanjut saat Mu;awiyah memimpin pasukan Suriah untuk masuk Amerika melawan Byzantium.
Di bawah pimpinan Abdullah bin Amir, sepupu Utsman yang lain, pasukan Muslim terus memaksa masuk ke Persia. Ternyata, penaklukan  Sassanid tidak semudah menaklukan Irak. Dalam perang tersebut, banyak memakan korban pasukan Muslim. Pada 650 M, Iran dikuasai dan pada 651, Khurasan pun diambil. Pada tahun yang sama, Raja Sassanid ditemukan dalam pelarian dan dihukum mati. Pasukan Muslim maju dari Irak ke Sungai Oxus dan sampai ke Asia Tengah, selama satu dekade. Pada 565, sekelompok tentara datang dari Mesir menuju Madinah untuk memprotes khalifah terkait dengan masalah kebijakan dan pembagian pampasan.
Dalam perjalanan kembali ke Mesir, para tentara mencegat surat yang diduga surat tersebut ditulis khalifah untuk Gubernur Mesir agar menghukum mati mereka.Maka, mereka kembali ke Madinah untuk mengepung Utsman. Meskipun begitu, Utsman menolak penduduk membawa senjata dan menolak melawan pemberontak. Bahkan, ia melarang Mu’awiyah mengirim pasukan dari Suriah. Pemberontak memaksa untuk masuk ke dalam rumah Utsman dan membunuhnya ketika ia sedang membaca Qur’an.
Para pemberontak menunjuk sendiri khalifah barunya sebagai penentu kepemimpinan di Madinah. Mereka memilih Ali, sepupu dan menantu Nabi. Ali menolak ditunjuk oleh pemberontak. Tetapi, tokoh-tokoh lain di Madinah meyakinkan Ali, bahwa dirinya memenuhi syarat dan mampu mengembalikan kedamaian di dunia Islam. tetapi, tidak ada tokoh yang snggup menangani krisis yang dihadapi dunia Islam. Masalah yang menekan Ali adalah penyelesaian pembunuhan Utsman.
Mu’awiyah menegaskan bahwa ia tidak akan menerima khalifah baru sampai pelaku pembunuhan Utsman dihukum. Ali memindahkan ibu kota ke Kufa, dataran subur Irak. Banyak orang di Madinah yang patah harapan karena Ali menolak untuk mengadili pemberontak. Sahabat Nabi, Talha dan Zubair, serta Aisyah, menemui Ali untuk meyakinkan agar menghukum para pemberontak. Secara politik, tidak memungkinkan untuk menghukum pemberontak. Ali meyakini bahwa solusi terbaik adalah melanjutkan hidup dan berusaha untuk menyatukan Ummat kembali.
Kedua pasukan bertemu di padang dekat Basra, Irak Selatan, pada 656 M. Beberapa anggota oposisi, termasuk Talha dan Zubair, menemui Ali sebelum peperangan dimulai dengan harapan dapat menghindari pertumpahan darah. Pemimpin kedua pihak menyetujui perjanjian damai sementara. Perang ini dinamakan Perang Unta. Talha dan Zubair tewas dalam peperangan ini, sedangkan Ali dan Aisyah bisa lolos. Aisyah kembali ke Madinah ditemani oleh pengawalan militer yang disiapkan Ali untuk keselamatannya. Aisyah memutuskan untuk mengundurkan diri dari urusan politik dan akhirnya wafat pada 678 M.
Posisi Ali masih belum aman, meskipun sudah terjadi pertumpahan darah. Mu’awiyah tetap bersumpah bahwa dia tidak akan setia kepada Ali sampai Ali menghukum pelaku pembunuhan terhadap sepupunya. Pada 658 M, keduanya bertemu di suatu tempat antara Irak dan Suriah. Seorang penengah menyetujui pemilihan khalifah baru. Tetapi para pengikut Ali tidak menyetujui kesepakatan tersebut. Mereka mendapatkan nama “Khawarij”, yang berarti ‘orang yang meninggalkan’. Kelompok Khawarij terus melakukan teror di Irak. Khawarij berhasil dihancurkan, tetapi masih berlanjut secara sembunyi-sembunyi dengan maksud untuk menurunkan Ali dan Mu’awiyah. Percobaan pembunuhan yang dilakukan Khawarij kepada Mu’awiyah di Damaskus gagal. Tetapi, mereka berhasil membunuh Ali saat ia sedang shalat Subuh di masjid di Kufa, seseorang menikamnya. Akhirnya kekhalifahan jatuh kepada : Mu’awiyah.



BAB IV
PENDIRIAN NEGARA ISLAM
Khulafaur Rasyidin berakhir setelah wafatnya Ali di tangan Khawarij dan naiknya Mu’awiyah menjadi khalifah. Sejak 661 sampai 680 M, pada pemerintahan Mu’awiyah, bentuk pemerintahan dan masyarakat Islam berubah secara mendasar. Tidak pernah ada solusi perselisihan yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah. Setelah wafatnya Ali, Mu’awiyah bebas memperlus kekuasaan dan menyatukan dunia Islam. Ia sangat terkenal di Suriah, tetapi ia juga memiliki musuh di Irak. Mereka memilih kekhalifahan diwariskan kepada Hasan, anak Ali. Mu’awiyah tidak ingin dunia Muslim terlibat lagi dalam peperangan untuk memperebutkan kepemimpinan. Ia menegosiasikan perjanjian dengan anak Ali untuk untuk menghancurkan oposisi. Tetapi, Hasan menyerahkan kepemimpinan dan lebih memilih untuk menghabiskan hidup dengan ibadah dan ilmu.
Mu’awiyah memerintah seperti yang dilakukan oleh pemimpin suku Arab pra-Islam, yaitu menggunakan hubungan keluarga, kode kehormatan tak tertulis, dan hadiah untuk melancarkan politik. Hal ini dikarenakan ia tinggal di Mekah dan menyaksikan ayahnya memimpin Quraisy. Tetapi, Mu’awiyah mengubah kekhalifahan menjadi monarki. Ia tidak lagi mengikuti jejak empat khalifah pertama.Budaya raja dan istana kini menjadi bagian dari kekhalifahan. Mu’awiyah memilih fokus dalam memperluas batas-batas kekhalifahanuntuk mengurangi tekanan perpecahan. Mu’awiyah mengirimkan pasukan untuk meneruskan peperangan melawan Kekaisaran Byzantium. Akhirnya, pasukam Muslim bisa mengepung Konstantinopel, ibu kota Byzantium. Dalam perang tersebut menyebabkan Abu Ayyub al-Anshari, sahabat Nabi, gugur. Dia adalah orang yang memberikan tempat menginap pada saat Nabi memasuki Madinah.
Ekspansi masih berlanjut sampai Afrika Utara. Uqba bin Nafi mengendalikan daerah barat Mesir. Ia adalah sahabat Nabi yang berasal dari Mekah. Pada 670 M, ia diperintahkan ke Byzantium Afrika dengan 10 ribu tentara berkuda dan didukung oleh suku lokal Berber yang baru masuk Islam. Byzantium lengah dengan medan pertempuran lain, sehingga Uqba bisa masuk ke Tunisia modern tanpa ada perlawanan. Pada 675 sampai 680 M, Uqba melanjutkan serangan ke barat. Menjelang 680 M, pasukan Ummayah siap untuk melakukan penaklukan melintasi daerah Tunisia, Algeria, dan Maroko modern menuju Samudra Atlantik, yang disebut Maghribi. Pada 680 M, setelah meninggalkan Qayrawan, Uqba maju dari pos Byzantium yang terdepan sampai pos berikutnya tanpa adanya perlawanan. Orang Byzantium berbeda jauh dengan Berber. Berber lebih dekat dengan orang Arab daripada orang Latin dan Yunani. Seluruh suku Arab masuk Islam setelah Muslim Arab datang. Orang Afrika Utara dengan Byzantium memiliki perbedaan yaitu ketuhanan dan kemanusiaan.
Mu’awiyah menunjuk Yazid, anaknya, sebagai penerus dan menuntut sumpah setia dari orang-orang terkemuka di Damaskus, tepat sebelum ia wafat. Yazid belum pernah mengenal Nabi dan para sahabat, tidak seperti ayahnya. Bahkan banyak rumor yang beredar di Mekah dan Madinah tentang kehidupan Yazid. Karena rumor tersebut, Abdullah bin Al-Zubair, anak Zubair memberontak. Permasalahan bertambah rumit karena orang Irak ingin keturunan Ali menjadi khalifah di dunia Islam. Dukungan diberikan kepada Husein, adik dari Hasan. Pada 890 M, Husein siap mendirikan basis di Irak untuk menentang Umayyah di Suriah. Yazid mengirimkan guberbur ke kota tersebut untuk memastikan penduduk tidak memberontak dia. Hal tersebut mendesak penduduk agar tidak mendukung Husein. Padahal, Husein sangat mengandalkan dukungan tersebut. Akhirnya ia pergi ke Kufa dengan sekitar tujuh puluh anggota keluarga dan sahabatnya saja. Di padang Karbala, Husein dikepung dan dibunuh bersama dengan pengikutnya oleh Yazid.
Pada 680 M, di Mekah, Abdullah mnggunakan oposisi terhadap Yazid saat melawan Bani Umayyah. Pada 683 M, Yazid meninggal karena tidak bisa memadamkan pemberontakan di Hijaz. Penerus Yazid adalah seorang anak muda yang hanya berkuasa selama beberapa bulan saja hingga kematiannya. Abdullah menyatakan diri sebagai khalifah. Dia mendapatkan sumpah setia dari penduduk Irak, Mesir dan Suriah. Tetapi, Bani Umayyah mampu mengambil alih kekhalifahan di bawah Marwan, salah satu keponakan Mu’awiyah. Di bawah Marwan dan Abdul Malik, anaknya, Bani Umayyah mengambil alih kendali dan memadamkan pemberontakan Abdullah bin Al-Zubair di Mekah pada 692 M.
Pada akhir 600-an dan awal 700-an, Bani Umayyah melanjutkan perluasan wilayah militer dan pertumuhan ekonomi. Pada 698, Khalifah Abdul Malik mengirimkan pasukan untuk menaklukan Kartogo di Afrika Utara. Musa bin Nusayr, Gubernur Umayyah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Tariq bin Ziyad, seorang Berber yang masuk Islam. Pada awal 711 M, Tariq memimpin pasukan untuk menyerbu dari Jabal Tariq menuju sepanjang selatan Spanyol. Penyerangan berhasil ketika Roderic dan pasukan besar Visigothik sedang menghadapi pemberontakan Basque. Pasukan Tariq berhasil mengalahkan Roderic dalam perang Guadalete. Roderic terbunuh dalam pertempuran. Tariq melanjutkan pertempuran untuk menguasai ibu kota tua Toledo dan kota-kota pun jatuh ke tangan Muslim. Selain Tariq, Musa, atasan Tariq, juga menyebrang ke Spanyol untuk membantu panaklukan. Tariq adalah penakluk dan Musa adalah konsolidator (orang yang memberikan kekuatan).
