RESUME BUKU
SEJARAH ISLAM YANG HILANG
SEJARAH ISLAM YANG HILANG
Dosen
Pengampu : M. Endy Saputro, M.A.
Disusun oleh :
Nama : Musta’nifatul Fauziyah
NIM : 175221077
Kelas : AKS 2 B
JURUSAN AKUNTANSI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SURAKARTA
AJARAN 2017/2018
BAB I
ARAB PRA-ISLAM
Apabila kita mendengar kata Arab,
pasti yang ada di pikiran kita adalah padang pasir yang kering dan panas. Di
mana tidak ada tetumbuhan maupun pemukiman yang menetap di lingkungan tersebut.
Salah satunya adalah Hijaz. Hijaz merupakan wilayah yang bergunung dan berbukit
pasir yang kering dan terletak di bagian barat semenanjung Arab. Terlebih lagi
pada saat musim panas, suhunya bisa mencapai lebih dari 37 derajat Celcius.
Meskipun dalam keadaan seperti itu, pada awal 600-an M, dibentuk sebuah gerakan
baru yang mampu mengubah sejarah Semenanjung Arab dan dunia.
Arab berhubungan dengan tiga benua
Dunia Lama di antaranya Asia, Afrika, dan Eropa. Banyak orang luar yang
mengabaikan Arab meskipun berada pada lokasi yang strategis. Orang Mesir Kuno tidak
meluasakan wilayah mereka ke padang pasir Arab, tetapi memilih meluaskan
wilayah mereka ke Bulan Sabit Subur dan Nubia. Kekaisaran Roma menyerang
semenanjung melalui Yaman pada 20-an M, tetapi mereka tidak dapat beradaptasi
dengan wilayah semenanjung yang penuh dengan dataran pasir yang kering dan
panas sehingga mereka gagal untuk menguasai semenanjung.
Keadaan
iklim di Arab sangatlah panas, sehingga banyak orang luar yang mengabaikan
Arab. Bahkan bagi para suku nomaden yang tinggal di sana, mereka mengatakan hal
yang sama. Meskipun ada hujan musiman pada musin gugur, tetapi gurun tetap
kering dan panas sepanjang tahun dikarenakan hujan tidak bisa sampai ke gurun
Arab karena terhalang oleh dataran tinggi. Wadis berfungsi sebagai jalur air
hujan yang mengalir dan bermanfaat sebagai sumber air bagi pertumbuhan tanaman
musiman yang ada di Arab. Tetapi setelah musim hujan berakhir, wadis kembali
kering seperti biasanya dan tidak lagi menjadi sumber air.
Selain
wadis, ada juga tempat yang bisa menjadi sumber air yaitu oasis. Oasis adalah
tempat subur kecil yang ada di gurun. Oasis bisa digunakan untuk tempat tinggal
komunitas kecil dan juga digunakan untuk singgah bagi orang yang bepergian. Kebudayaan
Arab sama halnya dengan kebudayaan lainnya. Di mana kebudayaan terbentuk atas
kebiasaan yang dilakukan orang Arab atau dibentuk oleh lingkungan tempatnya
berkembangan. Orang Arab selalu berpindah-pindah tempat dari satu tempat ke
tempat yang lain hanya untuk mencari daerah yang subur yang bisa dijadikan
tempat tinggal bagi kelompoknya. Mereka menghabiskan musim panas di sekitar
oasis ataupun sumur dengan menerapkan hidup hemat, yaitu menjaga bahan makanan
dan persediaan air. Mereka akan bermigrasi ke selatan, dekat Yaman, tempat di
mana turunnya hujan pada musim semi dan tanah subur untuk ternak mereka. Mereka
juga membangun tenda sebagai pemukiman sementara selama musim dingin.
Setelah
musim dingin berakhir dan kembali musim kering, maka orang Arab kembali ke
oasis dan sumur untuk melanjutkan
kehidupan mereka. Hal tersebut menjadi kebiasaan yang dijalani orang Arab Badui
yang masih hidup di padang pasir Arab. Orang Arab pergi bersama-sama dengan
sekelompok keluarga yang dipimpin oleh kepala suku atau shaikh. Pada masa Arab
pra-Islam, identitas dan asal suku sangat penting sehingga anggota suku akan
mendapatkan kenyamanan dengan adanya perlindungan, dukungan, dan kesempatan
ekonomi. Terjadi peperangan antar suku yang sangat mengerikan yang berlangsung
selama bertahun-tahun. Perang terjadi untuk mempertahankan salah satu
anggotanya dan memperebutkan tanah berumput dan binatang ternak. Bagi mereka
perjuangan tersebut harus terus dilakukan untuk bertahan hidup.
Orang
Arab sulit sekali mendapatkan sumber daya dan waktu untuk membuat patung dan lukisan
kebudayaan Mesir kuno dan Yunani. Tetapi niat mereka membuahkan hasil, mereka
menemukan bentuk baru yaitu bahasa. Di Arab puisi menjadi seni de facto (sesuai
dengan fakta) di mana syair panjang yang menceritakan riwayat perjuangan adalah
karya seni terbesar mereka. Orang Arab menghormati syair yang digantung di
dinding Kakbah Mekah. Syair tersebut adalah tujuh syair terbaik pra-Islam yang biasa
disebut mu’allaqat.
Orang Arab pra-Islam hampir semuanya
mempercayai politeis (adanya lebih dari satu Tuhan). Tradisi Islam meyakini
bahwa Nabi Ibrahim dan Ismail anaknya, membangun Kakbah di Mekah sebagai tempat
untuk menyembah satu Tuhan, tetapi sebenarnya Kakbah dibangun oleh Adam. Dari
Kakbah, Ismail bisa menyampaikan ajaran monoteisme (percaya kepada satu Tuhan)
kepada bangsa Arab. Tetapi anak-cucu Ismail menyimpang ajaran monoteisme
tersebut. Mereka membuat patung untuk menampilkan sifat-sifat Tuhan. Orang Arab
masih menganggap bahwa Ibrahim dan Ismail adalah Tuhan (Allah). Tetapi mereka
mempercayai bahwa Tuhan (Allah) itu satu. Sistem kepercayaan tersebut melenceng
dari ajaran yang telah diajarkan oleh Ibrahim dan Ismail dan mencerminkan
pengaruh terhadap agama Sumeria ke bagian utara. Masyarakat Kristen dan Yahudi yang
terpencil masih berada di semenanjung Arab dan mereka masih menghormati Ibrahim
dan Ismail.
Bangsa Romawi menjadi penguasa di
sepanjang perbatasan utara semenanjung pada dekade awal Masehi. Romawi menumpas
pemberontakan Yahudi di Provinsi Suriah Palestina dan menahan mereka di wilayah
tersebut. Hal ini memberikan dampak positif bagi bangsa Arab Badui, mereka
menganggap telah hadir mitra dagang kaya dan kuat di sebelah utara. Para
pedagang memperdagangkan barang-barang dari Yaman ke Suriah. Berdirinya Dinasti
Sassanid di Persia pada 200-an M menimbulkan persaingan panjang antara bangsa
Romawi dan Persia dan berdampak pada bangsa Arab. Batas antara dua
kekaisaran besar ini biasanya di Gurun
Suriah, semenanjung Arab sebelah utara. Mereka saling berusaha untuk lebih
unggul dengan memanfaatkan suku-suku yang beragama Kristen di Arab.
Akhirnya
persekutuan ini berkembang menjadi negara sekutu. Penguasa Sassanid mendirikan
kerajan yang terdiri dari Yordania, Suriah, dan Palestina. Begitu pula dengan
Lakhmids yang mengontrol Mesopotamia selatan dan melayani Persia. Peperangan
terjadi terus menerus sehingga melemahkan Romawi dan Persia pada awal 600-an.
Mereka bersembunyi di balik kekuatan militernya. Terdapat kerajaan Aksum yang
kuat di Abbysinia, Ethiopia. Aksum adalah negara perdagangan yang menghubungkan
kerajaan-kerajaan di pedalaman Afrika, rute laut Samudra Hindia, dan bagian
selatan Semenanjung Arab.
Aksum
adalah kekaisaran Kristen yang pernah bersaing dengan Persia. Salah satu
konflik yang terjadi adalah pengendalian perdagangan melalui Yaman. Pada awal
600-an muncul sebuah gerakan yang akan mengubah nasib bangsa Arab selamanya,
dengan membangun dan memanfaatkan kemampuan mereka serta membuang perilaku
budaya negatif. Faktor geografi, iklim, dan politik memberikan dampak positif bagi
bangsa Arab. pada awal 600-an, pertumbuhan kekuasaan dan kebudayaan dicapai
dari seseorang yang mengirim pesan revolusioner dan berjanji bagi nasib bangsa
Arab, beliau adalah Muhammad.
BAB
II
KEHIDUPAN
SANG NABI
Nabi
Muhammad lahir sekitar 570 M di Mekah. Ia berasal dari klan Bani Hashim, bagian
suku Quraisy yang mengendalikan Mekah yang merupakan pusat perdagangan dan
agama di Semenanjung Arab. Mekah berkembang bebas tanpa ada pengaruh dari
asing. Mekah menjadi lokasi Kakbah dan menjadi tempat beribadah haji bagi
bangsa Arab dari seluruh penjuru Semenanjung Arab. Muhammad adalah anak yatim
piatu. Ayahnya yang bernama Abdullah, wafat sebelum ia lahir. Saat itu ayahnya
sedang melakukan perjalanan ke Kota Yasrib untuk berdagang. Ibunya yang bernama
Aminah, wafat pada saat Muhammad berumur enam tahun. Kemudian Muhammad dirawat
oleh Abdul Muttalib kakeknya. Dua tahun kemudian kakeknya wafat dan Muhammad
dirawat oleh pamannya yaitu Abu Thalib.
Muhammad
berasal dari suku Quraisy yang kaya. Tetapi ia hidup dalam kesederhanaan. Saat
kecil, ia menemani pamannya berdagang ke Suriah. Ia mendapatkan dua julukan
yaitu as-Sidiq dan al-Amin, yang artinya “yang benar” dan “dapat dipercaya”. Ia
mendapatkan julukan tersebut karena ia pedagang yang jujur. Ia pun dihormati
orang-orang Quraisy. Pada usia dua puluh tahun, Muhammad menjadi pedagang yang
suskses dan bekerja sama dengan janda kaya yaitu Khadijah. Pada usia dua puluh
lima tahun, Khadijah melamar Muhammad dan lamarannya itu diterima oleh Muhammad
meskipun usia mereka terpaut jauh. Muhammad hidup bersama orang-orang Quraisy
yang menyembah patung (politeistis), tetapi Muhammad tidak mengikuti ajaran
agama tersebut. Ajaran Ibrahim dan Ismail tidak sepenuhnya hilang, masih ada
yang mempertahankan ajaran tersebut yang dikenal sebagai hunafa yang berarti
“penganut monoteis”. Hunafa tidak menerima ratusan tuhan-tuhan kayu dan batu, begitu pula dengan Muhammad. Muhammad
lebih memilih menyepi di sebuah gua di atas gunung yang berjarak lima kilometer
dari pusat Kota Mekah, dari pada terlibat dalam penyembahan patung. Di sana, ia
merenungkan masyarakat dan agama di Mekah.
Pada
610 M, saat Muhammad di dalam gua, ia didatangi seorang malaikat yang
memerintahkan, “Bacalah!” Kemudian ia menjawab bahwa ia buta huruf (tidak bisa
membaca). Kemudian malaikat memerintahkannya lagi untuk membaca. Muhammad
kembali menjawab tidak bisa. Sampai tiga kali malaikat memerintahkannya untuk
membaca, dan ia tetap menjawab bahwa ia tidak bisa. Akhirnya malaikat
membacakan ayat-ayat Qur’an yang pertama diturunkan : Q.S. Al-‘Alaq [96] : 1-5.
Muhammad mengulangi kata-kata tersebut, kemudian malaikat mengatakan bahwa
dirinya adalah Jibril, malaikat yang diperintahkan oleh Tuhan Yang Maha
Esa untuk menyampaikan wahyu kepada
Muhammad dan Muhammad adalah utusan Allah. Muhammad kaget dan takut mendengar
kata-kata tersebut, akhirnya ia bergegas pulang ke rumah karena tidak
mengetahui apa maksud dari perjumpaannya dengan malaikat Jibril tersebut.
Khadijah
mempercayai cerita Muhammad. Begitu pula dengan sepupunya, ia langsung menerima
Muhammad sebagai rasul, seperti halnya dengan Musa dan Isa sebelumnya. Akhirnya
Muhammad hidup sebagai seorang Nabi pembawa pesan Tuhan. Khadijah langsung
memeluk Islam pada saat itu juga. Nabi langsung mengajak kawan terdekat untuk
beragama Islam. Abu Bakar (teman dekatnya), Ali (sepupu), dan Zaid
(pembantunya), menghormati dan mempercayai Muhammad sebagai nabi. Mereka
memberitahukan kepada kalangan terdekat mereka untuk memeluk agama Islam dan
perlahan pemeluk agama Islam mulai bertambah. Dakwah pertama Nabi Muhammad
dilakukan secata sembunyi-sembunyi. Kemudian turun ayat-ayat yang disampaikan
kepada masyarakat, yaitu Q.S. Al-Humazah [104] : 1-4. Muhammad mempercayai
bahwa hanya ada satu Tuhan.
Mekah
menjadi pusat kehidupan religius bagi bangsa Arab. Orang-orang Arab pergi ke
Mekah untuk ziarah dan menghormati ratusan patung yang ada di sekitar Kakbah. Orang
Quraisy memanfaatkan kesempatan ini untuk berdagang. Mereka mengambil
keuntungan dengan berdagang. Ajaran Nabi Muhammad untuk menolak berhala dan
lebih meningkatkan keimanan kepada Tuhan. Tetapi ini bukan berita yang bagus
bagi kaum Quraisy. Apabila tidak ada berhala maka tidak ada ziarah, dan apabila
tidak ada ziarah maka kaum Quraisy tidak bisa melakukan perdagangan lagi di
Mekah. Karena hal tersebut, mereka tidak bisa mengungkapkan agama Islam kepada
para pemimpin suku. Komunitas muslim sangatlah kecil dan lemah, mengingat bahwa
sebagian besar penganut awal berasal dari orang-orang kalangan bawah.
Komunitas
Muslim menjadi lebih besar karena bertambahnya penganut agama Islam, sehingga
peluang ketahuan akan semakin tinggi. Ketika sekelompok penyembah berhala
melihat sekelompok Muslim sedang shalat, mereka langsung mencela kaum Muslim.
Monoteisme, keadilan sosial, kesetaraan, dan ketundukan kepada perintah Tuhan,
semuanya mengancam kaum Quraisy. Para pemimpin Quraisy ingin menghindari
gerakan religius dan sosial dengan cara menyingkirkan Muhammad. Budaya Arab tua
menyatakan apabila Nabi Muhammad terbunuh, maka angotanya diizinkan untuk balas
dendam dan akan menjadi perang saudara. Suku Quraisy mengancam dan
menganiaya para pengikut Nabi Muhammad
agar mereka patah semangat dan tidak bergabung dengan agama Islam. Bahkan kaum
Quraisy juga mencegah penyebaran agama Islam di luar Kota Mekah.
Raja
Kristen, Negus menjanjikan perlindungan kepada para pengungsi Muslim yang
melarikan diri ke Abyssinia. Mengetahui hal tersebut, Quraisy mengirim utusan
untuk mengejar para pengungsi dan meyakinkan sang raja untuk mencabut
perlindungan yang diberikan untuk kaum Muslim. Tetapi pada saat raja
mendengar Ja’far, sepupu Nabi, membaca
ayat-ayat Qur’an, ia menolak untuk mencabut perlindungan kepada kaum Muslim.
Akhirnya utusan Quraisy kembali ke Mekah tanpa membawa umat Muslim. Pada 617 M,
Quraisy menerapkan boikot terhadap Bani Hashim. Mereka dipaksa untuk menjauh ke
tempat di luar Mekah. Hal ini berakibat buruk bagi komunitas Muslim. Mereka
kelaparan, isolasi sosial (dikucilkan), dan kesulitan ekonomi. Beberapa Muslim
yang bukan berasal dari Bani Hashim, membantu dengan mengirimkan bahan makanan
kepada Bani Hashim.
Akhirnya
boikot tersebut sudah mulai tidak efektif lagi untuk menghentikan Nabi Muhammad
dalam berdakwah. Setiap kali Quraisy melakukan pencegahan, semakin banyak orang
yang masuk Islam. Tetapi boikot tersebut tetap menimbulkan dampak buruk.
Quraisy melakukan penganiayaan terhadap umat Muslim, salah satunya Khadijah,
istri dari Nabi Muhammad yang wafat pada 619 M. Tak lama setelah itu, Abu
Thalib, paman dari Nabi Muhammad sakit dan kemudian wafat. Nabi Muhammad
memutuskan untuk mencari kota lain yang masyarakatnya mau menerima dan menganut
agama Islam. Akhirnya Nabi Muhammad memilih Ta’if sebagai tempat untuk
menyampaikan dakwahnya. Ta’if dipimpin oleh suku Taqhif dan berjarak enam pulih
lima kilometer ke arah tenggara Kota Mekah.
Pada
saat Nabi berada di Ta’if, ia bertemu dengan tiga bersaudara yang memimpin suku
tersebut. Tetapi mereka menolak permintaan Nabi agar mereka masuk Islam. Bahkan
mereka juga menolak memberikan perlindungan kepada Nabi. Saat Nabi akan kembali
ke Mekah, sekelompok orang Ta’if menghina dan melempari Nabi dengan batu hingga
berdarah. Dan kemudian Nabi kembali ke Mekah. Nabi menyadari perlu adanya
perubahan yang mendalam agar Islam bisa bertahan. Peluang perubahan tersebut
datang dari kota Oasis yaitu Yasrib. Pada tahun 610-an M, dua suku utama Yasrib
yaitu Aws dan Khazraj terlibat dalam perebutan kekuasaan. Nabi Muhammad telah
dikenal di Yasrib sebagai orang yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan.
Sehingga pada tahun 620, Yasrib menawarkan emigrasi kepada Nabi Muhammad untuk
menjadi pemimpin dan penengah dalam perselisihan mereka.
Nabi
Muhammad setuju dengan tawaran tersebut. Ia memerintahkan pengikutnya untuk
melakukan perjalanan ke Yasrib, tempat di mana tidak ada penindasan dari
Quraisy. Pada 622, Quraisy berencana akan membunuh Nabi Muhammad sebelum ia
keluar dari Mekah, karena pada saat itu ia bersama Abu Bakar adalah orang
terakhir yang meninggalkan Mekah. Tetapi Nabi Muhammad dan Abu Bakar bisa
menghindari rencana Quraisy, sehingga mereka berhasil melakukan perjalanan ke
Yasrib. Di Yasrib atau biasa disebut Madinah, Nabi bisa menyebarkan Islam tanpa
harus khawatir dengan penindasan dari Quraisy. Kaum Muhajirin terdiri dari
kelompok yang beragam dan tidak ada perlindungan dari klan atau suku. Sedangkan
kaum Ansar dari suku Aws atau Khazraj, terlibat peperangan di oasis tersebut.
Dalam pandangan Nabi Muhammad, tidak peduli dari mana mereka berasal, setelah
mereka memeluk Islam maka mereka telah menjadi bagian komunitas baru
berdasarkan keyakinan bersama bukan keturunan.
Tata
politik dan sosial baru Nabi Muhammad di Madinah disusun dalam naskah yang
disebut Piagam Madinah. Piagam Madinah menjelaskan bahwa Madinah akan menjadi
negara berdasarkan hukum Islam. Ummat sebagai unit politik dan Nabi Muhammad
sebagai penengah utama. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad di Mekah dan
di Madinah berbeda. Di mana ayat-ayat dan surat yang diwahyukan di Madinah
lebih panjang daripada di Mekah. Qur’an memberikan panduan umum tentang
bagaimana umat. Sedangkan hadits adalah segala tindakan dan kata-kata Nabi
Muhammad. Banyak ayat Madiniyyah yang menjelaskan tentang kisah nabi terdahulu,
seperti Nuh, Ibrahim, Musa, Daud, dan Isa. Dan juga menjelaskan bahwa Nabi
Muhammad adalah nabi yang terakhir.
Meskipun
nabi telah hijrah ke Madinah, tetapi konfliknya dengan Quraisy belum selesai
juga. Kaum Muhajirin masih merasakan perlakuan Quraisy kepada mereka dan kaum
Ansar berani untuk melawan Quraisy. Tetapi, mereka belum mendapatkan izin dari
Nabi untuk memerangi Quraisy. Mengingat bahwa peraturan di Semenanjung Arab
sangat rumit, sehingga kaum Muslimin tidak berperang dengan Quraisy. Tetapi,
keadaan berubah setelah Nabi Muhammad mendapakan wahyu yang didalamnya
menegaskan bahwa pengikut telah diizinkan untuk berperang dengan kaum Quraisy
(Al-Hajj, [22] : 39-40).
Pada
624 M, kaum Muslim mengerahkan pasukan sekitar 300 orang untuk mencegah kafilah
Quraisy yang melintasi Madinah. Tetapi pasukan Muslim tidak bisa mencegah
rombongan kafilah yang jauh lebih besar. Di Perang Badar, pasukan Madinah
mendapatkan kesempatan untuk pertama kali melawan Quraisy yang selama ini telah
menindas mereka. Meskipun dalam jumlah yang sedikit, tetapi kaum Muslim yang
dipimpin oleh Hamzah, paman Nabi, bisa mengalahkan pasukan Mekah dan membawa
banyak tawanan. Kaum Quraisy tentu tidak akan menerima kekalahan ini. Pada
tahun berikutnya, mereka membawa pasukan yang lebih besar menuju Gunung Uhud
untuk mengganggu kaum Madinah dengan merusak lahan pertanian mereka. Nabi
Muhammad bermaksud akan melawan kaum Mekah, tetapi ada sekelompok orang yang
tidak setuju dengan keputusan Nabi. Mereka memilih untuk mennggalkan lahan dan
akan mempertahankan kaum yang ada di Madinah. Akhirnya, Nabi membawa pasukan
yang lebih kecil.
Pasukan
Mekah yang dipimpin oleh Khalid bin Walid merhasil mengalahkan pasukan Muslim.
Hamzah, pemimpin pasukan Muslim, gugur dalam perang ini dan tubuhnya dimutilasi
oleh orang-orang Quraisy. Bahkan Nabi Muhammad beserta pasukannya sempat
dikepung dan mereka terluka. Lima tahun setelah hijrah, pasukan Mekah mengepung
kota Madinah dengan bantuan salah satu suku Yahudi Madinah, yaitu Bani Qurayza.
Tetapi kali ini Quraisy dan Yahudi tidak berhasil. Atas saran dari Salman,
imigran Persia, Nabi Muhammad memerintahkan untuk menyusun parit di sekeliling
kota untuk menghalangi kepungan pasukan Mekah. Perang Parit ini akhirnya membuat
pasukan Mekah mundur. Karena Bani Qurayza telah melanggar perjanjian Piagam
Madinah, maka mereka harus dihukum.
Setelah
Madinah aman, Nabi Muhammad membuat perjanjian dengan Quraisy. Pada 628, ia
mengirimkan 1500 tentara ke Mekah. Tujuan mereka ke Mekah adalah untuk
menjalankan ibadah haji. Quraisy merundingkan perjanjian dengan Nabi Muhammad
yang disebut Perjanjian Hudaibiyyah. Mereka setuju untuk meninggalkan Mekah
selama tiga hari agar kaum Muslim bisa menjalankan ibadah haji pada tahun
depan. Mereka juga berjanji tidak ada peperangan selama sepuluh tahun. Nabi
Muhammad memanfaatkan waktu istirahat
dari konflik untuk mengembangkan Islam ke luar Madinah tanpa ancaman. Ia bebas
mengirimkan pendakwah ke seluruh Semenanjung Arab dan juga di luar, seperti
Byzantium dan kekaisaran Persia di utara. Suku-suku Badui dengan sendirinya
masuk Islam. Begitu pula dengan Khalid bin Walid dan Amr bin As, dua pemimpin
pasukan Mekah yang juga bergabung dengan Nabi Muhammad setelah adanya
Perjanjian Hudaibiyyah.
Ternyata
perjanjian tersebut tidak sepenuhnya dipenuhi. Sekutu Quraisy menyerang sekutu
Nabi Muhammad di luar Kota Mekah. Karena hal ini adalah pelanggaran atas
perjanjian yang telah dibuat, maka Nabi Muhammad memerintahkan sekutu-sekutu
barunya untuk bergabung. Pada 630 M, pasukan Muslim yang berjumlah sekitar
sepuluh ribu, berbaris menuju kota Mekah. Ratusan berhala dihancurkan dan
menjadikan Mekah sebagai tempat untuk menyembah satu Tuhan. Akhirnya mereka
menyerah. Saat penaklukan Mekah, Nabi Muhammad berusia sekitar enam puluh
tahun. Ia kembali ke Madinah setelah menaklukan Mekah. Ia telah berjanji akan
memimpin umat Muslim dari oasis selama delapan tahun. Pada awal 632 M, ia
menjalankan ibadah haji untuk yang terakhir kali. Waktu itu Nabi berkhotbah di
depan ribuan pengikutnya dan memperingatkan agar menghindari penindasan,
memperlakukan perempuan dengan baik, dan meninggalkan persaingan.
Pada
632 M, awal musim panas, Nabi Muhammad jatuh sakit. Ia terbaring lemah karena
sakit kepala dan demam sampai tidak mampu berjalan tanpa bantuan sepupunya,
Ali, dan pamannya, Abbas. Ia menunjuk sahabatnya, Abu Bakar untuk menjadi imam,
karena ia tidak bisa menjadi imam karena sedang sakit. Hari-hari terakhirnya
dihabiskan di rumah, dengan kepala berada di pangkuan Aisyah. Anggota keluarga
dan sahabat datang menjenguk, berharap bisa melihat tanda-tanda kesembuhan Nabi
Muhammad. Pada 8 Juni 632, Nabi Muhammad wafat.
BAB
III
KHULAFAUR
RASYIDIN
Wafatnya
Nabi Muhammad menimbulkan kesedihan yang mendalam di Madinah. Tetapi, wafatnya
Nabi Muhammad memunculkan pertanyaan bagaimana kepemimpinan di Madinah. Bahkan,
sebelum jenazah Nabi dimakamkan, sekelompok tokoh utama dari kaum Muhajirin dan
Ansar berkumpul untuk merundingkan masalah tersebut. Perbedaan pendapat dalam
kelompok dapat menyebabkan perpecahan umat. Ada yang memberikan usul adanya dua
negara, yang satu dipimpin orang Ansar dan yang satunya dipimpin orang
Muhajirin. Akhirnya Umar mencalonkan Abu Bakar menjadi pemimpin politik negara
di Madinah. Umar memilih Abu Bakar karena, setelah Khadijah, Abu Bakar-lah yang
kemudian menerima Nabi dan menganut agama Islam. Ia juga menemani Nabi Muhammad
pada saat hijrah ke Madinah. Bahkan ia ditunjuk oleh Nabi Muhammad untuk
menjadi imam shalat di saat hari-hari terakhir hidup Nabi Muhammad.
Pada
632, Abu Bakar mendapat julukan Khalifat-ul-rasul yang artinya “Penerus Utusan
Tuhan” atau disingkat khalifah. Khalifah diharapkan bisa melindungi dan
mempertahankan agama serta mengajak orang untuk menganut Islam. Khalifah juga
diharapkan menjadi pemimpin yang cakap dan mampu mengendalikan masalah yang
terjadi. Abu Bakar mengirimkan pasukan ke Suriah selatan untuk bertempur dengan
Byzantium sebagai balas dendam, sesuai dengan tujuan politik Nabi Muhammad.
Tetapi, ekspedisi ini mendapat ancaman
dari gurun pasir sebelah timur di Madinah. Berbagai suku Badui yang baru masuk
Islam mulai melawan. Alasan mereka adalah mereka bersumpah setia pada Islam
dalam kekuasaan Nabi Muhammad. Dan setelah Nabi Muhammad wafat, sumpah tersebut
telah hilang.
Muncul
sejumlah orang yang mengaku sebagai Nabi, salah satunya adalah Musailamah.
Akhirnya Abu Bakar mengambil tindakan dengan mengirim pasukan ke timur untuk
menumpas pemberontakan yang dipimpin oleh Khalid bin Walid. Kekuatan Musailamah
tidak sebanding dengan kemampuan militer Khalid. Pemberontak mundur dan
Musailamah gugur dalam peperangan. Pada 633, perang melawan kemurtadan telah
berakhir dan seluruh Arab bersatu kembali menjadi negara Muslim. Perang ini
memberikan teladan yang berkaitan dengan masa depan Islam. Pertama, Nabi
Muhammad ditetapkan menjadi Nabi yang terakhir, sehingga tidak ada Nabi
setelahnya. Kedua, hanya ada satu negara Muslim, kekhalifahan, dipimpin oleh
satu pemimpin. Ketiga, kekuasaan pemerintah telah ditetapkan.
Masa
kekhalifahan Abu Bakar melestariakan Qur’an dalam bentuk tulisan sangatlah
penting. Pada masa Nabi, banyak yang ditugaskan untuk menulis wahyu Qur’an yang
baru diturunkan kepada Nabi Muhammad. Tetapi naskah-naskah tersebut tidak
disatukan dalam bentuk buku, melainkan potongan-potongan yang tersebar. Hal ini
dikarenakan hanya ada sedikit yang bisa membaca sehingga mereka menyebarkan
Islam dengan lisan. Umar menyarankan agar seluruh naskah dikumpulkan, hal ini
untuk berjaga-jaga apabila para penghafal Qur’an meninggal. Abu Bakar
menjalankan rencana tersebut dan mengumpulkan naskah Qur’an di Madinah.
Abu
Bakar wafat pada 634 M. Abu Bakar menjadi khalifah selama dua tahun yaitu dari
tahun 632 sampai wafatnya pada 634 M. Kepemimpinan Abu Bakar selama dua tahun
tersebut, menumbuhkan teladan tentang peran khalifah dalam umat Islam. Salah
satu teladan terakhir Abu Bakar adalah pemilihan penerusnya. Ia menunjuk Umar
bin Khatab sebagai penerusnya. Umar termasuk orang yang masuk Islam pertama
kali seperti Abu Bakar. Ia juga menemani hijrah Nabi dan ia selalu bersama Nabi
dalam peperangan maupun peristiwa besar di Madinah. Maka tidak ada penolakan
atas pengangkatan dirinya sebagai khalifah. Kini Jazirah Arab telah bersatu di
bawah perintah Usman. Selama berabad-abad, orang Arab mempertahankan hidupnya
dengan menyerang suku saingan dan merebut harta rampasan perang. Tetapi
sekarang sudah berbeda. Mayoritas orang Arab beragama Islam dan Islam telah
menegaskan bahwa menyerang suku tetangga bertentangan dengan hukum Islam. Pada
tahun terakhir kehidupan Abu Bakar, serangan ke Mesopotamia yang dikuasai oleh
Sassanid telah dimulai. Abu Bakar mengirimkan pasukan pertama, untuk memastikan
keselamatan perempuan, anak-anak, orang tua dan melarang untuk menghancurkan
tanaman.