Tariq dan Musa mampu menjadikan wilayah semenanjung di bawah kendali Umayyah, sejak 711 sampai 715 M. Perluasan wilayah tersebut melibatkan tidak lebih dari 10-20 ribu tentara. Pada 720 M, penyerbuan berlanjut dari Galia sampai bagian selatan Prancis modern untuk menerapkan aturan Islam di Aquitaine dan Septimania. Penyerbuan ke Galia pada 732 merupakan puncak penyerangan Islam yang pada waktu itu Islam dipimpin oleh Abdul Rahman al-Ghafiqi, Gubernur Muslim Andalusia, dan berhasil dikalahkan oleh pasukan Franks yang dipimpin oleh Charles Martel pada perang Tours, di utara Prancis. Ibnu Qasim menjadi pemimpin di bawah pengawasan Hajjaj bin Yusuf, Gubernur Irak. Pada 711 M, ia dikirim melintasi Persia dan masuk benua India bersama dengan 6 ribu tentara Suriah. Pasukan Muslim mampu menguasai setiap kota dengan perlawanan kecil yang dibantu oleh pejabat-pejabat kuil Buddha.
Pasukan Ibnu Qasim bertemu dengan Raja Dahir dalam peperangan di sepanjang Sungai Indus dan akhirnya pasukan Muslim menghancurkan pasukan Sindhi. Dahir pun terbunuh dalam peperangan. Pada pertengahan 700-an, kekhalifahan Umayyah menjadi kerajaan terbesar di dunia. Ibnu Qasim memberikan kebebasan beragama bagi umat Buddha dan Hindu, seperti kebebasan yang diberikan kepada umat Kristen dan Yahudi. Kuil dan patung yang telah dihancurkan boleh dibangun kembali. Kelompok-kelompok tersebut dibebaskan dari kewajiban militer tetapi harus membayar pajak perseorangan atau Jizyah. Dan umat Muslim hanya membayar pajak tanah dan zakat.
Karena jumlah non-Arab yang terus bertambah, maka ketidakpuasan dengan kebijakan pajak akan berkembang. Karena hal tersebut, keluarga tua lain dari Mekah mengambil alih kekhalifahan, yaitu Bani Abbasiyah. Nama Bani Abbasiyah berasal dari nama Paman Nabi yaitu Abbas, yang merupakan kepala keluarga dari klan tersebut. Mereka tinggal di sebelah timur Sungai Yordan. Pada awal 700-an, mereka menyebar rumor bahwa salah satu keturunan Ali memindahkan hak kekuasaan kepada Bani Abbasiyah. Rumor tersebut masih menjadi misteri. Pada 730-an dan 740-an, diucapkanlah sumpah setia sekutu, di Damaskus. Bani Abbasiyah menjanjikan masayarakat yang lebih setara di bawah kekhalifahannya dan menjamin peranan yang lebih besar kepada keturunan Ali.
Pada 747 M, Bani Abbasiyah menyatakan pemberontakan terbuka, mengibarkan bendera hitam di Kota Merv, Turkimenistan yang dipimpin Abu Muslim. Abu Muslim mengirim pasukan ke Persia. Penduduk lokal Muslim di sana, bangkit untuk melawan Bani Umayyah. Kufa yang menjadi pusat bagi para anti-Umayyah, mulai melawan Gubernur Umayyah dan mengusirnya. Setelah kufa dibebaskan, calon khalifah Abbasiyah yaitu Abu al-‘Abbas, dapat menyampaikan sumpah setia formal. Pada awal 750 M, Abbasiyah berhasil mengalahkan Umayyah pada Perang Zab di Mesopotamia tengah. Seluruh anggota keluarga Umayyah diburu dan dihukum mati, begitu pula dengan Marwan, ia tertangkap di Mesir.
Hanya ada satu anggota keluarga Umayyah yang berhasil lolos, yaitu Abdul Rahman. Dia lolos dengan cara menyamar dan pergi ke Afrika Utara. Ia mendirikan negara Umayyah di Andalusia yang jauh dari jangkauan Abbasiyah. Dan akan bertahan selama 300 tahun. Ketika Abbasiyah berkuasa, kekhalifahan mereka tidak seperti yang diharapkan. Bani Abbasiyah mengikuti tradisi kekuasaan yang dilakukan Bani Umayyah, salah satunya adalah mereka mendukung keluarga Ali sebagai khalifah. Pada 765, Al-Mansur, kalifah kedua, membangun ibu kota baru di antara Sungai Tigris dan Eufrat, dekat Ctesiphon.


BAB V
MASA KEEMASAN INTELEKTUAL
Abad kesembilan sampai ketiga belas, dunia Islam ditandai dengan adanya era perkembangan ilmiah, religius, filsafat, dan kebudayaan. Kebudayaan Islam terdiri atas banyak budaya, agama, dan tradisi intelektual yang beragam, mulai dari Spanyol sampai India. Awal 800-an, Abbasiyah terbentang luas dari Atlantik sampai Indus. Mereka mempunyai ibu kota yang jumlah penduduknya lebih dari satu juta penduduk di Bagdad. Yang terdiri dari banyak budaya, mulai dari Yunani, Koptik, Persia, dan India. Menurut pemikiran al-Ma’mun (813-833), khalifah Abbasiyah ketujuh, bahwa masyarakat ideal dapat diwujudkan dengan ilmu pengetahuan dan rasonalisme. Maka ia mendirikan sebuah institut pendidikan di Bagdad yaitu Rumah Hikmah (Bayt al-Hikmah). Dalam institut ini, semuanya ada dalam satu kampus, seperti universitas, perpustakaan, badan penerjemah, dan lab penelitian. Ada beberapa hal yang membuat Rumah Hikmah unik : Pertama, ekspansi kerajaan Muslim mampu menyatukan kelompok-kelompok yang berbeda. Kedua, bahasa Arab menjadi bahasa perantara untuk menyatukan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Ketiga, Islam memerintahkan untuk mencari ilmu.
Bagi para ilmuwan Muslim, matematika merupakan ilmu suci. Tidak hanya itu, pembelajaran matematika juga merupakan perjalanan religius. Muhammad bin Musa al-Khawarizmi merupakan salah satu ilmuwan matematika Muslim terbesar. Ia adalah orang Persia yang hidup dari 780 sampai 850 M. Penggunaan sistem angka India merupakan salah satu kontribusi terbesarnya. Bukan hanya angka India (1, 2, 3, 4, 5, ...), Al-Khawarizmi juga menambahkan angka nol (0). Ia memiliki karya monumental yaitu Buku Ringkasan Kalkulasi dengan Melengkapi dan Menyeimbangkan, yang menjelaskan bahwa aljabar dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Aljabar berasal dari kata al-jabr, yang artinya ‘melengkapi’. Selain al-Khawarizmi, ada matematikawan hebat lainnya. Ia adalah Umar Khayyam, yang berasal dari Persia, hidup dari 1048 sampai 1131 M. Umar Khayyam menemukan metode untuk memecahkan masalah persaman aljabar yang variabelnya kelipatan tiga. Melalui aljabar, pelajaran trigonometri dan kalkulus dapat dikembangkan.
Rumus dan metode yang dikembangkan matematikawan Muslim menjadi dasar untuk penelitian dalam hal perbintangan. Para astronom dikumpulkan untuk mempelajari teori kuno Ptolomeus (orang yang menyusun peta dunia yang meliputi benua Asia, Eropa, dan Afrika). Aspek kunci gagasan Ptolomeus adalah geosentrisme (sebagai pusat) alam semesta, bumi diam dan yang bergerak mengelilingi bumi adalah semua benda langit. Teori tentang bumi diam ini mulai dipertanyakan ketika astronom Muslim menyadari bahwa perhitungan Ptolomeus dari gerakan planet dan bintang itu cacat sehingga perlu adanya koreksi. Menurut al-Biruni, hal tersebut terjadi karena tidak memperhitungkan gerakan bumi. Perdebatan ini menjalar ke Eropa melalui terjemahan Latin dari karya al-Majriti. Setelah gagasan astronomi menyebar ke seluruh benua, Kopernikus dan Galileo mengembangkan teori sebagai fakta. Seperti aljabar, astronomi juga mempunyai penerapan yang praktis. Astrolobe adalah alat yang digunakan astronomi untuk menentukan garis lintang dengan menggunakan bintang, ditemukan oleh orang Yunani kuno. Astrolobe digunakan sampai 1700-an sebagai standar navigasi.
Seperti halnya astronomi yang tumbuh dari matematika, begitu pula geografi yang berkembang dari astronomi. Ahli geografi dari kekhalifahan Abbasiyah menghasilkan kesimpulan yang akurat dengan memanfaatkan trigonometri dan geometri bola. Mereka menghitung diameter bumi sebesar 12.728 kilometer. Peta Yunani Kuno dikembangkan dan diperbaiki. Peta terbaik adalah buatan Muhammad al-Idrisi, ia tinggal di Sisilia pada abad kedua belas. Al-Idrisi berhasil menghasilkan peta dunia dengan akurasi dan detail, bukan hanya berupa gambar geografi fisik, tepai juga berisi deskripsi budaya, politik, dan masyarakat yang pernah didatangi penjajah. Pertengahan abad kesepuluh, al-Mas’udi, ahli geografi dan sejarah, menuliskan pelayaran Muslim Iberia dari pelabuhan Delba sampai wilayah yang belum dikenal, pada 889. Di sana, mereka melakukan perdagangan dengan penduduk lokal dan kemudian kembali pulang. Al-Idrisi juga menuliskan laporan tetntang pelayaran Muslim selama tiga puluh satu hari melintasi Samudra Atlantik dan mendarat pada suatu pulau yang tidak dikenal. Satu laporan terakhir tentang pelayaran melintasi Atlantik berasal dari Mali.  
Telah ada tradisi kedokteran di dunia Islam yang menekankan studi empiris (berdasarkan dengan pengalaman) dan profesi klinis (berdasarkan pengamatan klinik). Kemajuan Islam di bidang kedokteran dicapai dengan mempelajari semua yang telah diwariskan dokter Yunani kuno, Galen. Menurut Galen, penyakit disebabkan karena tidak seimbangnya cairan yang ada di dalam tubuh, seperti darah, empedu hitam, empedu kuning, dan lendir. Muhammad bin Zakariya al-Razi memiliki pendapat lain. Ia menyimpulkan bahwa penyakit fisik bukan hanya akibat dari keseimbangan cairan, tetapi juga disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Ia membuat obat khusus untuk penyakit umum seperti batuk, sakit kepala, dan sembelit. Ia meyakini bahwa mengobati dan merawat orang sakit, sebagai usaha yang mulia untuk membantu orang yang membutuhkan.
Ada dokter besar lainya yaitu Ibnu Sina. Ia merumuskan teori melalui rangkaian peristiwa sebab dan akibat, maka semua hal yang ada dalam tubuh bisa diketahui dan dipahami. Ia menyimpulkan bahwa penyakit bisa menyebar luas melalui udara, air, atau tanah dan penyakit itu berbeda-beda sehingga harus ada penanganan khusus. Dalam karyanya, Aturan Pengobatan, ia menekankan bahwa obat harus diuji dengan kondisi terkontrol. Karya ini mendapatkan popularitas dan kehormatan yang luas. Di dalamnya terdapat deskripsi tentang bius anastesi, kanker payudara, rabies, toksin, borok, penyakit ginjal, dan tuberkulosis. Rumah sakit yang pertama kali muncul adalah di Bagdad, pada awal abad kesembilan belas. Terdapat puluhan dokter dan perawat, serta dokter spesialis dan ahli bedah. Rumah sakit tersebut membantu orang-oarang yang membutuhkan, gratis bagi yang tidak mampu.
Ibnu al-Haytaham (965-1040 M) adalah salah satu ilmuwan yang berasal dari Irak. Awalnya, ia bekerja di pemerintahan Abbasiyah sebagai pegawai negeri, tetapi di meninggalkan pekerjaan tersebut dan bergabung dengan pusat intelektual di Kairo, ibu kota Kerajaan Fatimiyyah. Ia menjadi tahanan setelah berselisih dengan penguasa Fatimiyyah. Tetapi hal itu menghadirkan berkah baginya dan bagi bidang fisika. Ibnu al-Haytham mempelajari cahaya. Salah satu gagasannya tetntang cahaya bersumber dari Ptolomeus. Ia memiliki pendapat bahwa cahaya adalah sinar yang dipancarkan dari mata, kemudian membentur objek, dan kembali ke mata sehinnga orang bisa melihat. Ibnu Sina membedah mata di Persia untuk memahami bagaimana cahaya melintasinya, begitu juga dengan Ibnu al-Haytham, dia juga melakukan penelitian yang sama di Mesir. Setelah melakukan penelitian dan eksperimen, Ibnu al-Haytham menulis buku ‘Buku tentang Optik’, di mana dala buku tersebut Ibnu al-Haytham berpendapat bahwa cahaya terdiri dari sinar-sinar yang bergerak lurus. Ia merancang sebuah Kamera Obskura yang terdiri dari kotak kedap cahaya dengan satu lubang kecil yang tembus ke belakang. Ia juga berhasil memadukan bidang optik dan astronomi dalam perhitungan kedalaman atmosfer bumi. Setelah ia meninggal, para ilmuwan melanjutkan penemuannya.
Tumbuhlah ilmu pengetahuan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan empiris. Fikih berlaku dalam segala hal seperti hukum kriminal, cara shalat, makanan / minuman halal, dsb. Abu Hanifah (699-767), salah satu ulama pertama yang mengenalkan gagasan bahwa logika rasional harus berperan dalam ilmu fikih. Ahli hukum kedua adalah Malik (711-795) yang berasal dari Mekah. Ia percaya bahwa perilaku orang-orang yang tinggal di Madinah  bisa dipertimbangkan sebagai sumber hukum. Ahli hukum ketiga adalah Muhammad al-Syafi’i Maliki (767-820). Ia mempelajari tradisi Hanafi di Irak dan tradisi Maliki di Madinah. Ahli fikih yang terakhir adalah Ahmad bin Hanbal (780-855). Ia cenderung lebih fokus pada hadis untuk membantu mengembangkan ilmu fikih. Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, berkembanglah empat mahzab fikih, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Keempat mahzab tersebut merupakan penafsiran yang berbeda tentang Islam yang semuanya mengarah pada tujuan untuk menjalankan semurni mungkin. Studi hadis menjadi lebih menonjol pada era Abbasiyah. Hadirlah seseorang yang menyadari ancaman akibat keraguan tentang hadis, ia adalah Muhammad al-Bukhari (810-870). Al-Bukhari dengan cermat meneliti kehidupan orang-orang yang meriwayatkan hadis. Setelah melakukan penelitian, ia menetapkan ada lebih dari 7000 hadis yang dianggap asli.
Teologi Islam didasarkan pada keyakinan akan keesaan Tuhan dan ketegasan pesan Nabi Muhammad, di mana Qur’an sebagai firman Allah dan hadis sebagai petunjuk yang bersifat ketuhanan. Pendekatan keagamaan baru timbul pada pertengahan abad kedelapan. Dalam pandangan umat Muslim, penggunaan logika dan filsafat sama derajatnya dengan Qur’an. Sebagian menyatakan bahwa logika dapat mengesampingkan wahyu. Kelompok tersebut disebut “Mu’tazilah”, yang artinya ‘yang memisahkan diri’. Ahmad bin Hanbal adalah pemimpin kaum tradisionalis pada 800-an, yang mendirikan mahzab Hanbali. Ia dianiaya khalifah al-Ma’mun, pelindung utama ideologi Mu’tazilah, tetapi tetap tegas memilih penafsiran literal (harfiah). Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111) adalah pemikir tradisional terbesar. Ia menguasai banyak argumen teologis setelah mempelajari Mu’tazilah dan Ash’ari. Karyanya membantu mengembalikan arus aliran Mu’tazilah yang mundur dan juga dilupakan.
Syi’ah adalah kelompok yang meyakini Ali dan keturunannya paling berhak menjadi khalifah. Kaum Syi’ah menganut paham imamah, yaitu pemahaman bahwa keturunan Ali-lah yang paling berhak menjadi khalifah. Di mana Ali sebagai imam pertama kemudian Hasan dan Husein yang kedua dan ketiga. Mereka menyebut bahwa Abu Bakar dan pendukungnya adalah perampas kekuasaan, sehingga hadis yang mereka sampaikan tidak dapat dipercaya. Aisyah, istri Nabi, dan Abu Hurairah, tetangganya memberitahukan ratusan hadis yang terdaftar di Shahih al-Bukhari kepada kaum Syi’ah. Tetapi, bagi kaum Syi’ah, hadis tersebut tidak dapat dipercaya karena adanya dukungan politisnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Cabang utama Syi’ah dikenal sebagai Ithna’ashariyyah, yang artinya Imam Dua Belas, karena mereka meyakini bahwa setelah Nabi Muhammad, ada dua belas iman. Menurut mereka, imam terakhir adalah Muhammad al-Mahdi , yang bersembunyi saat ia berusia lima tahun pada 941 M.
Dimulailah periode yang dikenal sebagai “Gaib Kecil”. Tetapi, pada 941 M, al-Mahdi pergi ke “Gaib Besar” sehingga komunikasi dengan imam tidak dimungkinkan. Kelompok lainnya mempercayai bahwa hanya Tujuh Imam, yang disebut “Sab’iyyah”. Kelompok tersebut sukses dalam bidang politik dibanding kelompok Dua Belas Imam. Kebangkitan negara-negara Syi’ah Tujuh Imam di Arab Timur dan Mesir, terjadi pada abad kesepuluh. Kelompok Syi’ah yang mempercayai tujuh imam dikenal sebagai Zaidiyyah. Pada awal 1500-an, Syi’ah kembali menjadi kekuatan utama di dunia Islam saat kebangkitan Kerajaan Safavid.

  
BAB VI
PERGOLAKAN
Setelah 300 tahun, Islam menyebar dengan cepat di seluruh Timur Tengah, Afrika Utara, dan Persia. Dari abad kesepuluh sampai abad ketiga belas, Islam selalu mendapat serangan. Yang melakukan teror di tanah Islam adalah Syi’ah, Pasukan Salib Eropa, dan gerombolan Mongol, hal ini menyebabkan sebagian orang percaya bahwa akhir zaman sudah dekat. Kaum Syi’ah berpendapat bahwa kepemimpinan dunia Islam adalah milik para imam yang berhubungan khusus dengan Tuhan. Menurut kelompok Dua Belas Imam, saat di mana imam kedua belas menghilang, maka saat itulah mereka menunggu dengan sabar sampai dia kembali. Berbeda dengan kelompok Dua Belas Imam, kelompok Tujuh Imam yakin bahwa Ismail, Imam Ketujuh, pergi bersembunyi untuk menghindari penangkapan dari kekuasaan Abbasiyah pada pertengahan 700-an. Mereka meyakini bahwa Ismail terus hidup bersembunyi, yang biasa disebut “Ismailiyah”.
Bani Abbasiyah melakukan segala hal untuk membasmi ancaman dari dari kaum Ismaili. Hal tersebut membuat kaum Ismaili menjadi jauh dari jangkauan Abbasiyah. Sekitar 900 M, kaum Ismaili siap untuk menyerang kekuatan Suni. Pada 903 M, kelompok Ismaili menyerang Suriah, yang biasa disebut ‘Qaramita’. Mereka merebut Damaskus dan mengalahkan pasukan Abbasiyah. Pada 906, kaum Qaramita membantai 20 ribu jamaah haji yang sedang menuju ke Mekah. Kaum Qaramita menyerbu Mekah kemudian membantai penduduknnya, dan mencuri Hajar Aswad dari Kakbah yang kemudian dipindahkan ke Bahrain sampai 952 M. Kaum Qaramita menolak Mekah sebagai tempat untuk beribadah haji sehingga mereka menyerang jamaah haji dan Kota Mekah.