Pada
633, pasukan dikirim ke Suriah dan Mesopotamia. Khalid bin Walid memimpin pasukan
yang dikirim ke Persia, sedangkan Yazid, anak Abu Sufyan memimpin pasukan yang
dikirim ke Suriah. Dengan cepat, ia mampu mengalahkan Byzantium di dekat Gaza.
Peperangan antara pasukan Byzantium dengan pasukan Muslim dalam perang
Ajnadayn, berlangsung sekitar tiga puluh kilometer di bagian barat Jerussalem.
Pasukan Muslim mampu mengalahkan pasukan Byzantium. Pasukan Byzantium yang
tersisa, menyerang Jerussalem, Caesarea, dan Gaza yang sudah dibentengi dengan
baik. Pada September 635, pasukan Muslim yang dipimpin oleh Khalid mengepung
kota tua Damaskus, yang akhirnya kalah. Setelah berperang, mereka membuat
perjanjian bahwa hidup, harta, dan agama mereka akan dilindungi apabila mereka
membayar upeti mereka kepada pemerintah Islam. Setelah kehiangan Damaskus,
Kaisar Byzantium mengumpulkan kekuatan yang lebih besar, dengan maksud ingin
mengalahkan pasukan Arab agar mereka kembali ke gurun.
Pada
musim panas 636 M, pasukan Heraclius menyusul pasukan Muslim ke Yarmuk. Akhirnya
pasukan Muslim mengalahkan pasukan Byzantium dengan cara membawa mereka keluar
dari medan peperangan. Kaisar Heraclius dipaksa untuk mengakui kekalahan di
Suriah saat tidak memiliki pasukan atau uang. Akhirnya kota-kota di Suriah satu
per satu beralih tangan. Dan pada 638 M, penaklukan Suriah berakhir. Pertempuran
melawan Byzantium berlanjut di Mesir, yang relatif lebih cepat, ditaklukkan
pada 642 M. Dua wilayah Byzantium yang paling berharga dan makmur, telah
berhasil direbut. Dalam beberapa tahun, Suriah berubah menjadi provinsi
Kekaisaran Muslim yang baru.
Pasukan
kekaisaran tidak bisa lagi masuk ke Tanah Suci Kristen, dan juga tidak
memperoleh keuntungan dari wilayah tersebut. Bagi penduduk lokal Suriah,
kekalahan Byzantium tidak berpengaruh pada kehidupan sehari-hari. Gereja tetap
buka, petani tetap mengelola tanahnya, dan kafilah pedagang tetap melintas
seperti biasanya. Umar melakukan perjalanan secara pribadi dari Madinah ke
Suriah, untuk membantu administrasi di wilayah tersebut. Salah satu tindakannya
adalah memberhentikan Khalid bin Walid dari posisinya. Sejarawan Muslim
menyebutkan alasan atas pencopotan Khalid, yaitu Umar ingin membuktikan bahwa
yang menjadi penyebab kemenangan mereka bukan Khalid, tetapi Allah.
Umar
menunjuk Mu’awiyah, putra bangsawan Mekah Abu Sufyan, untuk menduduki jabatan
gubernur di provinsi baru ini. Mu’awiyah berasal dari keluarga Umayyah yang
kaya dan kuat. Garis keturunan ini, akan membuat Mu’awiyah mengubah Suriah
menjadi pusat ekonomi dan politik Islam selama dua puluh tahun kedepan. Pada
637 M, Umar menghadiri penyerahan Jerussalem. Ia pergi bersama Uskup Agung
Sophronius, seorang Arab Kristen yang menjadi salah satu tokoh terkemuka Gereja
Yunani di Jerussalem.
Gubernur
baru Suriah, mengizinkan orang Yahudi datang ke kota untuk beribadah setelah
lebih dari 500 tahun. Kebebasan agama ini, didasarkan pada Piagam Madinah yang
tentu saja Umar memahaminya. Tetapi, kota ini juga milik Islam. Mengingat bahwa
kota ini tujuan Nabi dalam perjalanan Isra’ Mi’raj dari Mekah. Dengan dasar
pemikiran bahwa peran Jerussalem dalam Islam tidak bisa dianggap kecil,
sehingga Umar mengatur pembersiham Kuil Sulaiman dan kemudian mendirikan
Masjidil Aqsa, tempat suci ketiga dalam Islam. Perhatian khalifah beralih
kembali ke Kaisaran Sassanid setelah jatuhnya Suriah. Umar menunjuk Sa’ad bin
Abi Waqqas untuk memimpin pasukan Muslim ke Mesopotamia.
Pada
akhir 636 M, bala tentara Sa’id mampu mengalahkan pasukan Persia di Perang
Qadisiyya, yang awalnya sempat mengalami kekalahan karena tidak mampu
menghadapi pasukan gajah. Perang ini, menghasilkan pampasan yang sebagian besar
pampasan dikirim ke Madinah untuk dibagikan sesuai dengan hukum Islam yang
berlaku. Jika benar-benar ingin menguasai Irak, pihak Muslim harus mengambil
alih Ctesiphon, ibukota Sassanid, yang terletak di dataran antara Sungai Tigris
dan Sungai Euftar, yang berjarak sekitar enam puluh kilometer di selatan kota
kuno Babylon. Pada 637 M, kota ini dapat dikuasai oleh pasukan Muslim.
Sementara itu, Kaisar Sassanid dan pemerintahannya melarikan diri ke dataran
tinggi Persia. Pasukan dan bangsawan Byzantium dan Sassanid pergi, tetapi
penduduk lokal tetap di sana.
Hanya
ada dua perubahan dalam kehidupan penduduk taklukan. Pertama, mereka harus
membayar upeti sesuai dengan hukum Islam. Kedua, toleransi beragama terhadap
kelompok tertentu. Kristen Monofisit diperbolehkan menjalankan agamanya di
Suriah. Begitu juga dengan Yahudi, yang bebas dari penindasan resmi dan
diizinkan untuk kembali ke Jerussalem untuk beribadah. Dalam bidang ekonomi,
penaklukan telah membawa kemakmuran bagi orang Arab. Ribuan koin perak dan
emas, serta batu mulia berharga didapatkan dari tanah taklukan, Irak.
Berdasarkan hukum Islam, harta rampasan tersebut dianggap milik seluruh umat
Islam dan dibagikan kepada anggota Ummat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah
Islam, kekayaan yang sangat besar berada di tangan pemerintahan.
Umar
telah mengubah negara Islam selama sepuluh tahun menjabat khalifah. Tetapi,
pada 644, dia dibunuh oleh seorang budak Persia di Madinah. Dan pada hari itu
juga kekuasaannya berakhir. Sebelum wafat, Umar menunjuk majelis yang berisi
enam pemimpin yang nantinya akan meneruskan kekhalifahan Umar. Akhirnya mereka
memilih Utsman bin Affan. Utsman berasal dari klan Umayyah di Mekah. Ia sangat
berkuasa dan kaya, sebelum masuk Islam. Ia pun diangkat menjadi khalifah pada
644 M. Latar belakang Utsman dan keluarganya berperan besar sebagai khalifah.
Mu’awiyah, sepupunya, menjadi gubernur Suriah. Kemudian ia menunjuk Abdullah
bin Sa’ad sebagai gubernur Mesir. Dan ia menunjuk sepupunya yang lain sebagai
gubernur di Irak.
Utsman
memerintahkan pembangunan armada angkatan laut untuk menggagalkan setiap
serangan balik Byzantium. Dalam membuat kapal laut, Gubernur Suriah dan Mesir
sangat bergantung pada orang Kristen lokal. Orang Kristen sangat bersemangat
dalam pekerjaannya bagi pemerintahan
Arab. Hal ini dikarenakan banyak dari penganut
Kristen Koptik dan sekte Kristen lain tidak diakui oleh Byzantium. Berbeda dari
Byzantium, Muslim memperlakukan mereka dengan sangat baik. Islam mampu
memperluas pengaruhnya ke Laut Tengah, dengan cara merebut Siprus dan Kreta,
dan menyerang sampai ke Sisilia. Keberhasilan militer terus berlanjut saat
Mu;awiyah memimpin pasukan Suriah untuk masuk Amerika melawan Byzantium.
Di
bawah pimpinan Abdullah bin Amir, sepupu Utsman yang lain, pasukan Muslim terus
memaksa masuk ke Persia. Ternyata, penaklukan
Sassanid tidak semudah menaklukan Irak. Dalam perang tersebut, banyak
memakan korban pasukan Muslim. Pada 650 M, Iran dikuasai dan pada 651, Khurasan
pun diambil. Pada tahun yang sama, Raja Sassanid ditemukan dalam pelarian dan
dihukum mati. Pasukan Muslim maju dari Irak ke Sungai Oxus dan sampai ke Asia
Tengah, selama satu dekade. Pada 565, sekelompok tentara datang dari Mesir
menuju Madinah untuk memprotes khalifah terkait dengan masalah kebijakan dan
pembagian pampasan.
Dalam
perjalanan kembali ke Mesir, para tentara mencegat surat yang diduga surat
tersebut ditulis khalifah untuk Gubernur Mesir agar menghukum mati mereka.Maka,
mereka kembali ke Madinah untuk mengepung Utsman. Meskipun begitu, Utsman
menolak penduduk membawa senjata dan menolak melawan pemberontak. Bahkan, ia
melarang Mu’awiyah mengirim pasukan dari Suriah. Pemberontak memaksa untuk
masuk ke dalam rumah Utsman dan membunuhnya ketika ia sedang membaca Qur’an.
Para
pemberontak menunjuk sendiri khalifah barunya sebagai penentu kepemimpinan di
Madinah. Mereka memilih Ali, sepupu dan menantu Nabi. Ali menolak ditunjuk oleh
pemberontak. Tetapi, tokoh-tokoh lain di Madinah meyakinkan Ali, bahwa dirinya
memenuhi syarat dan mampu mengembalikan kedamaian di dunia Islam. tetapi, tidak
ada tokoh yang snggup menangani krisis yang dihadapi dunia Islam. Masalah yang
menekan Ali adalah penyelesaian pembunuhan Utsman.
Mu’awiyah
menegaskan bahwa ia tidak akan menerima khalifah baru sampai pelaku pembunuhan
Utsman dihukum. Ali memindahkan ibu kota ke Kufa, dataran subur Irak. Banyak
orang di Madinah yang patah harapan karena Ali menolak untuk mengadili
pemberontak. Sahabat Nabi, Talha dan Zubair, serta Aisyah, menemui Ali untuk
meyakinkan agar menghukum para pemberontak. Secara politik, tidak memungkinkan
untuk menghukum pemberontak. Ali meyakini bahwa solusi terbaik adalah
melanjutkan hidup dan berusaha untuk menyatukan Ummat kembali.
Kedua
pasukan bertemu di padang dekat Basra, Irak Selatan, pada 656 M. Beberapa
anggota oposisi, termasuk Talha dan Zubair, menemui Ali sebelum peperangan
dimulai dengan harapan dapat menghindari pertumpahan darah. Pemimpin kedua
pihak menyetujui perjanjian damai sementara. Perang ini dinamakan Perang Unta.
Talha dan Zubair tewas dalam peperangan ini, sedangkan Ali dan Aisyah bisa
lolos. Aisyah kembali ke Madinah ditemani oleh pengawalan militer yang
disiapkan Ali untuk keselamatannya. Aisyah memutuskan untuk mengundurkan diri
dari urusan politik dan akhirnya wafat pada 678 M.
Posisi
Ali masih belum aman, meskipun sudah terjadi pertumpahan darah. Mu’awiyah tetap
bersumpah bahwa dia tidak akan setia kepada Ali sampai Ali menghukum pelaku
pembunuhan terhadap sepupunya. Pada 658 M, keduanya bertemu di suatu tempat
antara Irak dan Suriah. Seorang penengah menyetujui pemilihan khalifah baru.
Tetapi para pengikut Ali tidak menyetujui kesepakatan tersebut. Mereka
mendapatkan nama “Khawarij”, yang berarti ‘orang yang meninggalkan’. Kelompok
Khawarij terus melakukan teror di Irak. Khawarij berhasil dihancurkan, tetapi
masih berlanjut secara sembunyi-sembunyi dengan maksud untuk menurunkan Ali dan
Mu’awiyah. Percobaan pembunuhan yang dilakukan Khawarij kepada Mu’awiyah di
Damaskus gagal. Tetapi, mereka berhasil membunuh Ali saat ia sedang shalat
Subuh di masjid di Kufa, seseorang menikamnya. Akhirnya kekhalifahan jatuh
kepada : Mu’awiyah.
BAB
IV
PENDIRIAN
NEGARA ISLAM
Khulafaur
Rasyidin berakhir setelah wafatnya Ali di tangan Khawarij dan naiknya Mu’awiyah
menjadi khalifah. Sejak 661 sampai 680 M, pada pemerintahan Mu’awiyah, bentuk pemerintahan
dan masyarakat Islam berubah secara mendasar. Tidak pernah ada solusi
perselisihan yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah. Setelah wafatnya Ali,
Mu’awiyah bebas memperlus kekuasaan dan menyatukan dunia Islam. Ia sangat
terkenal di Suriah, tetapi ia juga memiliki musuh di Irak. Mereka memilih
kekhalifahan diwariskan kepada Hasan, anak Ali. Mu’awiyah tidak ingin dunia Muslim
terlibat lagi dalam peperangan untuk memperebutkan kepemimpinan. Ia
menegosiasikan perjanjian dengan anak Ali untuk untuk menghancurkan oposisi.
Tetapi, Hasan menyerahkan kepemimpinan dan lebih memilih untuk menghabiskan
hidup dengan ibadah dan ilmu.
Mu’awiyah
memerintah seperti yang dilakukan oleh pemimpin suku Arab pra-Islam, yaitu
menggunakan hubungan keluarga, kode kehormatan tak tertulis, dan hadiah untuk
melancarkan politik. Hal ini dikarenakan ia tinggal di Mekah dan menyaksikan
ayahnya memimpin Quraisy. Tetapi, Mu’awiyah mengubah kekhalifahan menjadi
monarki. Ia tidak lagi mengikuti jejak empat khalifah pertama.Budaya raja dan
istana kini menjadi bagian dari kekhalifahan. Mu’awiyah memilih fokus dalam
memperluas batas-batas kekhalifahanuntuk mengurangi tekanan perpecahan.
Mu’awiyah mengirimkan pasukan untuk meneruskan peperangan melawan Kekaisaran
Byzantium. Akhirnya, pasukam Muslim bisa mengepung Konstantinopel, ibu kota
Byzantium. Dalam perang tersebut menyebabkan Abu Ayyub al-Anshari, sahabat
Nabi, gugur. Dia adalah orang yang memberikan tempat menginap pada saat Nabi
memasuki Madinah.
Ekspansi
masih berlanjut sampai Afrika Utara. Uqba bin Nafi mengendalikan daerah barat
Mesir. Ia adalah sahabat Nabi yang berasal dari Mekah. Pada 670 M, ia
diperintahkan ke Byzantium Afrika dengan 10 ribu tentara berkuda dan didukung
oleh suku lokal Berber yang baru masuk Islam. Byzantium lengah dengan medan
pertempuran lain, sehingga Uqba bisa masuk ke Tunisia modern tanpa ada perlawanan.
Pada 675 sampai 680 M, Uqba melanjutkan serangan ke barat. Menjelang 680 M,
pasukan Ummayah siap untuk melakukan penaklukan melintasi daerah Tunisia,
Algeria, dan Maroko modern menuju Samudra Atlantik, yang disebut Maghribi. Pada
680 M, setelah meninggalkan Qayrawan, Uqba maju dari pos Byzantium yang
terdepan sampai pos berikutnya tanpa adanya perlawanan. Orang Byzantium berbeda
jauh dengan Berber. Berber lebih dekat dengan orang Arab daripada orang Latin
dan Yunani. Seluruh suku Arab masuk Islam setelah Muslim Arab datang. Orang
Afrika Utara dengan Byzantium memiliki perbedaan yaitu ketuhanan dan
kemanusiaan.