Pada 909 M, kelompok Islamiyyah menyatakan kemunculan kembali seorang imam yang berasal dari keturunan Ismail, yang bernama Ubaidillah atau “al-Mahdi”, yang berarti ‘yang mendapat petunjuk atau penyelamat’. Ia mendirikan dinasti yang bernama : Fatimiyyah. Pada 909, ia mendeklarasikan diri sebagai khalifah dan menentang otoritas Abbasiyah. Sekitar 920-an, pengaruh Fatimiyyah meluas dengan cepat, misalkan menaklukkan Sisilia, bergerak ke timur menuju Mesir, dan menjadikan Afrika Utara di bawah kendali mereka. Pertengahan abad kesepuluh, kekhalifahan Abbasiyah menjadi tidak berdaya. Hal tersebut dikarenakan desentralisasi politik yang menyebabkan turunnya kekuatan khalifah. Pada 945, Dinasti Persia berhasil menguasai Irak dan memerintah atas nama kekhalifahan. Sedangkan Mesir dikuasai oleh dinasti independen dari Turki yang bernama Ikhshidiyyah. Fatimiyyah mengirimkan sekitar 100 ribu tentara untuk melawan Ikhshidiyyah di Mesir. Mereka mengalahkannya dengan sangat mudah. Kemudian Fatimiyyah mendirikan kota baru yaitu al-Qahira (Kairo) sebagai ibu kota di sepanjang tepi Sungai Nil. Pada 970 M, didirikanlah sebuah Universitas Al-Azhar untuk menyebarkan keyakinan Ismailiyyah di Kalangan mayoritas Suni di Mesir. Universitas tersebut didirikan di Kairo.
pada 996-1021, khalifah al-Hakim atau “Khalifah Gila” melakukan usaha untuk menyebarkan Ismailiyyah kepada masyarakat. Ia dibenci oleh hampir semua golongan karena memerintah atas kehendak sendiri. Ia memerintahkan untuk menghancurkan gereja dan sinagoge yang ada di wilayah kekuasaannnya, termasuk Gereja Holy Sepulchre, tempat Nabi Isa dikuburkan. Jaminan keselamatan gereja yang telah dibuat oleh Umar pada 637 M diabaikan dan tetap menghancurkan gereja tersebut. Kaum Muslim juga dilarang untuk shalat berjamaah. Kaum Suni dilarang memasuki kota Jerussalem, begitu pula dengan Kristen dan Yahudi. Pada 1021 M, kekuasaan Khalifah Gila ini berakhie saat ia pergi ke gurun dan menghilang.
Pada 1095 M, terjadi konflik selama 200 tahun yang akan mengubah Eropa Kristen dan dunia. Muslim secara mendasar. Perang Salib dimulai dari Jerussalem di Asia Tengah. Orang Turki melakukan migrasi setelah suku-suku nomaden keluar dari Asia Tenggara kemudian masuk ke dunia Islam. Pada 1037 M, didirikan sebuah kerajaan terbesar yaitu Kerajaan Seljuk.Seljuk berperan sebagai pelindung kekhalifahan yang bertahan pada kubu di Bagdad. Seljuk mampu menyeimbangkan Fatimiyyah dan mencegah perluasan daerah pada abad kesebelas. Pada 1071, Seljuk menang dalam pertempuran melawan Byzantium di Anatolia timur. Hal ini membuat Byzantium tidak dapat mempertahankan Anatolia secara utuh. Alexios, kaisar Byzantium, menyadari bahwa pihaknya tidak mampu untuk memerangi Turki sendiri. Ia meminta bantuan kepada Paus Urban II. Tetapi Paus Urban tidak mau membantu Alexios dan melawan Turki.
Pada 1096 dan 1097, pasukan Urban bergerak menuju Eropa Timur dari Perancis, Jerman, dan Italia. Kaisar Alexios tidak mengizinkan pasukan Perang Salib masuk ke Konstantinopel, karena ia takut mereka akan merampas seperti yang dilakukan di kota-kota sepanjang perjalanan. Pada akhir 1907M, pasukan tiba di Antioch. Kerajaan Seljuk Raya mengalami perpecahan sebelum Perang Salib. Tidak hanya Seljuk Raya, kota-kota di Suriah seperti Damaskus, Aleppo, Antioch, dan Mosul, juga mengalami perpecahan dan kepala pemerintahannya terlibat dalam perang sepanjang 1090M. Setelah pasukan Salib berhasil merebut kota, seluruh penduduknya dibunuh. Para emir Muslim, berusaha agar tidak terlibat konflik dengan pasukan Perang Salib. Pada 1099, Pasukan Perang Salib mencapai benteng luar Jerussalem.
Sejak bertahun-tahun, kota Jerussalem dikuasai Fatimiyyah dan Seljuk. Pada 15 Juli 1099, pasukan Perang Salib berhasil memasuki kota dan merebutnya dari pasukan Islam. Dan akhirnya Jerussalem berada di bawah kendali Kristen. Seluruh penduduknya dibantai. Mereka juga menghancurkan masjid dan sinagoge. Kekhalifahan Abbasiyah tidak berdaya sedangkan emir Turki, Irak, dan Persia terlibat dalam perang saudara. Awal 1100-an, Timur dan Barat bergabung di Tanah Suci. Pada 1090-an, pasukan Perang Salib pergi ke pantai Suriah menuju Jerussalem, kapal-kapal pedagang Italia melindungi mereka di Maditerania.
Pada pertengahan 1100-an, gejolak datang dari Bagdad, Damaskus, atau Kairo. Perlawanan tersebut datang dari seorang emir Turki, 'Imad ad-Din Zengi, penguasa Kota Mosul di Irak. Zengi berharap dapat membangun persatuan Suriah. Imad ad-Din Zengi meninggal pada 1146 sehingga yang mengambil alih perjuangan untuk menyatukan Timur Tengah adalah Nur ad-Din Zengi, anaknya. Pada 1149, ia berhasil menaklukkan wilayah di sekitar Antioch. Pada 1154, ia berhasil menjatuhkan emir Damaskus dengan bantuan penduduk setempat. Kemudian pada 1164, ia mengirimkan pasukan ke Mesir demi persatuan Islam dalam melawan pasukan Perang Salib.
Masyarakat Mesir, menyambut reformasi Saladdin dan menjalin hubungan yang baik dengan Suriah. Orang Mesir dan Suriah meyakini perang antara Zengi dan Saladdin tidak bisa dihindari. Pada 1174 M, Zengi meninggal dikarenakan sakit, sehingga Saladdin bisa datang ke Suriah tanpa ada perlawanan. Dalam Perang Hattin yang terjadi pada 1187, pasukan Saladdin berhasil mengalahkan pasukan Jerusalem. Sikap Saladdin yang mulia selalau diingat oleh pasukan Kristen. Ia melindungi Kristen dan juga memperbolehkan untuk ziarah. Setelah Saladdin meninggal, daerah kekuasaannya berkembang menjadi Dinasti Ayubiyyah. Setelah pembebasan Jerusalem oleh Saladin, Genghis, seorang panglima militer, ia mampu menyatukan berbagai suku Mongol di utara Tiongkok.
            Genghis Khan dan bangsa Mongol telah berubah menjadi kerajaan dunia. Setelah sekitar sepuluh tahun, akhirnya Bangsa Mongol nomaden mampu menaklukkan dan menguasai beberapa wilayah di Tiongkok Utara. Denghis Khan, menguasai daratan dari Korea sampai perbatasan dunia Islam di Persia. Bangsa Mongol adalah orang nomaden penunggang kuda yang tidak berkuasa pada pertanian, tetapi mampu membangun kerajaan dunia, yaitu kerajaan yang membentang dari Eropa Tengah ke Korea dan perbatasan India. Kerajaan Khwarezmian adalah salah satu negara Islam yang berbatasan dengan Kekaisaran Mongol. Kedatangna bangsa Mongol di negara Islam, merupakan awal dari kehancuran kebudayaan Islam di Persia, Irak, dan Suriah. Mereka telah menghancurkan Bhukhara. Mereka juga menghancurkan kota tua Balkh dengan membuang naskah le sungai Oxus. Bukan hanya itu, mereka juga menghancurkan Iran dan Afganistan. Pada 1222 M, kerajaan Khwarezmian hancur total karena konflik yang terjadi. Genghis Khan memilih untuk kembali ke Mongolia dan akhirnya meninggal pada 1225 M. Setelah Genghis Khan meninggal, ia digantikan oleh Ogedai, anak Genghis.
Pada 1237 M, pasukan Mongol melintasi Rusia dan masuk ke Hungaria dan Jerman. Kemudian mereka meninggalkan Eropa dan kembali ke Mongolia setelah Ogedai meninggal pada 1241 M. Mongol menghabisi Persia dengan menyerang Hashashin. Hulagu telah menghancurkan Benteng Alamut pada 1256 M. Khalifah al-Musta’sim tidak akan menyerah dan menerima kekuasaan Mongol. Pada 10 Februari 1258, pasukan Hulagu berhasil merebut ibu kota kekhalifahan. Mereka menghancurkan Rumah Hikmah yang didirikan oleh al-Ma’mun. Buku-buku dan tinta, dibuang di Sungai Trigis. Karya tentang matematika, ilmu pengetahuan, geografi, sejarah, teologi, dan yurisprudensi telah hilang untuk selamanya. Hanya sebagian karya saja yang tersisa, yaitu karya ilmuwan besar pada Zaman Keemasan seperti Ibnu al-Haytham, al-Biruni, dan Ibnu Sina.
Hulagu juga menangkap khalifah yang kemudian dibungkus dengan karpet dan diinjak-injak oleh penunggang kuda Mongol sampai meninggal. Mongol tidak akan berhenti sampai di Bagdad, Hulagu terus maju sampai ke Suriah. Pada 1260 M, Kesultanan Mamluk muda memberhentikan Mongol di utara Palestina. Akhirnya mereka berhasil mengalahkan Mongol.


BAB VII
AL-ANDALUSIA
Pada pertengahan abad ketujuh, penaklukan di Afrika Utara oleh Bani Umayyah, melambat beberapa waktu. Pada 710-an, pintu penaklukan terbuka kembali ketika pasukan Muslim menuju Semenanjung Iberia. Bagi umat Kristen, kekalahan murni menunjukkan bahwa Tuhan kecewa dengan aksi yang dilakukan oleh Visigoth, sehingga Dia mengirim penyerbu sebagai hukuman. Visigoth terlibat perang dengan pasukan Muslim. Akhirnya, kota-kota di wilayah Visigoth menyerak kepada pasukan Islam. Suku Arab yang datang ke Andalusia kebanyakan dari kalangna petani, dari Yaman. Sehingga mereka banyak bermukim di wilayah yang subur seperti Kordoba, Valencia, dan Zaragoza.
            Pada 750 M, Abdul ar-Rahman melarikan diri dari Damaskus ke Pasukan Abbasiyah. Pada 755 M, ia mendapatkan dukungan dari keluarga Umayyah di Andalusia. Muslim Arab, Berber, dan Hispanik, bergabung menjadi satu untuk menciptakan budaya yang unuk bagi Andalusia. Pada 912 sampai 961 merupakan punjak kejayaan bagi negara Umayyah di Spanyol yang terjadi pada pemerintahan Abdul Rahman III. Sama seperti al-Ma’mun dari Abbasiyah, Abdul Rahman III juga menyukai seni dan ilmu pengetahuan. Terdapat lebih dari 600 perpustakaan yang ada di ibu kota Kordoba, yang berisi lebih dari 400 ribu koleksi buku. Orang Eropa pergi ke Andalusi karena ingin menjad terpelajar. Tetapi bagi penduduk Andalusia, keindahan dan penekanan pada ilmu pengetahuan memberikan beberapa konsekuensi negatif.
            Sulaiman II berhasil mengalahkan anggota Bani Umayyah yang pasukannya berasal dari Kastilian dan Berber. Hal ini menyebabkan terjadinya balas dendam pada tahun berikutnya. Kata ta’ifa berasal dari Qu’an yang bertujuan untuk memperingatkan kepada Muslim agar selalu menciptakan perdamaian antara pihak yang berselisih paham. Ketika para raja Ta’ifa berperang, hasilnya sangat ironis bagi Islam di Iberia. Satu-satunya yang menjadi pemenang adalah negara bagian Kristen yang ada di utara. Dalam sejarah hitam Andalusia, orang Islam membayar orang Kristen untuk melawan orang Islam lainnya. Kekuatan Kristen dapat mengancam negara Taifa karena berada di tengah-tengah Iberia. Setelah sadar bahwa raja Taifa tidak bisa melawan dan bertahan lagi, maka ia meminta bantuan dari dunia Islam lainnya. Pertolongan datang dari Afrika yang dikenal Murabitun.
Gerakan Murabitun, didirikan di gurun Maroko yang menghubungkan Afrika Utara dengan kerajaan-kerajaan kaya di Afrika Barat. Hampi seluruh suku Berber bernama Islam menjelang abad kesebelas. Pada abad kesebelas, gerakan Murabitun berkembang tanpa adanya penaklukkan. Gerakan ini meluas dari Afrika Utara ke Ghana, di afrika Barat, menjelang 1180-an. Murabitun mengirim 12 ribu tentara yang dipimpin oleh Yusuf bin Tashfin, pada 1086. Tetapi hal ini bukanlah penaklukkan.
            Murabitun menaklukkan Andalusia pada 1090 M. Penaklukkan tersebut dipimpin oleh Ibnu Tashfin. Akhirnya negara Taifa menyerah kepada Murabitun dalam waktu sepuluh tahun. Pada saat pertama kali masuk ke Andalusia, Murabitun mampu mengalahkan pasukan Kristen. Tetapi setelah itu, Murabitun kalah dan yang menang adalah Kristen. Jatuhnya Murabitun diawali dari Afrika Utara, tempat asal mereka. Muncul gerakan baru yaitu Muwahhidun yang berarti monoteis. Sepanjang 1120-1130 suku-suku Berber bergabung dengan gerakan Muwahhidun. Dengan adanya Muwahhidun, Islam menjadi bangkit. Sebagian besar pola dari Muwahhidun, sama dengan pola Murabitun. Muwahhidun dan Murabitun sama-sama berasal dari Maroko. Muwahhidun mengalami kemunduran setelah terjadi konflik antar keluarga yang saling memperebutkan kekuasaan di Andalusia.
Setelah jatuhnya Muwahhidun, Andalusia mengalami kekalahan. Umat Islam yang datang ke Granada, hal itu menandakan bahwa akhir kekuasaan Islam yang terjadi di Semenanjung Iberia. Saat Granada menempuh masa keemasan Andalusia, lingkungan politik melemahkannya sehingga mengalami kehancuran. Golongan ulama Granada menyatakan bahwa Muhammad XII adalah seorang pemberontak Tuhan. Hal tersebut menyebabkan bertambahnya turun Islam di Semenanjung Iberia.
Pada masa kepemimpinan Muhammad II, hanya menambah kesengsaraan bagi Granada. Pada 1486, Muhammad ditangkap oleh Castilia dan ditahan. Pasa saat ia sedang ditahan, ayahnya mengambil kembali mahkota Muhammad. Muhammad II akhirnya dilepaskan dari penahanan karena bersumpah setia kepada Kerajaan Kristen. Granada merupakan satu-satunya kota yang masih dikuasai oleh Muslim di Semenanjung Granada, menjelang 1490 M. Spanyol mulai mendekati kota Garanda, menjelang keruntuhan Granada pada 1490 dan 1491. Granada berpindah ke tangan Spanyol secara resmi pada 1 Januari 1492.
Sejarah politik yang ada di Andalusia berakhir pada 1492 M. Sekarang ini, umat Muslim kehilangan beberapa kedudukan sosial karena penguasaan yang berbeda. Orang Kristen mengajak orang Islam untuk berpindah agama menjadi Kristen. Bagi mereka yang mau berpindah agama menjadi Kristen, maka mereka akan mendapatkan hadiah, emas, kuda, dan barang-barang berharga lainnya. Hal ini menyebabkan banyak dari orang Islam yang berpindah agama menjadi Kristen, pada 1492 M. Francisco Jimenez de Cisneros melecehkan, menyiksa, dan menangkap bagi mereka yang tidak mau berpindak agama Kristen. Muslim Granada tidak dapat menahan diri lagi. Mereka menentang usaha-usaha de Cisneros.
Saat pemberontakan padam, menjelang 1502, Kristen melarang Islam berada di Spanyol. Mereka diberi tiga pilihan yaitu memilih untuk pergi dari Spanyol, pindah agama menjadi Kristen, atau memilih untuk mati. Akhirnya, Muslim seluruh Spanyol memilih untuk pindah agama menjadi Kristen. Tetapi setelah pindah agama Kristen, mereka tetap saja hidup di bawah tanah. Mereka tetap hidup seperti Muslim rahasia di rumah mereka sendiri.
Pada 1511, dekrit kerajaan menyatakan bahwa menyembelih binatang berdasarkan hukum Isalm itu dilarang. Pada 1513, bagi perempuan tidak boleh menutup muka. Merisco dilarang pergi ke pemandian umum, dilarang untuk menutup pintu pada hari minggu untuk memastikan bahwa tidak ada yang menjalankan ibadah Islam secara sembunyi-sembunyi. Apabila ada prnikahan, maka pernikahan tersebut harus didatangi oleh orang Kristen lama agar tidak melakukan pernikahan dengan hukum Islam.
Pada 1526, Merisco dipaksa untuk berbicara menggunakan bahasa Castilis di manapun berada, karena apabila berbicara menggunakan bahasa Arab termasuk perbuatan yang melanggar hukum. Secara keseluruhan, mereka gagal dalam menghilangkan keyakinan tentang Islam dari kebanyakan orang Merisco. Penduduk Merisco dipaksa untuk pergi ke pantai karena mereka akan dibawa ke Afrika Utara dan seluruh desa Merisco dikosongkan. Mereka diizinkan untuk membawa barang-barang mereka sebanyak mungkin, tetapi Spanyol menyita tanah mereka.
Terjadi pemberontakan di selatan Spanyol, dan pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan setelah Merisco pergi. Terdapat laporan bahwa, ada orang Merisco yang berhasil mempertahankan Islam di Spanyol secara sembunyi-sembunyi.


BAB VIII
TEPI
Setelah wafatnya Nabi, umat Muslim memilih untuk tinggal di kota-kota sepanjang pantai Mediterania. Dari kota tersebut, Islam mulai menyebar ke selatan melintasi Gurun Sahara. Mereka melakukan penyebaran Islam dengan berdagang. Mali adalah kerajaan Islam yang ada di Afrika Barat, yang didirikan oleh Sundiata Keita atau ‘Sang Raja Singa’, pada 1200-an.
Kerajaan yang didirikan oleh Sundiata di Afrika Barat tumbuh menjadi kerajaan yang paling kaya dan paling kuat pada masa itu. Mali berada dalam keadaan makmur ketika Mansa Musa berkuasa. Ia memerintah dari 1312 sampai 1337. Pada 1324 M, Mansa Musa melakukan perjalanan haji ke Mekah. Rombongannya berangkat dari sabana Afrika Barat yang diiringi oleh 60 ribu pengiring.
Raja ditemani oleh 12 ribu orang yang memakai jubah sutra mahal dan membawa dua kilogram emas yang berasal dari tambang emas Mali. Unta-unta juga membawa tas yang berisikan pasir emas yang nantinya dibagikan kepada masyarakat miskin. Saat tiba di Mesir, gubernur lokal terkesan dengan raja. Mereka melihat bahwa raja sangat saleh, tidak pernah melupakan shalat, dan menguasai Qur’an.
Pada 1320-an, orang Arab, Persia, dan Andalusia pergi ke Mali bersama dengan Mansa Musa untuk membentuk masyarakat Afrika dengan pengaruh nyata dari dunia Islam yang lainnya. Pusat keilmuan baru bangkit di sabana Afrika Barat, setelah hancurnya Rumah Hikmah Bagdad. Pusat keilmuan tersebut adalah Timbuktu, yang terletak di perbatasan Gurun Sahara.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi penduduk yang ada di pantai Afrika Timur untuk mengenal Islam. Seperti yang terjadi di Afrika Barat, Islam berkembang di sepanjang pantai Samudra Hindia di Afrika melalui jalur perdagangan. Para pedagang yang berasal dari Jazirah Arab, terutama wilayah Hadramaut di Yaman, mulai bertempat tinggal di kota-kota yang berada di sepanjang pantai Afrika Timur setelah Yaman msuk Islam.
Saat melakukan perdagangan, para pedagang menggunakan Swahili, yang merupakan bahasa asli di Afrika Timur. Menurut Ibnu Battuta, kota di sepanjang pantai bukan hanya menjadi pusat perdagangan, tetapi juga menjadi pusat keagamaan.  Afrika akhirnya menyebarkan Islam di Amerika Utara dan Selatan. Ketika kolonialisme Eropa datang ke Dunia Baru, pada 1492, berkembanglah kebutuhan akan tenaga kerja untuk membangun kolonial Eropa di Amerika.
Mereka memperbudak penduduknya sendiri tetapi gagal. Banyak sekali penduduk yang terkena penyakit dari orang Eropa, yang menyebabkan meninggal. Kemudian koloni Eropa menjadikan penduduk kulit hitam sebagai budak mereka. Penduduk dibawa paksa untuk bekerja sebagai budak di Dunia Baru. Mereka bekerja di perkebunan di Karibia dan Amerika Selatan.
Pada abad keenam belas, sampai kesembilan belas, pemahaman tentang Islam di kalangan budak mulai menghilang. Perbudakan yang terjadi selama berabad-abad, memberikan dampak bagi budak Muslim di Amerika. Pada pertengahan 1800-an, di Amerika Serikat, hampir tidak ada Muslim yang memahami tentang Islam. The Nation of Islam, kelompok agama, yang bertujuan untuk memajukan masyarakat kulit hitam di Amerika. Menjelang 1960, Malcolm X dan W.D. Muhammad memimpin ribuan orang Afrika dan Amerika untuk kembali pada pemahaman Islam yang lebih umum.
Tiongkok tidak sepenuhnya menerima Islam. Kaum Muslim masih menjadi minoritas di sana. Awal mula Islam di Tiongkok yaitu pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Tetapi, Islam baru diterima pada 700-an. Migrasi yang dilakukan umat Muslim ke Tiongkok, membuat jumlah pemeluk Islam menjadi bertambah. Warga Tiongkok memiliki identitas : Hui. Hui adalah grup etnis mayoritas Tiongkok, tetapi berbeda dalam identitas keagamaan. Zheng He – Cheng Ho (1371-1433), Muslim Tiongkok yang terkenal, yang menjadi penjajah terbesar. Ia berasal dari wilayah Yunan di Selatan.
Cheng Ho adalah simbol Islam di Tiongkok : Tionghoa asli, Tetapi ia juga Muslim, dan tidak ada pertentangn antara kedua identitas tersebut. Kehadiran bangsa Turki di dunia Islam, mendesak kekuatan Islam untuk lebih jauh ke India. Tercatat bahwa yang pertama kali memimpin ekspedisi militer ke India adalah Mahmud dari Ghazni (997-1030).
Mahmud telah meletakkan dasar-dasar Islam di India. Sejak 1206 sampai datangnya Mughal pada 1526, Kesultanan Delhi memerintah sebagian dari India. Dinasti berikutnya adalah Ghurid, yang meluaskan wilayah mereka ke India, dengan cara merebut Delhi pada 1192. Kesultanan Delhi menjaga India agar tetap terikat dengan dunia Islam, meskipun dipisahkan oleh ribuan kilometer pegunungan tinggi di Himalaya dan Hindu Kush.
Islam sudah ada sejak awal 600-an, tetapi perlu adanya perlindungan entitas politik Islam untuk menyebarkan Islam. Golongn Sufi pergi ke seluruh India untuk berdakwah. Ulama yang berasal dari Arab dan Persia, mereka berkeliling untuk menyebarkan Islam agar mendapat banyak pengikut. Islam mampu mendapatkan pengikut dari seluruh India, melalui gabungan dari dakwah para ulama dan perdagangan yang dilakukan di Gujarat dan Bengali.
Tetapi, jumlah pengikut Islam, tidak pernah melampaui populasi Hindu. Pengaruh pedagang dan pendakwah, semakin kuat ke arah timur, di Kepulauan Melayu. Sebelum peralihan masa, Buddha dan Hindu telah berkuasa di Asia Tenggara. Pengaruh India ke wilayah ini, adalah pengaruh dari Kerajaan Buddha Sriwijaya di Pulau Sumatra dan Kerajaan Medang di Jawa.
Setelah Islam berada di kalangan penduduk India, maka pedagang dan pendakwah menyebarkan Islam ke Asia Tenggara. Raja-raja tertarik untuk masuk Islam karena faktor ekonomi yang dihadirkan. Setelah para penguasa masuk Islam sekitar 1100-an, kerajaan Muslim mulai muncul di kepulauan tersebut. Islam mulai menyebar melalui penguasa Muslim. Pendakwah menyebarkan Islam kepada penduduk melalui cara yang sama seperti yang dilakukan oleh Kesultanan Delhi.
Pendakwah di Asia Tenggara, kebanyakan berasal dari pinggran Samudra Hindia yaitu Yaman. Yaman merupakan pusat ajaran Syafi’i, sehingga mahzab fikih yang menonjol di Afrika Timur, pesisir India, dan Asia Tenggara adalah Imam Syafi’i. Sebaliknya, India utara menganut mahzab Hanafi yang terkenal di Persia dan Asia Tengah. Samudra Pasai adalah kerajaan Islam pertama yang didirikan pada 1200-an. Waktu itu, Marco Polo sedang mengunjungi dan melihat ciri-ciri Islam di kota pelabuhannya.
Di sekitar 1400 M, Islam menyebar ke Timur sampai Kerajaan Malaka. Kerajaan ini, merupakan kerajaan terpenting di wilayah tersebut karena Malaka berpengaruh pada wilayah sekitarnya. Bahasa dan adat Melayu diterima seluruh kerajanan yang mengaitkan seluruh wiyah seperti Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Identitas Melayu berkaitan dengan identitas Islam, di mana ketika seseorang masuk Islam, maka orang tersebut sudah ‘masuk Melayu’.


BAB IX
KELAHIRAN KEMBALI
Menurut Ibnu Khaldun, sejarawan dan filsuf abad keempat belas, setiap dinasti memiliki jangka waktu hidup yang alami. Tahun-tahun pertama dinasti diwarnai dengan pertumbuhan yang terbuka atau bebas. Generasi kedua, pertumbuhannya mulai melambat. Kemudian menjelang generasi ketiga, terjadi kehancuran dinasti.
Akibat dari serangan Mongol, Turki melarikan diri dan mengungsi di daerah perbatasan dunia Islam. Mereka dengan cepat bisa beradaptasi di mana saja, termasuk bekas kekuasaan Byzantium. Seljuk telah mengalahkan Byzantium di Perang Manzikert pada 1071. Sejak saat itulah, Antonio terbuka bagi penaklukan dan pemukiman bangsa Turki, dan dia dikuasai oleh beberapa dinasti Turki yang ada di seluruh semenanjung. Beylik atau negara-negara kecil , biasanya didirikan oleh pemimpin militer yang disebut bey. Bey yang telah mengatur negara tentara kecil yang ada di pinggiran Kekaisaran Byzantium bernama Osman. Osman mampu mengambil keuntungan dari kelemahan Byzantium dan mengincar perluasan daerah ke wilayah Byzantium. Pada 1299, pendirian Ottoman (nama Turki untuk Kerajaan Osman) dilakukan. Kota-kota Byzantium di Anatolia, merupakan pusat perkotaan yang mapan dengan dibenteni pertahanan yang kuat.
Pada awal 1300-an, orang-orng Byzantium disibukkan dengan kekacauan sipil di Balkan, sehingga tidak mampu menahan Ottoman dalam meluaskan daerah mereka. Ottoman dengan sangat cepat dan mudah meluaskan daerah kekuasaannya. Ottoman menyeberangi Selat dardanella dan masuk ke Eropa untuk pertama kali pada 1350-an. Sultan Orhan dan Murad I, anaknya, mampu menegakkan kekuasaan Ottoman di sebagian Thrace dengan memanfaatkan perpecahan Byzantium. Periode terbaik dalam perluasan wilayah Ottoman, terjadi pada zaman Bayezid (1389-1402) sultan keempat. Ia memiliki nama julukan Yildrim yang berarti ‘halilintar’. Ia memperluas wilayah di Eropa pada 1800-an dan menaklukkan Serbia, Bulgaria, dan Yunani. Meskipun Ottoman tidak memiliki teknologi atau jumlah pasukan yang banyak, tetapi Halilintar berhasil mengepung Konstantinopel. Ottoman merupakan kerajaan terkuat di Eropa dan dunia Islam. Timur adalah pemimpin Mongol yang menguasai Asia Tengah dan Persia. Ia ingin mengembalikan kekuasaan Mongol di Anatolia dengan menghadai Ottoman.
Pada 1402, terjadi Perang Ankara di mana dua pemimpin militer besar Beyezid dan Timur bertemu. Mongol berhasil mengalahkan Ottoman pada perang tersebut. Halilintar tertangkap dan dibawa ke iu kota kekuasaan Timur yaitu Samarkand. Kekaisaran Ottoman mengalami perang saudara, setelah sebelas tahun. Anak Beyezid yang bernama, Isa, Musa, Suleiman, dan Mehmet membangun pasukan dan saling berselisih di Eropa dan Asia. Mereka ingin menjadi pewaris kerajaan ayahnya. Hal tersebut akan menjadi masalah, sehingga Sultan Ahmad I merumuskan kebijakan resmi pada abad ketujuh belas. Tetapi pada awal 1400-an, anak-anak sultan bertempur sampai mati. Mehmet menjadi pemenang dan mampu menyatukan wilayah kerajaan di bawah kendalinya, pada 1413. Setelah Mehmet menyatukan kekaisaran pada 1410-an, periode dilanjutkan dengan sedikit rasa sakit akibat masa kosong di mana pemerintahan tidak berfungsi.
Ottoman, di bawah pimpinan Sultan Murad II, terus merampas wilayah Byzantium sehingga hanya tersisa Konstantinopel dan sekitarnya. Murad gagal merebut Konstantinopel karena benteng kota yang kuat. Akhirnya Mehmet II, anaknya menerima untuk menaklukkan kota tersebut. Saat berusia sembilan belas tahun, Mehmet II naik tahta pada 1451. Mehmet mampu menguasai 6 bahasa asing yang digunakan di wilayah kekuasaannya. Mehmet mengingatkan pemimpin Islam sebelumnya seperti, Harun al-Rasyid, dan Saladdin, yang menguaai pengetahuan, kepemimpinan, serta kecakapan dalam militer. Ada dua hal yang mengganggu pikiran Mehmet. Pertama, ia belum berpengalaman, kedua, Konstantinopel.
Konstantinopel masih menjadi kota yang sulit untuk diterobos. Kota ini dikelilingi oleh air, dan daratannya dibentengi oleh Dinding Theodosian yang dibangun pada 400-an. Mehmed perlu adanya tehnik dan pasukan yang baru agar bisa berhasil. Ia membangun benteng di pinggirang Selat Bosphorus yang dibangun di seberang benteng Bayezid I, kakek buyutnya. Dalam pertempuran ini, Mehmet mengerahkan semuanya. April 1453, pasukan Mehmet tiba di kota Konstantinopel. Setelah perjuangan yang begitu luar biasa, akhirnya penaklukkan berhasil dilakukan. Pada 29 Mei 1453, pasukan Islam akhirnya berhasil menaklukkan kota Konstantinopel tersebut. Mehmet “Sang Penakluk”, menjadikan kota ini menjadi ibu kota pemerintahan.
Mehmet terus melakukan perluasan wilayah Ottoman secara militer. Bendera Ottoman berkibar di Serbia, Bosnia, Moldova, dan Albania. Perluasan wilayah militer dan ekonomi dilanjutkan oleh penerusnya yaitu Sultan Beyezid II dan Salim I. Ottoman mengalahkan Dinasti Safavid di Persia dan merampas Kesultanan Mamluk di Mesir dalam pimpinan Salim I. Masa keemasan Ottoman pada masa Sultan Suleiman dari 1520 sampai 1566, tidak diragukan lagi. Suleiman mampu mengubah sistem hukum Ottoman tanpa adanya saingan kekuatan politik, militer, dan ekonomi. Kekuasaan beralih kepada Salim II, saat Suleiman meninggal pada 1566.