Mu’awiyah
menunjuk Yazid, anaknya, sebagai penerus dan menuntut sumpah setia dari
orang-orang terkemuka di Damaskus, tepat sebelum ia wafat. Yazid belum pernah
mengenal Nabi dan para sahabat, tidak seperti ayahnya. Bahkan banyak rumor yang
beredar di Mekah dan Madinah tentang kehidupan Yazid. Karena rumor tersebut,
Abdullah bin Al-Zubair, anak Zubair memberontak. Permasalahan bertambah rumit
karena orang Irak ingin keturunan Ali menjadi khalifah di dunia Islam. Dukungan
diberikan kepada Husein, adik dari Hasan. Pada 890 M, Husein siap mendirikan
basis di Irak untuk menentang Umayyah di Suriah. Yazid mengirimkan guberbur ke
kota tersebut untuk memastikan penduduk tidak memberontak dia. Hal tersebut
mendesak penduduk agar tidak mendukung Husein. Padahal, Husein sangat mengandalkan
dukungan tersebut. Akhirnya ia pergi ke Kufa dengan sekitar tujuh puluh anggota
keluarga dan sahabatnya saja. Di padang Karbala, Husein dikepung dan dibunuh
bersama dengan pengikutnya oleh Yazid.
Pada
680 M, di Mekah, Abdullah mnggunakan oposisi terhadap Yazid saat melawan Bani
Umayyah. Pada 683 M, Yazid meninggal karena tidak bisa memadamkan pemberontakan
di Hijaz. Penerus Yazid adalah seorang anak muda yang hanya berkuasa selama
beberapa bulan saja hingga kematiannya. Abdullah menyatakan diri sebagai
khalifah. Dia mendapatkan sumpah setia dari penduduk Irak, Mesir dan Suriah.
Tetapi, Bani Umayyah mampu mengambil alih kekhalifahan di bawah Marwan, salah
satu keponakan Mu’awiyah. Di bawah Marwan dan Abdul Malik, anaknya, Bani
Umayyah mengambil alih kendali dan memadamkan pemberontakan Abdullah bin Al-Zubair
di Mekah pada 692 M.
Pada
akhir 600-an dan awal 700-an, Bani Umayyah melanjutkan perluasan wilayah
militer dan pertumuhan ekonomi. Pada 698, Khalifah Abdul Malik mengirimkan
pasukan untuk menaklukan Kartogo di Afrika Utara. Musa bin Nusayr, Gubernur
Umayyah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Tariq bin Ziyad, seorang Berber
yang masuk Islam. Pada awal 711 M, Tariq memimpin pasukan untuk menyerbu dari Jabal
Tariq menuju sepanjang selatan Spanyol. Penyerangan berhasil ketika Roderic dan
pasukan besar Visigothik sedang menghadapi pemberontakan Basque. Pasukan Tariq
berhasil mengalahkan Roderic dalam perang Guadalete. Roderic terbunuh dalam
pertempuran. Tariq melanjutkan pertempuran untuk menguasai ibu kota tua Toledo
dan kota-kota pun jatuh ke tangan Muslim. Selain Tariq, Musa, atasan Tariq,
juga menyebrang ke Spanyol untuk membantu panaklukan. Tariq adalah penakluk dan
Musa adalah konsolidator (orang yang memberikan kekuatan).
Tariq
dan Musa mampu menjadikan wilayah semenanjung di bawah kendali Umayyah, sejak
711 sampai 715 M. Perluasan wilayah tersebut melibatkan tidak lebih dari 10-20
ribu tentara. Pada 720 M, penyerbuan berlanjut dari Galia sampai bagian selatan
Prancis modern untuk menerapkan aturan Islam di Aquitaine dan Septimania.
Penyerbuan ke Galia pada 732 merupakan puncak penyerangan Islam yang pada waktu
itu Islam dipimpin oleh Abdul Rahman al-Ghafiqi, Gubernur Muslim Andalusia, dan
berhasil dikalahkan oleh pasukan Franks yang dipimpin oleh Charles Martel pada
perang Tours, di utara Prancis. Ibnu Qasim menjadi pemimpin di bawah pengawasan
Hajjaj bin Yusuf, Gubernur Irak. Pada 711 M, ia dikirim melintasi Persia dan
masuk benua India bersama dengan 6 ribu tentara Suriah. Pasukan Muslim mampu menguasai
setiap kota dengan perlawanan kecil yang dibantu oleh pejabat-pejabat kuil
Buddha.
Pasukan
Ibnu Qasim bertemu dengan Raja Dahir dalam peperangan di sepanjang Sungai Indus
dan akhirnya pasukan Muslim menghancurkan pasukan Sindhi. Dahir pun terbunuh
dalam peperangan. Pada pertengahan 700-an, kekhalifahan Umayyah menjadi
kerajaan terbesar di dunia. Ibnu Qasim memberikan kebebasan beragama bagi umat
Buddha dan Hindu, seperti kebebasan yang diberikan kepada umat Kristen dan
Yahudi. Kuil dan patung yang telah dihancurkan boleh dibangun kembali. Kelompok-kelompok
tersebut dibebaskan dari kewajiban militer tetapi harus membayar pajak
perseorangan atau Jizyah. Dan umat Muslim hanya membayar pajak tanah dan zakat.
Karena
jumlah non-Arab yang terus bertambah, maka ketidakpuasan dengan kebijakan pajak
akan berkembang. Karena hal tersebut, keluarga tua lain dari Mekah mengambil
alih kekhalifahan, yaitu Bani Abbasiyah. Nama Bani Abbasiyah berasal dari nama
Paman Nabi yaitu Abbas, yang merupakan kepala keluarga dari klan tersebut.
Mereka tinggal di sebelah timur Sungai Yordan. Pada awal 700-an, mereka menyebar
rumor bahwa salah satu keturunan Ali memindahkan hak kekuasaan kepada Bani
Abbasiyah. Rumor tersebut masih menjadi misteri. Pada 730-an dan 740-an,
diucapkanlah sumpah setia sekutu, di Damaskus. Bani Abbasiyah menjanjikan
masayarakat yang lebih setara di bawah kekhalifahannya dan menjamin peranan
yang lebih besar kepada keturunan Ali.
Pada
747 M, Bani Abbasiyah menyatakan pemberontakan terbuka, mengibarkan bendera
hitam di Kota Merv, Turkimenistan yang dipimpin Abu Muslim. Abu Muslim mengirim
pasukan ke Persia. Penduduk lokal Muslim di sana, bangkit untuk melawan Bani
Umayyah. Kufa yang menjadi pusat bagi para anti-Umayyah, mulai melawan Gubernur
Umayyah dan mengusirnya. Setelah kufa dibebaskan, calon khalifah Abbasiyah
yaitu Abu al-‘Abbas, dapat menyampaikan sumpah setia formal. Pada awal 750 M,
Abbasiyah berhasil mengalahkan Umayyah pada Perang Zab di Mesopotamia tengah.
Seluruh anggota keluarga Umayyah diburu dan dihukum mati, begitu pula dengan
Marwan, ia tertangkap di Mesir.
Hanya
ada satu anggota keluarga Umayyah yang berhasil lolos, yaitu Abdul Rahman. Dia
lolos dengan cara menyamar dan pergi ke Afrika Utara. Ia mendirikan negara
Umayyah di Andalusia yang jauh dari jangkauan Abbasiyah. Dan akan bertahan
selama 300 tahun. Ketika Abbasiyah berkuasa, kekhalifahan mereka tidak seperti
yang diharapkan. Bani Abbasiyah mengikuti tradisi kekuasaan yang dilakukan Bani
Umayyah, salah satunya adalah mereka mendukung keluarga Ali sebagai khalifah.
Pada 765, Al-Mansur, kalifah kedua, membangun ibu kota baru di antara Sungai
Tigris dan Eufrat, dekat Ctesiphon.
BAB
V
MASA
KEEMASAN INTELEKTUAL
Abad
kesembilan sampai ketiga belas, dunia Islam ditandai dengan adanya era
perkembangan ilmiah, religius, filsafat, dan kebudayaan. Kebudayaan Islam
terdiri atas banyak budaya, agama, dan tradisi intelektual yang beragam, mulai
dari Spanyol sampai India. Awal 800-an, Abbasiyah terbentang luas dari Atlantik
sampai Indus. Mereka mempunyai ibu kota yang jumlah penduduknya lebih dari satu
juta penduduk di Bagdad. Yang terdiri dari banyak budaya, mulai dari Yunani,
Koptik, Persia, dan India. Menurut pemikiran al-Ma’mun (813-833), khalifah
Abbasiyah ketujuh, bahwa masyarakat ideal dapat diwujudkan dengan ilmu
pengetahuan dan rasonalisme. Maka ia mendirikan sebuah institut pendidikan di
Bagdad yaitu Rumah Hikmah (Bayt al-Hikmah). Dalam institut ini, semuanya ada dalam
satu kampus, seperti universitas, perpustakaan, badan penerjemah, dan lab
penelitian. Ada beberapa hal yang membuat Rumah Hikmah unik : Pertama, ekspansi
kerajaan Muslim mampu menyatukan kelompok-kelompok yang berbeda. Kedua, bahasa
Arab menjadi bahasa perantara untuk menyatukan orang-orang dari latar belakang
yang berbeda. Ketiga, Islam memerintahkan untuk mencari ilmu.
Bagi
para ilmuwan Muslim, matematika merupakan ilmu suci. Tidak hanya itu,
pembelajaran matematika juga merupakan perjalanan religius. Muhammad bin Musa
al-Khawarizmi merupakan salah satu ilmuwan matematika Muslim terbesar. Ia
adalah orang Persia yang hidup dari 780 sampai 850 M. Penggunaan sistem angka
India merupakan salah satu kontribusi terbesarnya. Bukan hanya angka India (1,
2, 3, 4, 5, ...), Al-Khawarizmi juga menambahkan angka nol (0). Ia memiliki
karya monumental yaitu Buku Ringkasan Kalkulasi dengan Melengkapi dan
Menyeimbangkan, yang menjelaskan bahwa aljabar dapat digunakan untuk
menyelesaikan masalah sehari-hari. Aljabar berasal dari kata al-jabr, yang
artinya ‘melengkapi’. Selain al-Khawarizmi, ada matematikawan hebat lainnya. Ia
adalah Umar Khayyam, yang berasal dari Persia, hidup dari 1048 sampai 1131 M.
Umar Khayyam menemukan metode untuk memecahkan masalah persaman aljabar yang
variabelnya kelipatan tiga. Melalui aljabar, pelajaran trigonometri dan
kalkulus dapat dikembangkan.
Rumus
dan metode yang dikembangkan matematikawan Muslim menjadi dasar untuk
penelitian dalam hal perbintangan. Para astronom dikumpulkan untuk mempelajari
teori kuno Ptolomeus (orang yang menyusun peta dunia yang meliputi benua Asia,
Eropa, dan Afrika). Aspek kunci gagasan Ptolomeus adalah geosentrisme (sebagai
pusat) alam semesta, bumi diam dan yang bergerak mengelilingi bumi adalah semua
benda langit. Teori tentang bumi diam ini mulai dipertanyakan ketika astronom
Muslim menyadari bahwa perhitungan Ptolomeus dari gerakan planet dan bintang
itu cacat sehingga perlu adanya koreksi. Menurut al-Biruni, hal tersebut
terjadi karena tidak memperhitungkan gerakan bumi. Perdebatan ini menjalar ke
Eropa melalui terjemahan Latin dari karya al-Majriti. Setelah gagasan astronomi
menyebar ke seluruh benua, Kopernikus dan Galileo mengembangkan teori sebagai
fakta. Seperti aljabar, astronomi juga mempunyai penerapan yang praktis. Astrolobe
adalah alat yang digunakan astronomi untuk menentukan garis lintang dengan
menggunakan bintang, ditemukan oleh orang Yunani kuno. Astrolobe digunakan
sampai 1700-an sebagai standar navigasi.
Seperti
halnya astronomi yang tumbuh dari matematika, begitu pula geografi yang
berkembang dari astronomi. Ahli geografi dari kekhalifahan Abbasiyah
menghasilkan kesimpulan yang akurat dengan memanfaatkan trigonometri dan geometri
bola. Mereka menghitung diameter bumi sebesar 12.728 kilometer. Peta Yunani
Kuno dikembangkan dan diperbaiki. Peta terbaik adalah buatan Muhammad
al-Idrisi, ia tinggal di Sisilia pada abad kedua belas. Al-Idrisi berhasil
menghasilkan peta dunia dengan akurasi dan detail, bukan hanya berupa gambar
geografi fisik, tepai juga berisi deskripsi budaya, politik, dan masyarakat
yang pernah didatangi penjajah. Pertengahan abad kesepuluh, al-Mas’udi, ahli
geografi dan sejarah, menuliskan pelayaran Muslim Iberia dari pelabuhan Delba
sampai wilayah yang belum dikenal, pada 889. Di sana, mereka melakukan
perdagangan dengan penduduk lokal dan kemudian kembali pulang. Al-Idrisi juga
menuliskan laporan tetntang pelayaran Muslim selama tiga puluh satu hari
melintasi Samudra Atlantik dan mendarat pada suatu pulau yang tidak dikenal. Satu
laporan terakhir tentang pelayaran melintasi Atlantik berasal dari Mali.
Telah
ada tradisi kedokteran di dunia Islam yang menekankan studi empiris (berdasarkan
dengan pengalaman) dan profesi klinis (berdasarkan pengamatan klinik). Kemajuan
Islam di bidang kedokteran dicapai dengan mempelajari semua yang telah
diwariskan dokter Yunani kuno, Galen. Menurut Galen, penyakit disebabkan karena
tidak seimbangnya cairan yang ada di dalam tubuh, seperti darah, empedu hitam,
empedu kuning, dan lendir. Muhammad bin Zakariya al-Razi memiliki pendapat
lain. Ia menyimpulkan bahwa penyakit fisik bukan hanya akibat dari keseimbangan
cairan, tetapi juga disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan
eksternal. Ia membuat obat khusus untuk penyakit umum seperti batuk, sakit
kepala, dan sembelit. Ia meyakini bahwa mengobati dan merawat orang sakit,
sebagai usaha yang mulia untuk membantu orang yang membutuhkan.
Ada
dokter besar lainya yaitu Ibnu Sina. Ia merumuskan teori melalui rangkaian
peristiwa sebab dan akibat, maka semua hal yang ada dalam tubuh bisa diketahui
dan dipahami. Ia menyimpulkan bahwa penyakit bisa menyebar luas melalui udara,
air, atau tanah dan penyakit itu berbeda-beda sehingga harus ada penanganan
khusus. Dalam karyanya, Aturan Pengobatan, ia menekankan bahwa obat harus diuji
dengan kondisi terkontrol. Karya ini mendapatkan popularitas dan kehormatan
yang luas. Di dalamnya terdapat deskripsi tentang bius anastesi, kanker payudara,
rabies, toksin, borok, penyakit ginjal, dan tuberkulosis. Rumah sakit yang
pertama kali muncul adalah di Bagdad, pada awal abad kesembilan belas. Terdapat
puluhan dokter dan perawat, serta dokter spesialis dan ahli bedah. Rumah sakit
tersebut membantu orang-oarang yang membutuhkan, gratis bagi yang tidak mampu.
Ibnu
al-Haytaham (965-1040 M) adalah salah satu ilmuwan yang berasal dari Irak. Awalnya,
ia bekerja di pemerintahan Abbasiyah sebagai pegawai negeri, tetapi di
meninggalkan pekerjaan tersebut dan bergabung dengan pusat intelektual di
Kairo, ibu kota Kerajaan Fatimiyyah. Ia menjadi tahanan setelah berselisih
dengan penguasa Fatimiyyah. Tetapi hal itu menghadirkan berkah baginya dan bagi
bidang fisika. Ibnu al-Haytham mempelajari cahaya. Salah satu gagasannya
tetntang cahaya bersumber dari Ptolomeus. Ia memiliki pendapat bahwa cahaya
adalah sinar yang dipancarkan dari mata, kemudian membentur objek, dan kembali
ke mata sehinnga orang bisa melihat. Ibnu Sina membedah mata di Persia untuk
memahami bagaimana cahaya melintasinya, begitu juga dengan Ibnu al-Haytham, dia
juga melakukan penelitian yang sama di Mesir. Setelah melakukan penelitian dan
eksperimen, Ibnu al-Haytham menulis buku ‘Buku tentang Optik’, di mana dala
buku tersebut Ibnu al-Haytham berpendapat bahwa cahaya terdiri dari sinar-sinar
yang bergerak lurus. Ia merancang sebuah Kamera Obskura yang terdiri dari kotak
kedap cahaya dengan satu lubang kecil yang tembus ke belakang. Ia juga berhasil
memadukan bidang optik dan astronomi dalam perhitungan kedalaman atmosfer bumi.
Setelah ia meninggal, para ilmuwan melanjutkan penemuannya.
Tumbuhlah
ilmu pengetahuan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan empiris. Fikih
berlaku dalam segala hal seperti hukum kriminal, cara shalat, makanan / minuman
halal, dsb. Abu Hanifah (699-767), salah satu ulama pertama yang mengenalkan
gagasan bahwa logika rasional harus berperan dalam ilmu fikih. Ahli hukum kedua
adalah Malik (711-795) yang berasal dari Mekah. Ia percaya bahwa perilaku
orang-orang yang tinggal di Madinah bisa
dipertimbangkan sebagai sumber hukum. Ahli hukum ketiga adalah Muhammad
al-Syafi’i Maliki (767-820). Ia mempelajari tradisi Hanafi di Irak dan tradisi
Maliki di Madinah. Ahli fikih yang terakhir adalah Ahmad bin Hanbal (780-855).
Ia cenderung lebih fokus pada hadis untuk membantu mengembangkan ilmu fikih.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, berkembanglah empat mahzab fikih, yaitu
Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Keempat mahzab tersebut merupakan
penafsiran yang berbeda tentang Islam yang semuanya mengarah pada tujuan untuk
menjalankan semurni mungkin. Studi hadis menjadi lebih menonjol pada era
Abbasiyah. Hadirlah seseorang yang menyadari ancaman akibat keraguan tentang
hadis, ia adalah Muhammad al-Bukhari (810-870). Al-Bukhari dengan cermat
meneliti kehidupan orang-orang yang meriwayatkan hadis. Setelah melakukan
penelitian, ia menetapkan ada lebih dari 7000 hadis yang dianggap asli.
Teologi
Islam didasarkan pada keyakinan akan keesaan Tuhan dan ketegasan pesan Nabi
Muhammad, di mana Qur’an sebagai firman Allah dan hadis sebagai petunjuk yang
bersifat ketuhanan. Pendekatan keagamaan baru timbul pada pertengahan abad
kedelapan. Dalam pandangan umat Muslim, penggunaan logika dan filsafat sama
derajatnya dengan Qur’an. Sebagian menyatakan bahwa logika dapat
mengesampingkan wahyu. Kelompok tersebut disebut “Mu’tazilah”, yang artinya
‘yang memisahkan diri’. Ahmad bin Hanbal adalah pemimpin kaum tradisionalis
pada 800-an, yang mendirikan mahzab Hanbali. Ia dianiaya khalifah al-Ma’mun,
pelindung utama ideologi Mu’tazilah, tetapi tetap tegas memilih penafsiran
literal (harfiah). Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111) adalah pemikir tradisional
terbesar. Ia menguasai banyak argumen teologis setelah mempelajari Mu’tazilah
dan Ash’ari. Karyanya membantu mengembalikan arus aliran Mu’tazilah yang mundur
dan juga dilupakan.
Syi’ah
adalah kelompok yang meyakini Ali dan keturunannya paling berhak menjadi
khalifah. Kaum Syi’ah menganut paham imamah, yaitu pemahaman bahwa keturunan
Ali-lah yang paling berhak menjadi khalifah. Di mana Ali sebagai imam pertama
kemudian Hasan dan Husein yang kedua dan ketiga. Mereka menyebut bahwa Abu
Bakar dan pendukungnya adalah perampas kekuasaan, sehingga hadis yang mereka
sampaikan tidak dapat dipercaya. Aisyah, istri Nabi, dan Abu Hurairah,
tetangganya memberitahukan ratusan hadis yang terdaftar di Shahih al-Bukhari
kepada kaum Syi’ah. Tetapi, bagi kaum Syi’ah, hadis tersebut tidak dapat
dipercaya karena adanya dukungan politisnya Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Cabang
utama Syi’ah dikenal sebagai Ithna’ashariyyah, yang artinya Imam Dua Belas,
karena mereka meyakini bahwa setelah Nabi Muhammad, ada dua belas iman. Menurut
mereka, imam terakhir adalah Muhammad al-Mahdi , yang bersembunyi saat ia
berusia lima tahun pada 941 M.
Dimulailah
periode yang dikenal sebagai “Gaib Kecil”. Tetapi, pada 941 M, al-Mahdi pergi
ke “Gaib Besar” sehingga komunikasi dengan imam tidak dimungkinkan. Kelompok
lainnya mempercayai bahwa hanya Tujuh Imam, yang disebut “Sab’iyyah”. Kelompok
tersebut sukses dalam bidang politik dibanding kelompok Dua Belas Imam. Kebangkitan
negara-negara Syi’ah Tujuh Imam di Arab Timur dan Mesir, terjadi pada abad
kesepuluh. Kelompok Syi’ah yang mempercayai tujuh imam dikenal sebagai
Zaidiyyah. Pada awal 1500-an, Syi’ah kembali menjadi kekuatan utama di dunia
Islam saat kebangkitan Kerajaan Safavid.
BAB
VI
PERGOLAKAN
Setelah
300 tahun, Islam menyebar dengan cepat di seluruh Timur Tengah, Afrika Utara,
dan Persia. Dari abad kesepuluh sampai abad ketiga belas, Islam selalu mendapat
serangan. Yang melakukan teror di tanah Islam adalah Syi’ah, Pasukan Salib
Eropa, dan gerombolan Mongol, hal ini menyebabkan sebagian orang percaya bahwa
akhir zaman sudah dekat. Kaum Syi’ah berpendapat bahwa kepemimpinan dunia Islam
adalah milik para imam yang berhubungan khusus dengan Tuhan. Menurut kelompok
Dua Belas Imam, saat di mana imam kedua belas menghilang, maka saat itulah
mereka menunggu dengan sabar sampai dia kembali. Berbeda dengan kelompok Dua
Belas Imam, kelompok Tujuh Imam yakin bahwa Ismail, Imam Ketujuh, pergi
bersembunyi untuk menghindari penangkapan dari kekuasaan Abbasiyah pada
pertengahan 700-an. Mereka meyakini bahwa Ismail terus hidup bersembunyi, yang
biasa disebut “Ismailiyah”.
Bani
Abbasiyah melakukan segala hal untuk membasmi ancaman dari dari kaum Ismaili.
Hal tersebut membuat kaum Ismaili menjadi jauh dari jangkauan Abbasiyah. Sekitar
900 M, kaum Ismaili siap untuk menyerang kekuatan Suni. Pada 903 M, kelompok
Ismaili menyerang Suriah, yang biasa disebut ‘Qaramita’. Mereka merebut
Damaskus dan mengalahkan pasukan Abbasiyah. Pada 906, kaum Qaramita membantai
20 ribu jamaah haji yang sedang menuju ke Mekah. Kaum Qaramita menyerbu Mekah
kemudian membantai penduduknnya, dan mencuri Hajar Aswad dari Kakbah yang
kemudian dipindahkan ke Bahrain sampai 952 M. Kaum Qaramita menolak Mekah
sebagai tempat untuk beribadah haji sehingga mereka menyerang jamaah haji dan
Kota Mekah.
Pada
909 M, kelompok Islamiyyah menyatakan kemunculan kembali seorang imam yang
berasal dari keturunan Ismail, yang bernama Ubaidillah atau “al-Mahdi”, yang
berarti ‘yang mendapat petunjuk atau penyelamat’. Ia mendirikan dinasti yang
bernama : Fatimiyyah. Pada 909, ia mendeklarasikan diri sebagai khalifah dan
menentang otoritas Abbasiyah. Sekitar 920-an, pengaruh Fatimiyyah meluas dengan
cepat, misalkan menaklukkan Sisilia, bergerak ke timur menuju Mesir, dan
menjadikan Afrika Utara di bawah kendali mereka. Pertengahan abad kesepuluh,
kekhalifahan Abbasiyah menjadi tidak berdaya. Hal tersebut dikarenakan
desentralisasi politik yang menyebabkan turunnya kekuatan khalifah. Pada 945,
Dinasti Persia berhasil menguasai Irak dan memerintah atas nama kekhalifahan.
Sedangkan Mesir dikuasai oleh dinasti independen dari Turki yang bernama
Ikhshidiyyah. Fatimiyyah mengirimkan sekitar 100 ribu tentara untuk melawan
Ikhshidiyyah di Mesir. Mereka mengalahkannya dengan sangat mudah. Kemudian
Fatimiyyah mendirikan kota baru yaitu al-Qahira (Kairo) sebagai ibu kota di
sepanjang tepi Sungai Nil. Pada 970 M, didirikanlah sebuah Universitas Al-Azhar
untuk menyebarkan keyakinan Ismailiyyah di Kalangan mayoritas Suni di Mesir.
Universitas tersebut didirikan di Kairo.
pada
996-1021, khalifah al-Hakim atau “Khalifah Gila” melakukan usaha untuk
menyebarkan Ismailiyyah kepada masyarakat. Ia dibenci oleh hampir semua
golongan karena memerintah atas kehendak sendiri. Ia memerintahkan untuk
menghancurkan gereja dan sinagoge yang ada di wilayah kekuasaannnya, termasuk
Gereja Holy Sepulchre, tempat Nabi Isa dikuburkan. Jaminan keselamatan gereja
yang telah dibuat oleh Umar pada 637 M diabaikan dan tetap menghancurkan gereja
tersebut. Kaum Muslim juga dilarang untuk shalat berjamaah. Kaum Suni dilarang
memasuki kota Jerussalem, begitu pula dengan Kristen dan Yahudi. Pada 1021 M,
kekuasaan Khalifah Gila ini berakhie saat ia pergi ke gurun dan menghilang.
Pada 1095 M, terjadi
konflik selama 200 tahun yang akan mengubah Eropa Kristen dan dunia. Muslim
secara mendasar. Perang Salib dimulai dari Jerussalem di Asia Tengah. Orang
Turki melakukan migrasi setelah suku-suku nomaden keluar dari Asia Tenggara
kemudian masuk ke dunia Islam. Pada 1037 M, didirikan sebuah kerajaan terbesar
yaitu Kerajaan Seljuk.Seljuk berperan sebagai pelindung kekhalifahan yang bertahan
pada kubu di Bagdad. Seljuk mampu menyeimbangkan Fatimiyyah dan mencegah perluasan
daerah pada abad kesebelas. Pada 1071, Seljuk menang dalam pertempuran melawan Byzantium
di Anatolia timur. Hal ini membuat Byzantium tidak dapat mempertahankan Anatolia
secara utuh. Alexios, kaisar Byzantium, menyadari bahwa pihaknya tidak mampu untuk
memerangi Turki sendiri. Ia meminta bantuan kepada Paus Urban II. Tetapi Paus Urban
tidak mau membantu Alexios dan melawan Turki.
Pada 1096 dan 1097, pasukan
Urban bergerak menuju Eropa Timur dari Perancis, Jerman, dan Italia. Kaisar Alexios
tidak mengizinkan pasukan Perang Salib masuk ke Konstantinopel, karena ia takut
mereka akan merampas seperti yang dilakukan di kota-kota sepanjang perjalanan. Pada
akhir 1907M, pasukan tiba di Antioch. Kerajaan Seljuk Raya mengalami perpecahan
sebelum Perang Salib. Tidak hanya Seljuk Raya, kota-kota di Suriah seperti Damaskus,
Aleppo, Antioch, dan Mosul, juga mengalami perpecahan dan kepala pemerintahannya
terlibat dalam perang sepanjang 1090M. Setelah pasukan Salib berhasil merebut kota,
seluruh penduduknya dibunuh. Para emir Muslim, berusaha agar tidak terlibat konflik
dengan pasukan Perang Salib. Pada 1099, Pasukan Perang Salib mencapai benteng luar
Jerussalem.
Sejak bertahun-tahun, kota
Jerussalem dikuasai Fatimiyyah dan Seljuk. Pada 15 Juli 1099, pasukan Perang
Salib berhasil memasuki kota dan merebutnya dari pasukan Islam. Dan akhirnya
Jerussalem berada di bawah kendali Kristen. Seluruh penduduknya dibantai. Mereka
juga menghancurkan masjid dan sinagoge. Kekhalifahan Abbasiyah tidak berdaya sedangkan
emir Turki, Irak, dan Persia terlibat dalam perang saudara. Awal 1100-an, Timur
dan Barat bergabung di Tanah Suci. Pada 1090-an, pasukan Perang Salib pergi ke pantai
Suriah menuju Jerussalem, kapal-kapal pedagang Italia melindungi mereka di Maditerania.
Pada pertengahan 1100-an,
gejolak datang dari Bagdad, Damaskus, atau Kairo. Perlawanan tersebut datang dari
seorang emir Turki, 'Imad ad-Din Zengi, penguasa Kota Mosul di Irak. Zengi berharap
dapat membangun persatuan Suriah. Imad ad-Din Zengi meninggal pada 1146 sehingga
yang mengambil alih perjuangan untuk menyatukan Timur Tengah adalah Nur ad-Din Zengi,
anaknya. Pada 1149, ia berhasil menaklukkan wilayah di sekitar Antioch. Pada 1154,
ia berhasil menjatuhkan emir Damaskus dengan bantuan penduduk setempat. Kemudian
pada 1164, ia mengirimkan pasukan ke Mesir demi persatuan Islam dalam melawan pasukan
Perang Salib.
Masyarakat Mesir, menyambut
reformasi Saladdin dan menjalin hubungan yang baik dengan Suriah. Orang Mesir dan
Suriah meyakini perang antara Zengi dan Saladdin tidak bisa dihindari. Pada 1174
M, Zengi meninggal dikarenakan sakit, sehingga Saladdin bisa datang ke Suriah tanpa
ada perlawanan. Dalam Perang Hattin yang terjadi pada 1187, pasukan Saladdin
berhasil mengalahkan pasukan Jerusalem. Sikap Saladdin yang mulia selalau
diingat oleh pasukan Kristen. Ia melindungi Kristen dan juga memperbolehkan
untuk ziarah. Setelah Saladdin meninggal, daerah kekuasaannya berkembang
menjadi Dinasti Ayubiyyah. Setelah pembebasan Jerusalem oleh Saladin, Genghis,
seorang panglima militer, ia mampu menyatukan berbagai suku Mongol di utara
Tiongkok.