Asal mula Safavid sama dengan Ottoman, hanya saja cara pandang dunia dan struktur keagamaannya yang berbeda. Konflik antar keduanya membantu menentukan susunan keagamaan Timur Tengah sampai sekarang. Persia memasuki periode anarkisme politik, setelah kemunduran dan jatuhnya kerajaan Timur pada 1400-an. Perkembangan kekuatan Safavid serta pandangan keagamaan pada akhir 1400-an, mendapatkan perlawanan dari pangeran-pangeran Suni di Persia. Pada 1488, pemimpin Safavid terbunuh dan digantikan oleh Ismail. Pada 1501, ia merebut kota Tabriz dan akan menjadikannya sebagai ibu kota pemerintahannya. Pada 1514, Salim menyerbu wilayah Safavid untuk menghancurkan Ismail dan pasukannya. Mereka bertemu di Chaldiram, dekat ibu kota Tabriz. Tetapi, Salim tidak dapat merampas wilayah Safavid. Kerajaan Safavid mencapai puncak kejayaan pada pimpinan Shah Abbas I, cucunya, yang memerintah sejak 1587 sampai 1629.
Kerajaan Mughal didirikan oleh Babur (1483-1530), penakluk Turki yang berasal dari Asia Tenggara. Ia mengaku sebagai keturunan Genghis Khan dan Timur. Ia yakin bahwa ia akan memimpin kerajaan besar. Tetapi, awal kepemimpinannya di Uzbekistan tidak terlalu berhasil. Ia kehilangan kontrol atas kota utama Samarkand dan tanah nenek moyangnya di Lembah Fergana, sehingga ia harus mengucilkan diri bersama dengan sekelompok kecil pengikut. Ia menyerang kesultanan Delhi yang dipimpin Dinasti Lodhi, pada 1542. Kerajaan Mughal memperluas wilayahnya ke seluruh anak benua India, pada akhir abad keenam belas. Kerajaan Mughal menyatukan beragam manusia dan tradisi, seperti yang dilakukan Kerajaan Ottoman.
Minar Sinan, seorang murid arsitek dari Ottoman, pergi ke Kerajaan Mughal untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan Taj Mahal. Pada masa Kaisar Akbar, susana pencampuran budaya telah mencapai puncaknya. Akbar merumusakan sendiri teori keagamaan yang ia sebut sebagai Din-e Ilahi atau “Agama Tuhan”. Tetapi, Din-e Ilahi tidak pernah terkenal. Kemudian Mughal diteruskan oleh Aurangzeb, kaisar Mughal ketujuh yang berkuasa di puncak Mughal. Ia mendapatkan gelar Alamgir, Penakluk Dunia, karena kekuasaan militernya di seluruh dunia. Aurangzeb tidak setuju dengan pembangunan Taj Mahal oleh ayahnya yaitu Shah Janan. Ia menganggap bahwa hal tersebut pemborosan dan bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad.
Ottoman, Safavid, dan Mughal dikenal sebagai Kerajaam Mesiu. Kerajaan yang pertama kali memanfaatkan mesiu dan meriam adalah Kerajaan Ottoman, yang kemudian disusul oleh Safavid dan Mughal. Kekhalifahan dipegang oleh Ottoman, tetapi para ulama menyetujui bahwa setiap wilayah memiliki khalifah sendiri-sendiri. Ada beberapa surat yang dikirimkan kepada Raja Mughal, dengan gelar khalifah, Amir al-Mu’minin yang artinya ‘Pemimpin Mukminin’, dari sultan-sultan Ottoman. Yang paling terkenal terjadi pada masa pemerintahan Abdul Hamid II, yang berasal dari Ottonom, pada akhir abad kesembilan belas. 


BAB X
KEMUNDURAN
Islam berasal dari Gurun Arab yang menciptakan kerajaan-kerajaan paling kuat di dunia, pada abad ketujuh belas. Bangkitnya kekuatan Islam di dunia ditandai dengan datangnya Kerajaan Ottoman, Safavid, dan Mughal pada abad kelima belas dan keenam belas. Menjelang 1520-an, Ottoman berada di Eropa Tengah di Wina. Mereka telah menjadi kerajaan utama di Eropa, meskipun tidak menguasai kota tersebut. Pada 1566, Ottoman mengalami kemunduran yang terjadi pada akhir masa kekuasaan Sultan Suleiman. Alasan utama dari kemunduran Ottoman adalah mereka tidak mampu mendapatkan kemenangan di medan perang. Pasukan Ottoman, berhasil mencapai wilayah utara sebelum musim gugur karena tradisi pengiriman pasukan tahunan dari Istanbul setiap musim semi.
Pada 1529, pengepungan Wina, pasukan Ottoman meninggalkan Istanbul dan berjalan melewati Balkan sepanjang musim panas, dan sampai di luar tembok Wina pada akhir September, tetapi mereka gagal untuk menguasai Wina. Ottoman dipaksa untuk menyerahkan wilayah melalui perjanjian yang dilakukan untuk pertama kali, setelah perang melawan Eropa. Perjanjian tersebut disebut Perjanjian Karlowitz. Ketidakmampuan Ottoman untuk menang dalam militer, berkaitan dengan aspek kerajaan yang lain. Ottoman adalah kerajaan militer. Operasi militer Ottoman memberikan pendapatan besar dalam ekonomi dan politik, selama msa perkembangan 1300 sampai pertengahan 1500-an. Sultan Ottoman diminta untuk memimpin pasukan dalam pertempuran, mengurus pemerintahan, menetapkan hubungan dengan negara lain, dan mempertahankan Islam.
Pada masa Salim II, banyak sultan yang memilih menghabiskan waktu mereka dengan kemewahan istana daripada terlibat dalam pemerintahan kerajaan itu sendiri. Mereka memilih wakil untuk memimpin pasukan, sedangkan mereka sendiri lebih memilih untuk menikmati kenyamanan di Istanbul. Sultan Ahmad II mengakhiri perebutan kedudukan atau kekuasaan dengan para pangeran di Ottoman. Hasil dari perubahan yang terjadi membuat Dinasti Ottoman tidak mampu untuk menghasilkan sultan yang pandai pada 1600 dan 1700-an. Masalah yang terjadi di Kerajaan Ottoman adalah berkaitan dengan situasi Ekonomi di Eropa pada 1500-an. Ekonomi Ottoman tidak berdaya karena tidak ada lagi perang atau penaklukkan yang menghasilkan barang rampasan  dan kebangkitan Eropa Barat membuat Kerajaan Ottoman menjadi melemah. Walaupun seperti itu, tetapi Kerajaan Ottoman masih menjadi kerajaan terkemuka di Eropa dan Timur Tengah. Ketika para perdana menteri mengerti bahwa era kspansi telah berakhir, maka hubungan tidak baik antara Ottoman dengan Eropa mulai memudar. Ottoman kehilangan wilayah yang di Eropa, pada akhir abad kedelapan belas. Hal ini sangat menguntungkan bagi Kristen Eropa.
Kerajaan Ottoman harus melakukan reformasi pada 1800, agar bisa tetap bertahan. Mahmud II adalah sultan pertama yang melakukan reformasi. Ia menyusun kembali pemerintahan Ottoman menjadi bergaya Eropa. Reformasi dilanjutkan dan dipercepat oleh Abdulmajid I dan Abdulaziz. Mereka adalah anak dari Sultan Mahmud. Masa kekuasaan Abdulmajid disebut sebagai Tanzimat, yang menggunakan bahasa Turki untuk reorganisasi. Tanzimat memberikan perubahan yang mendasar dalam melaksanakan pemerintahan Ottoman secara hukum. Tanzimat yang berlangsung sampai 1876, gagal untuk memperlambat kemunduran negara Ottoman.
Seorang pemimpin yang cakap seperti Abdulhamid sangat dibutuhkan saat ia naik tahta. Ia berjanji untuk meneruskan reformasi Tanzimat liberal, tetapi ia membawa kerajaan menuju arah yang baru. Ia berusaha untuk mengembalikan kekuatan tradisional yang dimiliki kesultanan. Pan-Islamisme sangat didukung karena berharap dapat memberikan energi baru ke dalam pergerakan Ottoman. Abdulhamid mengadakan serangkaian rencana untuk mengembalikan bentuk Islam ortodoks yang telah hilang, sambil berharap untuk menyatukan semua Muslim dalam gagasan pan-Islam. Tujuan pan-Islamisme yang dilakukan Abdulhamid sesuai dengan sudut pandang non-sekuler Tanzimat. Reformasi yang dilakukan dan bertujuan memperkuat kerajaan terus berlangsung.
Abdulhamid tidak mampu menahan penyebaran liberalisme dan sekulerisme di wilayah kekuasaannya meskipun ia sudah berusaha melakukan perubahan dengan mempertahankan bentuk Islam dan monarki. Abdulhamid diberhentikan pada 1909, oleh perkumpulan rahasia yaitu Turki Muda. Ia berhasil mengakhiri kekuasaan Abdulhamid dan pemerintahannya. Tetapi mereka tidak mengakhiri kesultanan, dan tiga puluh tahun berikutnya dua sultan masih memimpin. Sehingga kekuasaan jatuh ke tangan Turki Muda.
Bentuk kerajaan yang terpusat, mulai terurai setelah puncak kekuasaan Mughal di India. Pada 1707, Azam Shah dibunuh oleh Bahadur Shah, saudara tirinya. Ia hanya berkuasa selama tiga bulan saja. Kemudian Bahadur hanya memimpin selama lima tahun sebelum kematiannya. Dalam dua belas tahun setelah Aurangzeb, ada lima raja yang berkuasa. Ketidakstabilan merajalela ketika kerajaan tercerai menjadi negara merdeka sepanjang 1700-an. Pashtun di utara, mampu mendirikan kerajaan yang akan berkembang menjadi negara Afganistan modern. Menjelang pertengahan 1700-an, Maratha berhasil menaklukkan  sebagian besar India utara dan tengah. Pada abad kedelapan belas, negara-negara di India mengalami jatuh-bangun dalam kekuasaan dan Inggris masuk di tengah keributan itu. British East India Company bangkit menjadi kekuatan politik dengan sistem pemerintahan, militer, ekonomi, dan tujuan politiknya sendiri, pada akhir abad kedelapan belas. East India Company, tidak memiliki kedaulatan yang nyata dan hanya menjalankan kendali melalui penguasa lokal.