Genghis
Khan dan bangsa Mongol telah berubah menjadi kerajaan dunia. Setelah sekitar
sepuluh tahun, akhirnya Bangsa Mongol nomaden mampu menaklukkan dan menguasai
beberapa wilayah di Tiongkok Utara. Denghis Khan, menguasai daratan dari Korea
sampai perbatasan dunia Islam di Persia. Bangsa Mongol adalah orang nomaden
penunggang kuda yang tidak berkuasa pada pertanian, tetapi mampu membangun
kerajaan dunia, yaitu kerajaan yang membentang dari Eropa Tengah ke Korea dan
perbatasan India. Kerajaan Khwarezmian adalah salah satu negara Islam yang
berbatasan dengan Kekaisaran Mongol. Kedatangna bangsa Mongol di negara Islam,
merupakan awal dari kehancuran kebudayaan Islam di Persia, Irak, dan Suriah. Mereka
telah menghancurkan Bhukhara. Mereka juga menghancurkan kota tua Balkh dengan
membuang naskah le sungai Oxus. Bukan hanya itu, mereka juga menghancurkan Iran
dan Afganistan. Pada 1222 M, kerajaan Khwarezmian hancur total karena konflik
yang terjadi. Genghis Khan memilih untuk kembali ke Mongolia dan akhirnya
meninggal pada 1225 M. Setelah Genghis Khan meninggal, ia digantikan oleh Ogedai,
anak Genghis.
Pada 1237 M, pasukan
Mongol melintasi Rusia dan masuk ke Hungaria dan Jerman. Kemudian mereka
meninggalkan Eropa dan kembali ke Mongolia setelah Ogedai meninggal pada 1241
M. Mongol menghabisi Persia dengan menyerang Hashashin. Hulagu telah
menghancurkan Benteng Alamut pada 1256 M. Khalifah al-Musta’sim tidak akan
menyerah dan menerima kekuasaan Mongol. Pada 10 Februari 1258, pasukan Hulagu
berhasil merebut ibu kota kekhalifahan. Mereka menghancurkan Rumah Hikmah yang
didirikan oleh al-Ma’mun. Buku-buku dan tinta, dibuang di Sungai Trigis. Karya
tentang matematika, ilmu pengetahuan, geografi, sejarah, teologi, dan
yurisprudensi telah hilang untuk selamanya. Hanya sebagian karya saja yang
tersisa, yaitu karya ilmuwan besar pada Zaman Keemasan seperti Ibnu al-Haytham,
al-Biruni, dan Ibnu Sina.
Hulagu juga menangkap
khalifah yang kemudian dibungkus dengan karpet dan diinjak-injak oleh
penunggang kuda Mongol sampai meninggal. Mongol tidak akan berhenti sampai di
Bagdad, Hulagu terus maju sampai ke Suriah. Pada 1260 M, Kesultanan Mamluk muda
memberhentikan Mongol di utara Palestina. Akhirnya mereka berhasil mengalahkan
Mongol.
BAB VII
AL-ANDALUSIA
Pada pertengahan abad
ketujuh, penaklukan di Afrika Utara oleh Bani Umayyah, melambat beberapa waktu.
Pada 710-an, pintu penaklukan terbuka kembali ketika pasukan Muslim menuju
Semenanjung Iberia. Bagi umat Kristen, kekalahan murni menunjukkan bahwa Tuhan
kecewa dengan aksi yang dilakukan oleh Visigoth, sehingga Dia mengirim penyerbu
sebagai hukuman. Visigoth terlibat perang dengan pasukan Muslim. Akhirnya,
kota-kota di wilayah Visigoth menyerak kepada pasukan Islam. Suku Arab yang
datang ke Andalusia kebanyakan dari kalangna petani, dari Yaman. Sehingga
mereka banyak bermukim di wilayah yang subur seperti Kordoba, Valencia, dan
Zaragoza.
Pada
750 M, Abdul ar-Rahman melarikan diri dari Damaskus ke Pasukan Abbasiyah. Pada
755 M, ia mendapatkan dukungan dari keluarga Umayyah di Andalusia. Muslim Arab,
Berber, dan Hispanik, bergabung menjadi satu untuk menciptakan budaya yang unuk
bagi Andalusia. Pada 912 sampai 961 merupakan punjak kejayaan bagi negara
Umayyah di Spanyol yang terjadi pada pemerintahan Abdul Rahman III. Sama
seperti al-Ma’mun dari Abbasiyah, Abdul Rahman III juga menyukai seni dan ilmu
pengetahuan. Terdapat lebih dari 600 perpustakaan yang ada di ibu kota Kordoba,
yang berisi lebih dari 400 ribu koleksi buku. Orang Eropa pergi ke Andalusi
karena ingin menjad terpelajar. Tetapi bagi penduduk Andalusia, keindahan dan
penekanan pada ilmu pengetahuan memberikan beberapa konsekuensi negatif.
Sulaiman
II berhasil mengalahkan anggota Bani Umayyah yang pasukannya berasal dari
Kastilian dan Berber. Hal ini menyebabkan terjadinya balas dendam pada tahun
berikutnya. Kata ta’ifa berasal dari Qu’an yang bertujuan untuk memperingatkan
kepada Muslim agar selalu menciptakan perdamaian antara pihak yang berselisih
paham. Ketika para raja Ta’ifa berperang, hasilnya sangat ironis bagi Islam di
Iberia. Satu-satunya yang menjadi pemenang adalah negara bagian Kristen yang
ada di utara. Dalam sejarah hitam Andalusia, orang Islam membayar orang Kristen
untuk melawan orang Islam lainnya. Kekuatan Kristen dapat mengancam negara
Taifa karena berada di tengah-tengah Iberia. Setelah sadar bahwa raja Taifa
tidak bisa melawan dan bertahan lagi, maka ia meminta bantuan dari dunia Islam
lainnya. Pertolongan datang dari Afrika yang dikenal Murabitun.
Gerakan Murabitun, didirikan di gurun Maroko yang
menghubungkan Afrika Utara dengan kerajaan-kerajaan kaya di Afrika Barat. Hampi
seluruh suku Berber bernama Islam menjelang abad kesebelas. Pada abad
kesebelas, gerakan Murabitun berkembang tanpa adanya penaklukkan. Gerakan ini
meluas dari Afrika Utara ke Ghana, di afrika Barat, menjelang 1180-an.
Murabitun mengirim 12 ribu tentara yang dipimpin oleh Yusuf bin Tashfin, pada
1086. Tetapi hal ini bukanlah penaklukkan.
Murabitun
menaklukkan Andalusia pada 1090 M. Penaklukkan tersebut dipimpin oleh Ibnu
Tashfin. Akhirnya negara Taifa menyerah kepada Murabitun dalam waktu sepuluh
tahun. Pada saat pertama kali masuk ke Andalusia, Murabitun mampu mengalahkan
pasukan Kristen. Tetapi setelah itu, Murabitun kalah dan yang menang adalah
Kristen. Jatuhnya Murabitun diawali dari Afrika Utara, tempat asal mereka.
Muncul gerakan baru yaitu Muwahhidun yang berarti monoteis. Sepanjang 1120-1130
suku-suku Berber bergabung dengan gerakan Muwahhidun. Dengan adanya Muwahhidun,
Islam menjadi bangkit. Sebagian besar pola dari Muwahhidun, sama dengan pola
Murabitun. Muwahhidun dan Murabitun sama-sama berasal dari Maroko. Muwahhidun
mengalami kemunduran setelah terjadi konflik antar keluarga yang saling
memperebutkan kekuasaan di Andalusia.
Setelah jatuhnya
Muwahhidun, Andalusia mengalami kekalahan. Umat Islam yang datang ke Granada,
hal itu menandakan bahwa akhir kekuasaan Islam yang terjadi di Semenanjung
Iberia. Saat Granada menempuh masa keemasan Andalusia, lingkungan politik
melemahkannya sehingga mengalami kehancuran. Golongan ulama Granada menyatakan
bahwa Muhammad XII adalah seorang pemberontak Tuhan. Hal tersebut menyebabkan
bertambahnya turun Islam di Semenanjung Iberia.
Pada masa kepemimpinan
Muhammad II, hanya menambah kesengsaraan bagi Granada. Pada 1486, Muhammad
ditangkap oleh Castilia dan ditahan. Pasa saat ia sedang ditahan, ayahnya
mengambil kembali mahkota Muhammad. Muhammad II akhirnya dilepaskan dari
penahanan karena bersumpah setia kepada Kerajaan Kristen. Granada merupakan
satu-satunya kota yang masih dikuasai oleh Muslim di Semenanjung Granada,
menjelang 1490 M. Spanyol mulai mendekati kota Garanda, menjelang keruntuhan
Granada pada 1490 dan 1491. Granada berpindah ke tangan Spanyol secara resmi
pada 1 Januari 1492.
Sejarah politik yang ada
di Andalusia berakhir pada 1492 M. Sekarang ini, umat Muslim kehilangan
beberapa kedudukan sosial karena penguasaan yang berbeda. Orang Kristen mengajak
orang Islam untuk berpindah agama menjadi Kristen. Bagi mereka yang mau
berpindah agama menjadi Kristen, maka mereka akan mendapatkan hadiah, emas,
kuda, dan barang-barang berharga lainnya. Hal ini menyebabkan banyak dari orang
Islam yang berpindah agama menjadi Kristen, pada 1492 M. Francisco Jimenez de
Cisneros melecehkan, menyiksa, dan menangkap bagi mereka yang tidak mau
berpindak agama Kristen. Muslim Granada tidak dapat menahan diri lagi. Mereka
menentang usaha-usaha de Cisneros.
Saat pemberontakan padam,
menjelang 1502, Kristen melarang Islam berada di Spanyol. Mereka diberi tiga
pilihan yaitu memilih untuk pergi dari Spanyol, pindah agama menjadi Kristen,
atau memilih untuk mati. Akhirnya, Muslim seluruh Spanyol memilih untuk pindah
agama menjadi Kristen. Tetapi setelah pindah agama Kristen, mereka tetap saja
hidup di bawah tanah. Mereka tetap hidup seperti Muslim rahasia di rumah mereka
sendiri.
Pada 1511, dekrit
kerajaan menyatakan bahwa menyembelih binatang berdasarkan hukum Isalm itu dilarang.
Pada 1513, bagi perempuan tidak boleh menutup muka. Merisco dilarang pergi ke
pemandian umum, dilarang untuk menutup pintu pada hari minggu untuk memastikan
bahwa tidak ada yang menjalankan ibadah Islam secara sembunyi-sembunyi. Apabila
ada prnikahan, maka pernikahan tersebut harus didatangi oleh orang Kristen lama
agar tidak melakukan pernikahan dengan hukum Islam.
Pada 1526, Merisco
dipaksa untuk berbicara menggunakan bahasa Castilis di manapun berada, karena
apabila berbicara menggunakan bahasa Arab termasuk perbuatan yang melanggar
hukum. Secara keseluruhan, mereka gagal dalam menghilangkan keyakinan tentang
Islam dari kebanyakan orang Merisco. Penduduk Merisco dipaksa untuk pergi ke
pantai karena mereka akan dibawa ke Afrika Utara dan seluruh desa Merisco
dikosongkan. Mereka diizinkan untuk membawa barang-barang mereka sebanyak
mungkin, tetapi Spanyol menyita tanah mereka.
Terjadi pemberontakan di
selatan Spanyol, dan pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan setelah Merisco
pergi. Terdapat laporan bahwa, ada orang Merisco yang berhasil mempertahankan
Islam di Spanyol secara sembunyi-sembunyi.
BAB VIII
TEPI
Setelah wafatnya Nabi,
umat Muslim memilih untuk tinggal di kota-kota sepanjang pantai Mediterania.
Dari kota tersebut, Islam mulai menyebar ke selatan melintasi Gurun Sahara. Mereka
melakukan penyebaran Islam dengan berdagang. Mali adalah kerajaan Islam yang
ada di Afrika Barat, yang didirikan oleh Sundiata Keita atau ‘Sang Raja Singa’,
pada 1200-an.
Kerajaan yang didirikan
oleh Sundiata di Afrika Barat tumbuh menjadi kerajaan yang paling kaya dan
paling kuat pada masa itu. Mali berada dalam keadaan makmur ketika Mansa Musa
berkuasa. Ia memerintah dari 1312 sampai 1337. Pada 1324 M, Mansa Musa
melakukan perjalanan haji ke Mekah. Rombongannya berangkat dari sabana Afrika
Barat yang diiringi oleh 60 ribu pengiring.
Raja ditemani oleh 12
ribu orang yang memakai jubah sutra mahal dan membawa dua kilogram emas yang
berasal dari tambang emas Mali. Unta-unta juga membawa tas yang berisikan pasir
emas yang nantinya dibagikan kepada masyarakat miskin. Saat tiba di Mesir,
gubernur lokal terkesan dengan raja. Mereka melihat bahwa raja sangat saleh,
tidak pernah melupakan shalat, dan menguasai Qur’an.
Pada 1320-an, orang Arab,
Persia, dan Andalusia pergi ke Mali bersama dengan Mansa Musa untuk membentuk
masyarakat Afrika dengan pengaruh nyata dari dunia Islam yang lainnya. Pusat
keilmuan baru bangkit di sabana Afrika Barat, setelah hancurnya Rumah Hikmah
Bagdad. Pusat keilmuan tersebut adalah Timbuktu, yang terletak di perbatasan
Gurun Sahara.
Tidak membutuhkan waktu
lama bagi penduduk yang ada di pantai Afrika Timur untuk mengenal Islam.
Seperti yang terjadi di Afrika Barat, Islam berkembang di sepanjang pantai
Samudra Hindia di Afrika melalui jalur perdagangan. Para pedagang yang berasal
dari Jazirah Arab, terutama wilayah Hadramaut di Yaman, mulai bertempat tinggal
di kota-kota yang berada di sepanjang pantai Afrika Timur setelah Yaman msuk
Islam.
Saat melakukan
perdagangan, para pedagang menggunakan Swahili, yang merupakan bahasa asli di
Afrika Timur. Menurut Ibnu Battuta, kota di sepanjang pantai bukan hanya
menjadi pusat perdagangan, tetapi juga menjadi pusat keagamaan. Afrika akhirnya menyebarkan Islam di Amerika
Utara dan Selatan. Ketika kolonialisme Eropa datang ke Dunia Baru, pada 1492,
berkembanglah kebutuhan akan tenaga kerja untuk membangun kolonial Eropa di
Amerika.
Mereka memperbudak
penduduknya sendiri tetapi gagal. Banyak sekali penduduk yang terkena penyakit
dari orang Eropa, yang menyebabkan meninggal. Kemudian koloni Eropa menjadikan
penduduk kulit hitam sebagai budak mereka. Penduduk dibawa paksa untuk bekerja
sebagai budak di Dunia Baru. Mereka bekerja di perkebunan di Karibia dan Amerika
Selatan.
Pada abad keenam belas,
sampai kesembilan belas, pemahaman tentang Islam di kalangan budak mulai
menghilang. Perbudakan yang terjadi selama berabad-abad, memberikan dampak bagi
budak Muslim di Amerika. Pada pertengahan 1800-an, di Amerika Serikat, hampir
tidak ada Muslim yang memahami tentang Islam. The Nation of Islam, kelompok
agama, yang bertujuan untuk memajukan masyarakat kulit hitam di Amerika.
Menjelang 1960, Malcolm X dan W.D. Muhammad memimpin ribuan orang Afrika dan
Amerika untuk kembali pada pemahaman Islam yang lebih umum.
Tiongkok tidak sepenuhnya
menerima Islam. Kaum Muslim masih menjadi minoritas di sana. Awal mula Islam di
Tiongkok yaitu pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Tetapi, Islam baru diterima
pada 700-an. Migrasi yang dilakukan umat Muslim ke Tiongkok, membuat jumlah
pemeluk Islam menjadi bertambah. Warga Tiongkok memiliki identitas : Hui. Hui
adalah grup etnis mayoritas Tiongkok, tetapi berbeda dalam identitas keagamaan.
Zheng He – Cheng Ho (1371-1433), Muslim Tiongkok yang terkenal, yang menjadi
penjajah terbesar. Ia berasal dari wilayah Yunan di Selatan.
Cheng Ho adalah simbol
Islam di Tiongkok : Tionghoa asli, Tetapi ia juga Muslim, dan tidak ada
pertentangn antara kedua identitas tersebut. Kehadiran bangsa Turki di dunia
Islam, mendesak kekuatan Islam untuk lebih jauh ke India. Tercatat bahwa yang
pertama kali memimpin ekspedisi militer ke India adalah Mahmud dari Ghazni
(997-1030).
Mahmud telah meletakkan
dasar-dasar Islam di India. Sejak 1206 sampai datangnya Mughal pada 1526,
Kesultanan Delhi memerintah sebagian dari India. Dinasti berikutnya adalah
Ghurid, yang meluaskan wilayah mereka ke India, dengan cara merebut Delhi pada
1192. Kesultanan Delhi menjaga India agar tetap terikat dengan dunia Islam,
meskipun dipisahkan oleh ribuan kilometer pegunungan tinggi di Himalaya dan
Hindu Kush.
Islam sudah ada sejak
awal 600-an, tetapi perlu adanya perlindungan entitas politik Islam untuk
menyebarkan Islam. Golongn Sufi pergi ke seluruh India untuk berdakwah. Ulama yang
berasal dari Arab dan Persia, mereka berkeliling untuk menyebarkan Islam agar
mendapat banyak pengikut. Islam mampu mendapatkan pengikut dari seluruh India,
melalui gabungan dari dakwah para ulama dan perdagangan yang dilakukan di
Gujarat dan Bengali.
Tetapi, jumlah pengikut
Islam, tidak pernah melampaui populasi Hindu. Pengaruh pedagang dan pendakwah,
semakin kuat ke arah timur, di Kepulauan Melayu. Sebelum peralihan masa, Buddha
dan Hindu telah berkuasa di Asia Tenggara. Pengaruh India ke wilayah ini, adalah
pengaruh dari Kerajaan Buddha Sriwijaya di Pulau Sumatra dan Kerajaan Medang di
Jawa.
Setelah Islam berada di
kalangan penduduk India, maka pedagang dan pendakwah menyebarkan Islam ke Asia
Tenggara. Raja-raja tertarik untuk masuk Islam karena faktor ekonomi yang
dihadirkan. Setelah para penguasa masuk Islam sekitar 1100-an, kerajaan Muslim
mulai muncul di kepulauan tersebut. Islam mulai menyebar melalui penguasa
Muslim. Pendakwah menyebarkan Islam kepada penduduk melalui cara yang sama
seperti yang dilakukan oleh Kesultanan Delhi.
Pendakwah di Asia
Tenggara, kebanyakan berasal dari pinggran Samudra Hindia yaitu Yaman. Yaman
merupakan pusat ajaran Syafi’i, sehingga mahzab fikih yang menonjol di Afrika
Timur, pesisir India, dan Asia Tenggara adalah Imam Syafi’i. Sebaliknya, India
utara menganut mahzab Hanafi yang terkenal di Persia dan Asia Tengah. Samudra
Pasai adalah kerajaan Islam pertama yang didirikan pada 1200-an. Waktu itu,
Marco Polo sedang mengunjungi dan melihat ciri-ciri Islam di kota pelabuhannya.
Di sekitar 1400 M, Islam
menyebar ke Timur sampai Kerajaan Malaka. Kerajaan ini, merupakan kerajaan
terpenting di wilayah tersebut karena Malaka berpengaruh pada wilayah
sekitarnya. Bahasa dan adat Melayu diterima seluruh kerajanan yang mengaitkan
seluruh wiyah seperti Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Identitas Melayu
berkaitan dengan identitas Islam, di mana ketika seseorang masuk Islam, maka
orang tersebut sudah ‘masuk Melayu’.
BAB IX
KELAHIRAN KEMBALI
Menurut Ibnu Khaldun,
sejarawan dan filsuf abad keempat belas, setiap dinasti memiliki jangka waktu
hidup yang alami. Tahun-tahun pertama dinasti diwarnai dengan pertumbuhan yang
terbuka atau bebas. Generasi kedua, pertumbuhannya mulai melambat. Kemudian
menjelang generasi ketiga, terjadi kehancuran dinasti.
Akibat dari serangan
Mongol, Turki melarikan diri dan mengungsi di daerah perbatasan dunia Islam.
Mereka dengan cepat bisa beradaptasi di mana saja, termasuk bekas kekuasaan
Byzantium. Seljuk telah mengalahkan Byzantium di Perang Manzikert pada 1071.
Sejak saat itulah, Antonio terbuka bagi penaklukan dan pemukiman bangsa Turki,
dan dia dikuasai oleh beberapa dinasti Turki yang ada di seluruh semenanjung.
Beylik atau negara-negara kecil , biasanya didirikan oleh pemimpin militer yang
disebut bey. Bey yang telah mengatur negara tentara kecil yang ada di pinggiran
Kekaisaran Byzantium bernama Osman. Osman mampu mengambil keuntungan dari
kelemahan Byzantium dan mengincar perluasan daerah ke wilayah Byzantium. Pada
1299, pendirian Ottoman (nama Turki untuk Kerajaan Osman) dilakukan. Kota-kota
Byzantium di Anatolia, merupakan pusat perkotaan yang mapan dengan dibenteni
pertahanan yang kuat.
Pada awal 1300-an,
orang-orng Byzantium disibukkan dengan kekacauan sipil di Balkan, sehingga
tidak mampu menahan Ottoman dalam meluaskan daerah mereka. Ottoman dengan
sangat cepat dan mudah meluaskan daerah kekuasaannya. Ottoman menyeberangi
Selat dardanella dan masuk ke Eropa untuk pertama kali pada 1350-an. Sultan
Orhan dan Murad I, anaknya, mampu menegakkan kekuasaan Ottoman di sebagian
Thrace dengan memanfaatkan perpecahan Byzantium. Periode terbaik dalam
perluasan wilayah Ottoman, terjadi pada zaman Bayezid (1389-1402) sultan
keempat. Ia memiliki nama julukan Yildrim yang berarti ‘halilintar’. Ia
memperluas wilayah di Eropa pada 1800-an dan menaklukkan Serbia, Bulgaria, dan
Yunani. Meskipun Ottoman tidak memiliki teknologi atau jumlah pasukan yang
banyak, tetapi Halilintar berhasil mengepung Konstantinopel. Ottoman merupakan
kerajaan terkuat di Eropa dan dunia Islam. Timur adalah pemimpin Mongol yang
menguasai Asia Tengah dan Persia. Ia ingin mengembalikan kekuasaan Mongol di
Anatolia dengan menghadai Ottoman.
Pada 1402, terjadi Perang
Ankara di mana dua pemimpin militer besar Beyezid dan Timur bertemu. Mongol
berhasil mengalahkan Ottoman pada perang tersebut. Halilintar tertangkap dan
dibawa ke iu kota kekuasaan Timur yaitu Samarkand. Kekaisaran Ottoman mengalami
perang saudara, setelah sebelas tahun. Anak Beyezid yang bernama, Isa, Musa,
Suleiman, dan Mehmet membangun pasukan dan saling berselisih di Eropa dan Asia.
Mereka ingin menjadi pewaris kerajaan ayahnya. Hal tersebut akan menjadi
masalah, sehingga Sultan Ahmad I merumuskan kebijakan resmi pada abad ketujuh
belas. Tetapi pada awal 1400-an, anak-anak sultan bertempur sampai mati. Mehmet
menjadi pemenang dan mampu menyatukan wilayah kerajaan di bawah kendalinya,
pada 1413. Setelah Mehmet menyatukan kekaisaran pada 1410-an, periode
dilanjutkan dengan sedikit rasa sakit akibat masa kosong di mana pemerintahan
tidak berfungsi.
Ottoman, di bawah
pimpinan Sultan Murad II, terus merampas wilayah Byzantium sehingga hanya
tersisa Konstantinopel dan sekitarnya. Murad gagal merebut Konstantinopel
karena benteng kota yang kuat. Akhirnya Mehmet II, anaknya menerima untuk menaklukkan
kota tersebut. Saat berusia sembilan belas tahun, Mehmet II naik tahta pada
1451. Mehmet mampu menguasai 6 bahasa asing yang digunakan di wilayah
kekuasaannya. Mehmet mengingatkan pemimpin Islam sebelumnya seperti, Harun
al-Rasyid, dan Saladdin, yang menguaai pengetahuan, kepemimpinan, serta
kecakapan dalam militer. Ada dua hal yang mengganggu pikiran Mehmet. Pertama,
ia belum berpengalaman, kedua, Konstantinopel.
Konstantinopel masih
menjadi kota yang sulit untuk diterobos. Kota ini dikelilingi oleh air, dan
daratannya dibentengi oleh Dinding Theodosian yang dibangun pada 400-an. Mehmed
perlu adanya tehnik dan pasukan yang baru agar bisa berhasil. Ia membangun
benteng di pinggirang Selat Bosphorus yang dibangun di seberang benteng Bayezid
I, kakek buyutnya. Dalam pertempuran ini, Mehmet mengerahkan semuanya. April
1453, pasukan Mehmet tiba di kota Konstantinopel. Setelah perjuangan yang
begitu luar biasa, akhirnya penaklukkan berhasil dilakukan. Pada 29 Mei 1453,
pasukan Islam akhirnya berhasil menaklukkan kota Konstantinopel tersebut. Mehmet
“Sang Penakluk”, menjadikan kota ini menjadi ibu kota pemerintahan.
Mehmet terus melakukan
perluasan wilayah Ottoman secara militer. Bendera Ottoman berkibar di Serbia,
Bosnia, Moldova, dan Albania. Perluasan wilayah militer dan ekonomi dilanjutkan
oleh penerusnya yaitu Sultan Beyezid II dan Salim I. Ottoman mengalahkan
Dinasti Safavid di Persia dan merampas Kesultanan Mamluk di Mesir dalam
pimpinan Salim I. Masa keemasan Ottoman pada masa Sultan Suleiman dari 1520
sampai 1566, tidak diragukan lagi. Suleiman mampu mengubah sistem hukum Ottoman
tanpa adanya saingan kekuatan politik, militer, dan ekonomi. Kekuasaan beralih
kepada Salim II, saat Suleiman meninggal pada 1566.
Asal mula Safavid sama
dengan Ottoman, hanya saja cara pandang dunia dan struktur keagamaannya yang
berbeda. Konflik antar keduanya membantu menentukan susunan keagamaan Timur
Tengah sampai sekarang. Persia memasuki periode anarkisme politik, setelah
kemunduran dan jatuhnya kerajaan Timur pada 1400-an. Perkembangan kekuatan
Safavid serta pandangan keagamaan pada akhir 1400-an, mendapatkan perlawanan
dari pangeran-pangeran Suni di Persia. Pada 1488, pemimpin Safavid terbunuh dan
digantikan oleh Ismail. Pada 1501, ia merebut kota Tabriz dan akan
menjadikannya sebagai ibu kota pemerintahannya. Pada 1514, Salim menyerbu
wilayah Safavid untuk menghancurkan Ismail dan pasukannya. Mereka bertemu di
Chaldiram, dekat ibu kota Tabriz. Tetapi, Salim tidak dapat merampas wilayah
Safavid. Kerajaan Safavid mencapai puncak kejayaan pada pimpinan Shah Abbas I,
cucunya, yang memerintah sejak 1587 sampai 1629.
Kerajaan Mughal didirikan
oleh Babur (1483-1530), penakluk Turki yang berasal dari Asia Tenggara. Ia
mengaku sebagai keturunan Genghis Khan dan Timur. Ia yakin bahwa ia akan
memimpin kerajaan besar. Tetapi, awal kepemimpinannya di Uzbekistan tidak
terlalu berhasil. Ia kehilangan kontrol atas kota utama Samarkand dan tanah
nenek moyangnya di Lembah Fergana, sehingga ia harus mengucilkan diri bersama
dengan sekelompok kecil pengikut. Ia menyerang kesultanan Delhi yang dipimpin
Dinasti Lodhi, pada 1542. Kerajaan Mughal memperluas wilayahnya ke seluruh anak
benua India, pada akhir abad keenam belas. Kerajaan Mughal menyatukan beragam
manusia dan tradisi, seperti yang dilakukan Kerajaan Ottoman.
Minar Sinan, seorang
murid arsitek dari Ottoman, pergi ke Kerajaan Mughal untuk ikut berpartisipasi
dalam pembangunan Taj Mahal. Pada masa Kaisar Akbar, susana pencampuran budaya
telah mencapai puncaknya. Akbar merumusakan sendiri teori keagamaan yang ia
sebut sebagai Din-e Ilahi atau “Agama Tuhan”. Tetapi, Din-e Ilahi tidak pernah
terkenal. Kemudian Mughal diteruskan oleh Aurangzeb, kaisar Mughal ketujuh yang
berkuasa di puncak Mughal. Ia mendapatkan gelar Alamgir, Penakluk Dunia, karena
kekuasaan militernya di seluruh dunia. Aurangzeb tidak setuju dengan
pembangunan Taj Mahal oleh ayahnya yaitu Shah Janan. Ia menganggap bahwa hal
tersebut pemborosan dan bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad.
Ottoman, Safavid, dan
Mughal dikenal sebagai Kerajaam Mesiu. Kerajaan yang pertama kali memanfaatkan
mesiu dan meriam adalah Kerajaan Ottoman, yang kemudian disusul oleh Safavid
dan Mughal. Kekhalifahan dipegang oleh Ottoman, tetapi para ulama menyetujui bahwa
setiap wilayah memiliki khalifah sendiri-sendiri. Ada beberapa surat yang
dikirimkan kepada Raja Mughal, dengan gelar khalifah, Amir al-Mu’minin yang
artinya ‘Pemimpin Mukminin’, dari sultan-sultan Ottoman. Yang paling terkenal
terjadi pada masa pemerintahan Abdul Hamid II, yang berasal dari Ottonom, pada
akhir abad kesembilan belas.
BAB X
KEMUNDURAN
Islam berasal dari Gurun
Arab yang menciptakan kerajaan-kerajaan paling kuat di dunia, pada abad ketujuh
belas. Bangkitnya kekuatan Islam di dunia ditandai dengan datangnya Kerajaan
Ottoman, Safavid, dan Mughal pada abad kelima belas dan keenam belas. Menjelang
1520-an, Ottoman berada di Eropa Tengah di Wina. Mereka telah menjadi kerajaan
utama di Eropa, meskipun tidak menguasai kota tersebut. Pada 1566, Ottoman
mengalami kemunduran yang terjadi pada akhir masa kekuasaan Sultan Suleiman.
Alasan utama dari kemunduran Ottoman adalah mereka tidak mampu mendapatkan
kemenangan di medan perang. Pasukan Ottoman, berhasil mencapai wilayah utara
sebelum musim gugur karena tradisi pengiriman pasukan tahunan dari Istanbul
setiap musim semi.
Pada 1529, pengepungan
Wina, pasukan Ottoman meninggalkan Istanbul dan berjalan melewati Balkan
sepanjang musim panas, dan sampai di luar tembok Wina pada akhir September,
tetapi mereka gagal untuk menguasai Wina. Ottoman dipaksa untuk menyerahkan
wilayah melalui perjanjian yang dilakukan untuk pertama kali, setelah perang
melawan Eropa. Perjanjian tersebut disebut Perjanjian Karlowitz. Ketidakmampuan
Ottoman untuk menang dalam militer, berkaitan dengan aspek kerajaan yang lain.
Ottoman adalah kerajaan militer. Operasi militer Ottoman memberikan pendapatan
besar dalam ekonomi dan politik, selama msa perkembangan 1300 sampai
pertengahan 1500-an. Sultan Ottoman diminta untuk memimpin pasukan dalam
pertempuran, mengurus pemerintahan, menetapkan hubungan dengan negara lain, dan
mempertahankan Islam.