Sejak abad keenam belas, Pantai Mediterania di Afrika Utara menjadi wilayah Ottoman. Tradisi penyerangan dan pertahanan muncul di Mediterania terus tumbuh. Eropa menganggap Afrika Utara sebagai perampok, sedangkan pelaut Islam menganggap dirinya sebagai pembela Islam dan menganggap Eropa sebagai bangsa gila perang yang tidak berbudaya. Eropa berhasil mengalahkan Afrika Utara dengan cara mengebom kota-kota utama seperti Aljazair dan Tripoli. Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Afrika Utara jatuh ke tangan Eropa. Pada 1830, Prancis menyerang Aljazair dan wilayah sekitarnya. Ratusan ribu orang Prancis pindah ke Aljazair, kemudian mereka menguasai ekonomi dan budaya lokal. Pada 1881, Tunisia juga ditaklukkan.
Pada 1798, Napoleon menyerang daerah kekuasaan Ottoman untuk melindungi Prancis dan menghancurkan perdagangan Inggris di wilayah tersebut. Tetapi, usaha penyerangan tersebut gagal. Pada akhir 1800-an, Prancis masuk ke pedalaman. Eropa merampas kota-kota besar yang menjadi pusat pengetahuan, salah satunya adalah Timbuktu. Oman adalah negara yang berada di sepanjang pantai tenggara Arab. Sejak awal 1700-an, Oman mengendalikan kerajaan maritim di Afrika Timur. Oman mengawasi perdagangan pantai dan menyelipkan pengaruh besar. Pada 1856, ketika terjadi krisis pergantian pemimpin, Inggris memaksa agar Oman dan Zanzibar pisah menjadi dua negara dan kemudian melemahkan keduanya. Inggris juga melarang adanya perdagangan budak di daratan. Hal ini menyebabkan semakin melemahnya Islam di Afrika Timur.
Rusia berperan dalam penaklukkan wilayah Islam di Asia Tengah. Salah satunya adalah Tatar Islam di wilayah Vilga. Tatar muncul sebagai kekuatan ekonomi dan menjadi perantara dalam perdagangan Kristen dan Rusia. Rusia merampas wilayah-wilayah Asia Tengah dengan memanfaatkan ikatan ekonomi yang ada, pada 1800-an. Rusia menaklukkan seluruh wilayah dari Turki sampai Khurasan pada akhir abad tersebut. Rusia dan Inggris memberikan pengaruh yang besar bagi negara Persia, meskipun keduanya tidak bisa menguasai negara tersebut. Untuk memperluas peluang perdagangan, penjajah komersial menggunakan kekuatan militer. 


BAB XI
GAGASAN LAMA DAN BARU
Kebanyakan umat Muslim menganggap bahwa bukti dari kebenaran Islam adalah catatan sejarah dan sifatnya yang mengagumkan. Tetapi, kemunduran peradaban Islam dan penaklukkan yang dilakukan oleh Eropa bisa menjadi masalah teologis. Para cendekiawan Muslim, menjawab pertanyaan tersebut untuk mengembalikan masa kejayaan dengan menghidupkan Islam kembali.
Kota-kota yang pernah menjadi pusat kehidupan sosial dan politik Islam, berfungsi sebagai tempat pertemuan umat Islam dengan kelompok Eropa pasca-Pencerahan. Turis, pegawai pemerintahan, dan imam Kristen Eropa, berbaur dengan penduduk sipil Islam, padahal sudah jelas bahwa penduduk Islam mudah terpengaruh dengan budaya Barat.
Yang menarik adalah mereka mengambil budaya Barat, tetapi jarang sekali mengambil budaya Arab. Bagi mereka, mengambil budaya dan norma Barat demi meniru kekuatan penjajah adalah hal yang wajar. Selain budaya dan norma, terjadilah juga pengambilan gagasan Barat tentang politik dan pemerintahan.
Apabila bangsa Arab ingin menegakkan masa kejayaan, maka mereka harus bersatu sebagai bangsa Arab, bukan bangsa Muslim. Muhammad bin Abdul Wahhab melakukan usaha untuk membangkitkan Islam tradisional. Ia berasal dari sebuah suku yang berada di gurun pasir Jazirah Arab. Ia menganut tradisi Hanbali dan Ibnu Taymiyyah, yang menekankan keungguluan tradisi kenabian.
Abdul Wahhab dan pengikutnya berpendapat bahwa sebagian besar umat Muslim sudah tidak beriman lagi, pada 600-an. Untuk menyelamatkan Islam, mereka harus kembali pada bentuk Islam yang murni seperti yang dijalankan pada awal Islam yang biasa disebut kaum ‘salaf’ yaitu “Kaum Pendahulu”.
Abdul Wahhid memiliki pengikut yang bernama Muhammad Ibnu Sa’ud. Ia adalah pemimpin komunitas kecil di Gurun Arab.Cukup sulit untuk mewujudkan gerakan Abdul Wahhab karena membutuhkan waktu yang berabad-abad. Salah satu ulama yang khawatir akan perpecahan umat Islam adalah Shah Waliullah 1703-1762). Umat Islam memikirkan Universitas Al-Azhar di Kairo setelah diubah menjadi sekolah Suni oleh Saladdin, pada abad kedua belas.
Hasan al-Banna, seorang guru sekolah Mesir, berusaha menyesuaikan modernisasi Barat dengan nilai Islam tradisional. Sebuah organisasi yang didirikannya yaitu Ikhwanul Muslimin, yang mendirikan sekolah, rumah sakit, dan organisasi kesejahteraan sosial.  Yang akan menjadi pemimpin tatanan politik baru di Timur Tengah bukanlah nasionalisme Arab atau Turki. Archduke Franz Ferdinand yang berasal dari Austria-Hungaria, dibunuh di Sarajevo pada 1914. Pemerintah Ottoman dikenal sebagai Tiga Pasha, di mana dipimpin oleh tiga tokoh Turki Muda yang mengikuti perang di pihak Jerman melawan Inggris, Prancis, dan Rusia. Ottoman tidak berada dalam keadaan yang menguntungkan karena militernya sudah ketinggalan zaman dan kurang dalam kepemimpinan yang efektif.
Inggris menjanjikan kepada Ottoman, tentang sebuah kerajaan Arab bersatu di Jazirah Arab dan Bulan Sabit Subur sebagai imbalan untuk dukungan militer yang telah diberikan. Tetapi Inggris tidak akan akan membiarkan pribumi Muslim berkuasa. Arthur Balfour, Menteri luar negeri kerajaan Inggris, mengirim surat kepada Baron Rotshchild, pada 1917. Isi dari surat tersebut adalah menjanjikan dukungan pendirian ‘rumah nasional bagi orang Yahudi’ di Palestina. Deklarasi Balfour menjanjikan dukungan, tetapi berlawanan dengan perjanjian awal.
Inggris, Prancis, Italia, dan Yunani, berhasil menduduki Anatolia setelah terjadi perang. Mustafa Kemal, perwira tentara ottoman, mengumpulkan rekan-rekan seangsanya untuk melawan penduduk asing. Pada 1919 dan 1922, ia berhasil mengusir penjajah. Mustafa mengumumkan pembentukan negara baru yaitu Turki. Maksud dari pembentukan negara baru tersebut untuk menggantikan Kerajaan Ottoman. Pada 623, kesultanan Ottoman dihapuskan karena pada saat itu Oman mulai mendirikan Turki. Kemal mendapatkan julukan “Ataturk” yang berarti ‘Bapak Bangsa Turki’.
Ataturk menyampaikan bahwa Turki tidak lagi berkaitan dengan dunia Islam. Tidak ada lagi ruang untuk berhubungan dengan orang Islam  di Turki. Semua yang berada di wilayah Turki seperti bangsa Yunani, Arab, Kurdi, dan Amerika, ditindas oleh pemerintahan baru. Batas wilayah Irak dibagi menjadi tiga bagian yaitu Suni Arab, Suni Kurdi, dan Syi’ah Arab, yang masing-masing bagiannya adalah sepertiga dari seluruh penduduknya.
Pada 1848, populasi Yahudi di palestina sangat besar, sehingga mereka mendirikan satu negara baru yaitu Israel. Antara 1948 dan 1949, lebih dari 700 ribu Arab Musli dan Kristen, diusir oleh Israel dan akhirnya mereka mengungsi di Yordania, Mesir, Suriah, dan Lebanon. Pengusiran tersebut biasa disebut Nkba atau Katastropi, yang menjadi bencana. Pada akhir 1800-an, Kongres Nasioanl India untuk mendorong kekuatan politik yang lebih besar dalam menghadapi penduduk Inggris. Pada awal 1900-an, gerakan kemerdekaan India menimbulkan suatu masalah bagi umat islam.
Mohandas Gandhi, salah satu pemimpin Kongres Nasioanl India, tidak mendukung negara Islam merdeka di India. Karena ia menganggap apabila Islam merdeka di India, maka akan melemahkan India secara keseluruhan. Umat Islam menjadi minoritas di India sehingga dipimpin oleh Kongres Nasional India. Pada abad kedua puluh adalaha saksi kemerdekaan yang dicapai oleh negara-bangsa Islam yang ada di seluruh dunia.
Sedangkan pada 1960-an, adalah saksi kemerdekaan negara-negara yang ada di sepanjang su-Sahara Afrika yang terdiri atas Nigeria, Mali, Mauritania, Kenya, dan Tanzania. Indonesia berdiri pada 1949, setelah perang panjang melawan Belanda. Pada 1963, Inggris menguasai wilayah Semenanjung Malaka dan Pulau Borneo. Islam hidup bebas dari kontrol Eropa sepanjang 1900-an.
Dunia Islam akhirnya mampu untuk mengatasi kekuatan politik yang mengancan Islam. Pada abad kesebela dan kedua belas, negara-negara Kristen bangkit untuk menyatukan Iberia dan Afrika Utara. Berbagai negara Islam yang baru merdeka, tidak dapat melihat kejayaan masa lalu dan menciptakannya kembali pada abad kedua puluh. Pandangan mereka adalah sekuler dan nasionalis.
Dunia Arab mengadpsi dan nasionalisme untuk menciptakan negara-negara yang kuat, dengan pdipimpin Mesir. Negara Arab Saudi adalah negara yang berbentuk monarki absolut yang mirip dengan suku Arab pada masa lalu. Dunia Islam harus disatukan antara masa lalu dengan masa kekinian yang didominasi paham sekuler. Ada kaum tradisionalis yang menuntuk dunia Islam untuk kembali ke masa lalu.
Peristiwa Musim Mesi yang terjadi antara Arab dan pergolakan di Mesir, Tunisia, dan Suriah, menambah kejelasan bahwa adanya ketidakcocokan antara kedua belah pihak yang sedang bersaing.  Cara menyelesaikan permasalahan tersebut akan menentukan arah dunia Islam dalam waktu mendatang. Mereka akan menentukan era baru dunia Islam. di mana dunia Islam adalah dunia yang tidak bisa dipisahkan dari 1400 tahun sejarah Islam sebelumnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

HIDUP SETELAH MATI