Pada masa Salim II,
banyak sultan yang memilih menghabiskan waktu mereka dengan kemewahan istana
daripada terlibat dalam pemerintahan kerajaan itu sendiri. Mereka memilih wakil
untuk memimpin pasukan, sedangkan mereka sendiri lebih memilih untuk menikmati kenyamanan
di Istanbul. Sultan Ahmad II mengakhiri perebutan kedudukan atau kekuasaan
dengan para pangeran di Ottoman. Hasil dari perubahan yang terjadi membuat
Dinasti Ottoman tidak mampu untuk menghasilkan sultan yang pandai pada 1600 dan
1700-an. Masalah yang terjadi di Kerajaan Ottoman adalah berkaitan dengan
situasi Ekonomi di Eropa pada 1500-an. Ekonomi Ottoman tidak berdaya karena
tidak ada lagi perang atau penaklukkan yang menghasilkan barang rampasan dan kebangkitan Eropa Barat membuat Kerajaan
Ottoman menjadi melemah. Walaupun seperti itu, tetapi Kerajaan Ottoman masih
menjadi kerajaan terkemuka di Eropa dan Timur Tengah. Ketika para perdana
menteri mengerti bahwa era kspansi telah berakhir, maka hubungan tidak baik
antara Ottoman dengan Eropa mulai memudar. Ottoman kehilangan wilayah yang di
Eropa, pada akhir abad kedelapan belas. Hal ini sangat menguntungkan bagi
Kristen Eropa.
Kerajaan Ottoman harus
melakukan reformasi pada 1800, agar bisa tetap bertahan. Mahmud II adalah
sultan pertama yang melakukan reformasi. Ia menyusun kembali pemerintahan
Ottoman menjadi bergaya Eropa. Reformasi dilanjutkan dan dipercepat oleh
Abdulmajid I dan Abdulaziz. Mereka adalah anak dari Sultan Mahmud. Masa
kekuasaan Abdulmajid disebut sebagai Tanzimat, yang menggunakan bahasa Turki
untuk reorganisasi. Tanzimat memberikan perubahan yang mendasar dalam
melaksanakan pemerintahan Ottoman secara hukum. Tanzimat yang berlangsung
sampai 1876, gagal untuk memperlambat kemunduran negara Ottoman.
Seorang pemimpin yang
cakap seperti Abdulhamid sangat dibutuhkan saat ia naik tahta. Ia berjanji
untuk meneruskan reformasi Tanzimat liberal, tetapi ia membawa kerajaan menuju
arah yang baru. Ia berusaha untuk mengembalikan kekuatan tradisional yang
dimiliki kesultanan. Pan-Islamisme sangat didukung karena berharap dapat memberikan
energi baru ke dalam pergerakan Ottoman. Abdulhamid mengadakan serangkaian
rencana untuk mengembalikan bentuk Islam ortodoks yang telah hilang, sambil
berharap untuk menyatukan semua Muslim dalam gagasan pan-Islam. Tujuan
pan-Islamisme yang dilakukan Abdulhamid sesuai dengan sudut pandang non-sekuler
Tanzimat. Reformasi yang dilakukan dan bertujuan memperkuat kerajaan terus
berlangsung.
Abdulhamid tidak mampu
menahan penyebaran liberalisme dan sekulerisme di wilayah kekuasaannya meskipun
ia sudah berusaha melakukan perubahan dengan mempertahankan bentuk Islam dan
monarki. Abdulhamid diberhentikan pada 1909, oleh perkumpulan rahasia yaitu
Turki Muda. Ia berhasil mengakhiri kekuasaan Abdulhamid dan pemerintahannya. Tetapi
mereka tidak mengakhiri kesultanan, dan tiga puluh tahun berikutnya dua sultan
masih memimpin. Sehingga kekuasaan jatuh ke tangan Turki Muda.
Bentuk kerajaan yang
terpusat, mulai terurai setelah puncak kekuasaan Mughal di India. Pada 1707,
Azam Shah dibunuh oleh Bahadur Shah, saudara tirinya. Ia hanya berkuasa selama
tiga bulan saja. Kemudian Bahadur hanya memimpin selama lima tahun sebelum
kematiannya. Dalam dua belas tahun setelah Aurangzeb, ada lima raja yang
berkuasa. Ketidakstabilan merajalela ketika kerajaan tercerai menjadi negara
merdeka sepanjang 1700-an. Pashtun di utara, mampu mendirikan kerajaan yang
akan berkembang menjadi negara Afganistan modern. Menjelang pertengahan
1700-an, Maratha berhasil menaklukkan
sebagian besar India utara dan tengah. Pada abad kedelapan belas,
negara-negara di India mengalami jatuh-bangun dalam kekuasaan dan Inggris masuk
di tengah keributan itu. British East India Company bangkit menjadi kekuatan
politik dengan sistem pemerintahan, militer, ekonomi, dan tujuan politiknya
sendiri, pada akhir abad kedelapan belas. East India Company, tidak memiliki
kedaulatan yang nyata dan hanya menjalankan kendali melalui penguasa lokal.
Sejak abad keenam belas,
Pantai Mediterania di Afrika Utara menjadi wilayah Ottoman. Tradisi penyerangan
dan pertahanan muncul di Mediterania terus tumbuh. Eropa menganggap Afrika
Utara sebagai perampok, sedangkan pelaut Islam menganggap dirinya sebagai
pembela Islam dan menganggap Eropa sebagai bangsa gila perang yang tidak
berbudaya. Eropa berhasil mengalahkan Afrika Utara dengan cara mengebom
kota-kota utama seperti Aljazair dan Tripoli. Tidak membutuhkan waktu yang
lama, akhirnya Afrika Utara jatuh ke tangan Eropa. Pada 1830, Prancis menyerang
Aljazair dan wilayah sekitarnya. Ratusan ribu orang Prancis pindah ke Aljazair,
kemudian mereka menguasai ekonomi dan budaya lokal. Pada 1881, Tunisia juga
ditaklukkan.
Pada 1798, Napoleon
menyerang daerah kekuasaan Ottoman untuk melindungi Prancis dan menghancurkan
perdagangan Inggris di wilayah tersebut. Tetapi, usaha penyerangan tersebut
gagal. Pada akhir 1800-an, Prancis masuk ke pedalaman. Eropa merampas kota-kota
besar yang menjadi pusat pengetahuan, salah satunya adalah Timbuktu. Oman
adalah negara yang berada di sepanjang pantai tenggara Arab. Sejak awal
1700-an, Oman mengendalikan kerajaan maritim di Afrika Timur. Oman mengawasi
perdagangan pantai dan menyelipkan pengaruh besar. Pada 1856, ketika terjadi
krisis pergantian pemimpin, Inggris memaksa agar Oman dan Zanzibar pisah
menjadi dua negara dan kemudian melemahkan keduanya. Inggris juga melarang
adanya perdagangan budak di daratan. Hal ini menyebabkan semakin melemahnya
Islam di Afrika Timur.
Rusia berperan dalam
penaklukkan wilayah Islam di Asia Tengah. Salah satunya adalah Tatar Islam di
wilayah Vilga. Tatar muncul sebagai kekuatan ekonomi dan menjadi perantara
dalam perdagangan Kristen dan Rusia. Rusia merampas wilayah-wilayah Asia Tengah
dengan memanfaatkan ikatan ekonomi yang ada, pada 1800-an. Rusia menaklukkan
seluruh wilayah dari Turki sampai Khurasan pada akhir abad tersebut. Rusia dan
Inggris memberikan pengaruh yang besar bagi negara Persia, meskipun keduanya
tidak bisa menguasai negara tersebut. Untuk memperluas peluang perdagangan,
penjajah komersial menggunakan kekuatan militer.
BAB XI
GAGASAN LAMA DAN BARU
Kebanyakan umat Muslim
menganggap bahwa bukti dari kebenaran Islam adalah catatan sejarah dan sifatnya
yang mengagumkan. Tetapi, kemunduran peradaban Islam dan penaklukkan yang
dilakukan oleh Eropa bisa menjadi masalah teologis. Para cendekiawan Muslim, menjawab
pertanyaan tersebut untuk mengembalikan masa kejayaan dengan menghidupkan Islam
kembali.
Kota-kota yang pernah
menjadi pusat kehidupan sosial dan politik Islam, berfungsi sebagai tempat
pertemuan umat Islam dengan kelompok Eropa pasca-Pencerahan. Turis, pegawai
pemerintahan, dan imam Kristen Eropa, berbaur dengan penduduk sipil Islam,
padahal sudah jelas bahwa penduduk Islam mudah terpengaruh dengan budaya Barat.
Yang menarik adalah
mereka mengambil budaya Barat, tetapi jarang sekali mengambil budaya Arab. Bagi
mereka, mengambil budaya dan norma Barat demi meniru kekuatan penjajah adalah
hal yang wajar. Selain budaya dan norma, terjadilah juga pengambilan gagasan Barat
tentang politik dan pemerintahan.
Apabila bangsa Arab ingin
menegakkan masa kejayaan, maka mereka harus bersatu sebagai bangsa Arab, bukan
bangsa Muslim. Muhammad bin Abdul Wahhab melakukan usaha untuk membangkitkan
Islam tradisional. Ia berasal dari sebuah suku yang berada di gurun pasir
Jazirah Arab. Ia menganut tradisi Hanbali dan Ibnu Taymiyyah, yang menekankan
keungguluan tradisi kenabian.
Abdul Wahhab dan
pengikutnya berpendapat bahwa sebagian besar umat Muslim sudah tidak beriman
lagi, pada 600-an. Untuk menyelamatkan Islam, mereka harus kembali pada bentuk
Islam yang murni seperti yang dijalankan pada awal Islam yang biasa disebut
kaum ‘salaf’ yaitu “Kaum Pendahulu”.
Abdul Wahhid memiliki
pengikut yang bernama Muhammad Ibnu Sa’ud. Ia adalah pemimpin komunitas kecil
di Gurun Arab.Cukup sulit untuk mewujudkan gerakan Abdul Wahhab karena
membutuhkan waktu yang berabad-abad. Salah satu ulama yang khawatir akan
perpecahan umat Islam adalah Shah Waliullah 1703-1762). Umat Islam memikirkan
Universitas Al-Azhar di Kairo setelah diubah menjadi sekolah Suni oleh Saladdin,
pada abad kedua belas.
Hasan al-Banna, seorang
guru sekolah Mesir, berusaha menyesuaikan modernisasi Barat dengan nilai Islam
tradisional. Sebuah organisasi yang didirikannya yaitu Ikhwanul Muslimin, yang
mendirikan sekolah, rumah sakit, dan organisasi kesejahteraan sosial. Yang akan menjadi pemimpin tatanan politik
baru di Timur Tengah bukanlah nasionalisme Arab atau Turki. Archduke Franz Ferdinand
yang berasal dari Austria-Hungaria, dibunuh di Sarajevo pada 1914. Pemerintah
Ottoman dikenal sebagai Tiga Pasha, di mana dipimpin oleh tiga tokoh Turki Muda
yang mengikuti perang di pihak Jerman melawan Inggris, Prancis, dan Rusia.
Ottoman tidak berada dalam keadaan yang menguntungkan karena militernya sudah
ketinggalan zaman dan kurang dalam kepemimpinan yang efektif.
Inggris menjanjikan
kepada Ottoman, tentang sebuah kerajaan Arab bersatu di Jazirah Arab dan Bulan
Sabit Subur sebagai imbalan untuk dukungan militer yang telah diberikan. Tetapi
Inggris tidak akan akan membiarkan pribumi Muslim berkuasa. Arthur Balfour, Menteri
luar negeri kerajaan Inggris, mengirim surat kepada Baron Rotshchild, pada
1917. Isi dari surat tersebut adalah menjanjikan dukungan pendirian ‘rumah
nasional bagi orang Yahudi’ di Palestina. Deklarasi Balfour menjanjikan
dukungan, tetapi berlawanan dengan perjanjian awal.
Inggris, Prancis, Italia,
dan Yunani, berhasil menduduki Anatolia setelah terjadi perang. Mustafa Kemal,
perwira tentara ottoman, mengumpulkan rekan-rekan seangsanya untuk melawan
penduduk asing. Pada 1919 dan 1922, ia berhasil mengusir penjajah. Mustafa
mengumumkan pembentukan negara baru yaitu Turki. Maksud dari pembentukan negara
baru tersebut untuk menggantikan Kerajaan Ottoman. Pada 623, kesultanan Ottoman
dihapuskan karena pada saat itu Oman mulai mendirikan Turki. Kemal mendapatkan
julukan “Ataturk” yang berarti ‘Bapak Bangsa Turki’.
Ataturk menyampaikan
bahwa Turki tidak lagi berkaitan dengan dunia Islam. Tidak ada lagi ruang untuk
berhubungan dengan orang Islam di Turki.
Semua yang berada di wilayah Turki seperti bangsa Yunani, Arab, Kurdi, dan
Amerika, ditindas oleh pemerintahan baru. Batas wilayah Irak dibagi menjadi
tiga bagian yaitu Suni Arab, Suni Kurdi, dan Syi’ah Arab, yang masing-masing
bagiannya adalah sepertiga dari seluruh penduduknya.
Pada 1848, populasi
Yahudi di palestina sangat besar, sehingga mereka mendirikan satu negara baru
yaitu Israel. Antara 1948 dan 1949, lebih dari 700 ribu Arab Musli dan Kristen,
diusir oleh Israel dan akhirnya mereka mengungsi di Yordania, Mesir, Suriah,
dan Lebanon. Pengusiran tersebut biasa disebut Nkba atau Katastropi, yang
menjadi bencana. Pada akhir 1800-an, Kongres Nasioanl India untuk mendorong
kekuatan politik yang lebih besar dalam menghadapi penduduk Inggris. Pada awal
1900-an, gerakan kemerdekaan India menimbulkan suatu masalah bagi umat islam.
Mohandas Gandhi, salah
satu pemimpin Kongres Nasioanl India, tidak mendukung negara Islam merdeka di
India. Karena ia menganggap apabila Islam merdeka di India, maka akan
melemahkan India secara keseluruhan. Umat Islam menjadi minoritas di India
sehingga dipimpin oleh Kongres Nasional India. Pada abad kedua puluh adalaha
saksi kemerdekaan yang dicapai oleh negara-bangsa Islam yang ada di seluruh
dunia.
Sedangkan pada 1960-an,
adalah saksi kemerdekaan negara-negara yang ada di sepanjang su-Sahara Afrika
yang terdiri atas Nigeria, Mali, Mauritania, Kenya, dan Tanzania. Indonesia
berdiri pada 1949, setelah perang panjang melawan Belanda. Pada 1963, Inggris
menguasai wilayah Semenanjung Malaka dan Pulau Borneo. Islam hidup bebas dari
kontrol Eropa sepanjang 1900-an.
Dunia Islam akhirnya
mampu untuk mengatasi kekuatan politik yang mengancan Islam. Pada abad kesebela
dan kedua belas, negara-negara Kristen bangkit untuk menyatukan Iberia dan
Afrika Utara. Berbagai negara Islam yang baru merdeka, tidak dapat melihat
kejayaan masa lalu dan menciptakannya kembali pada abad kedua puluh. Pandangan
mereka adalah sekuler dan nasionalis.
Dunia Arab mengadpsi dan
nasionalisme untuk menciptakan negara-negara yang kuat, dengan pdipimpin Mesir.
Negara Arab Saudi adalah negara yang berbentuk monarki absolut yang mirip
dengan suku Arab pada masa lalu. Dunia Islam harus disatukan antara masa lalu
dengan masa kekinian yang didominasi paham sekuler. Ada kaum tradisionalis yang
menuntuk dunia Islam untuk kembali ke masa lalu.
Peristiwa Musim Mesi yang
terjadi antara Arab dan pergolakan di Mesir, Tunisia, dan Suriah, menambah
kejelasan bahwa adanya ketidakcocokan antara kedua belah pihak yang sedang
bersaing. Cara menyelesaikan permasalahan
tersebut akan menentukan arah dunia Islam dalam waktu mendatang. Mereka akan
menentukan era baru dunia Islam. di mana dunia Islam adalah dunia yang tidak
bisa dipisahkan dari 1400 tahun sejarah Islam sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar